Tidak semua garis pantai mengalami penurunan tanah. Di Swedia dan Finlandia, permukaan tanah yang justru makin naik membuat air laut di beberapa bagian pantainya tampak makin surut.
Tanah di wilayah-wilayah tersebut masih terus terangkat akibat efek pelepasan beban es purba setelah Zaman Es terakhir dan kecepatan naiknya tanah ini jauh lebih cepat daripada kenaikan air laut.
Meskipun sebagian penyebab amblesnya tanah terjadi secara alami, penggunaan air tanah adalah salah satu faktor yang dapat dikendalikan langsung oleh pemerintah dan masyarakat.
Baca juga: Cegah Bencana Iklim, Kota-Kota di Dunia Mulai Beralih ke Solusi Berbasis Alam
"Pengelolaan air tanah yang lebih baik, aturan penyedotan yang lebih ketat, atau pengisian kembali cadangan air bawah tanah setidaknya bisa memperlambat laju penurunan tanah, dan dalam beberapa kasus bahkan dapat menghentikannya," kata Florian Seitz, Profesor Geodetik Geodinamika dan Direktur Institut Penelitian Geodesi Jerman di TUM (DGFI-TUM).
Tokyo menjadi contoh nyata bagaimana aturan pemerintah bisa menekan masalah ini. Kota ini dulunya mengalami penurunan tanah lebih dari 10 sentimeter per tahun, bahkan titik terparahnya sempat tenggelam sekitar 24 sentimeter per tahun.
Tindakan tegas dari pemerintah serta penyediaan sumber air alternatif akhirnya berhasil menurunkan angka penurunan tanah tersebut secara drastis.
Langkah serupa juga dilakukan di wilayah Harris-Galveston di Texas, tempat penyedotan air tanah secara besar-besaran pernah menjadi penyebab utama amblesnya tanah.
Pemerintah setempat membentuk Badan Penurunan Tanah Harris-Galveston pada tahun 1975 untuk mengatur pemakaian air tanah, mendorong penggunaan sumber air alternatif, serta mengampanyekan penghematan air.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya