Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun

Kompas.com, 3 September 2026, 16:01 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Laporan baru dari Apparel Impact Institute (Aii) memperkirakan bahwa emisi dari sektor fashion kembali meningkat selama dua tahun berturut-turut, dari 2023 hingga 2024 sehingga jejak karbonnya melonjak 13,8 persen hanya dalam waktu dua tahun.

Melansir Edie, Selasa (1/9/2026) dari tahun 2023 hingga 2024, emisi di sektor pakaian naik 6,2 persen menjadi sedikit di atas satu gigaton setara karbon dioksida (CO2). Kenaikan ini menyusul lonjakan sebesar 7,5 persen pada tahun sebelumnya.

Data terbaru ini diungkapkan dalam laporan tahunan Aii bertajuk Taking Stock of Progress Against the Roadmap to Net Zero 2026 yang terbit 1 September.

Laporan yang dipublikasikan setiap tahun ini memantau sejauh mana sektor pakaian telah berupaya mencapai target pemangkasan emisi sebesar 45 persen pada tahun 2030, dibandingkan dengan tingkat emisi pada tahun 2019.

Target ini bertujuan untuk menjaga agar dampak iklim dari industri fashion tetap terkendali dan sejalan dengan Kesepakatan Paris. Menurut laporan tersebut, hingga Juni tahun ini, lebih dari 700 perusahaan di industri pakaian telah berkomitmen atau memvalidasi target pemangkasan emisi mereka melalui Science-Based Targets initiative (SBTi).

Baca juga: Industri Pakaian Disebut Terlalu Lamban Kurangi Emisi Karbon

Angka ini meningkat dari sekitar 600 perusahaan pada tahun sebelumnya, dan jauh melesat dibanding sekitar 12 perusahaan pada tahun 2019.

Penyebab utama kenaikan emisi baru-baru ini adalah melonjaknya produksi bahan serat pakaian, menurut laporan tersebut. Laporan itu secara khusus menyoroti ketergantungan industri yang semakin tinggi pada bahan poliester berbahan dasar minyak bumi atau fosil.

"Oleh karena itu, mengurangi emisi di industri pakaian memerlukan tindakan di kedua sisi yakni menekan tingkat karbon dari produksi dan manufaktur bahan, sekaligus mengendalikan pertumbuhan jumlah produksi bahan yang bisa merusak semua kemajuan tersebut," tulis laporan tersebut.

Pasalnya, jika perusahaan-perusahaan pakaian terus berjalan dengan tren saat ini, total emisi diperkirakan akan melesat hingga 1,277 gigaton pada tahun 2030.

Aii mencatat bahwa bagian terbesar emisi (51 persen) berasal dari proses pembuatan dan penyelesaian bahan kain, yang menghasilkan 512,66 megaton CO2.

Produksi bahan baku dan pengolahan awal menyumbang 26 persen dari total jejak karbon, sementara pengolahan tahap menengah serta pembuatan dan perakitan produk akhir masing-masing menyumbang 14,5 persen dan 8,5 persen.

Hambatan menuju bebas emisi

Penulis laporan menekankan bahwa hambatan-hambatan utama yang diidentifikasi sejak awal masih menjadi ganjalan besar bagi industri fashion.

Hambatan-hambatan tersebut meliputi terbatasnya akses pendanaan bagi produsen untuk berinvestasi pada solusi energi bersih, kurangnya insentif bagi merek pakaian untuk membeli dan berinvestasi berdasarkan target iklim jangka panjang.

Baca juga: Jejak Karbon Fast Fashion Bisa Dikurangi di Seluruh Siklus, Begini Caranya

Selain itu juga akses listrik terbarukan dan pemanas rendah karbon yang terbatas di negara-negara pusat manufaktur utama.

Hambatan lain adalah bahan ramah lingkungan yang lebih mahal atau kualitasnya masih di bawah bahan konvensional. Sementara bahan inovasi masa depan yang berpotensi bagus masih menghadapi kendala biaya tinggi dan kualitas yang sama.

Dan tak kalah penting, model bisnis ramah lingkungan jumlahnya masih sangat terbatas, meskipun minat masyarakat makin naik.

Kemajuan di sektor fashion

Meskipun kenaikan emisi tahunan ini mengkhawatirkan dan menekan para pelaku industri untuk memangkas karbon lebih cepat di tahun-tahun mendatang, laporan ini juga mencatat beberapa kisah sukses yang patut ditiru.

Sebagai contoh, H&M Group berhasil memangkas emisi karbon tidak langsungnya (Scope 3) lebih dari sepertiga dari tahun 2019 hingga 2025.

Dengan komitmen untuk menghapus seluruh penggunaan mesin pemanas berbahan bakar batu bara di rantai pasokannya pada akhir tahun ini, perusahaan telah memangkas jumlah pabrik pemasok yang memakai pemanas batu bara dari 118 pabrik pada tahun 2022 menjadi tersisa 10 pabrik pada akhir 2025.

Sementara itu, Inditex yang merupakan pemilik merek Zara dan Massimo Dutti berhasil mengurangi emisi dari barang dan jasa yang dibelinya sebesar 16 persen dari tahun 2018 hingga tahun fiskal 2025.

Keberhasilan ini dicapai karena mereka berfokus pada penggunaan serat bahan yang ramah lingkungan. Kini, hampir 90 persen serat yang digunakan Inditex tergolong berdampak rendah bagi lingkungan, termasuk 47 persen di antaranya yang dibuat menggunakan bahan hasil daur ulang.

Berdasarkan keberhasilan tersebut, Aii mengidentifikasi empat langkah kunci untuk mempercepat kemajuan pemangkasan emisi.

Langkah pertama adalah mengalihkan komitmen menjadi tindakan nyata di tingkat pabrik. Hal ini dilakukan dengan membuat rencana proyek dan tenggat waktu yang jelas, sehingga target emisi yang besar bisa diubah menjadi pengurangan karbon yang nyata.

Langkah kedua adalah mendanai dan mendukung aksi para pabrik. Langkah ini memastikan beban biaya dan operasional ditanggung bersama di sepanjang rantai produksi, contohnya dengan memberikan kontrak pembelian jangka panjang kepada pihak pabrik.

Baca juga: Larangan Pemusnahan Pakaian Tak Terjual Resmi Berlaku di Uni Eropa

Langkah ketiga adalah mengukur, meniru, dan memperluas proyek yang berhasil. Dengan begitu, uji coba yang sukses bisa dijadikan standar praktik industri secara luas, bukan sekadar proyek sekali jalan.

Langkah terakhir, laporan tersebut menekankan pentingnya menurunkan jumlah emisi secara mutlak sambil tetap mengendalikan pertumbuhan produksi, bukan sekadar membayar kompensasi emisi. Artinya, industri harus meningkatkan efisiensi, mengurangi limbah, beralih ke bahan ramah lingkungan, dan menerapkan model circular economy, bersamaan dengan transisi pabrik meninggalkan energi berbahan bakar fosil.

"Energi terbarukan dan elektrifikasi adalah bagian penting dari aksi iklim global. Kemajuan industri fashion dalam memperluas teknologi efisiensi dan elektrifikasi, serta menyalurkan modal secara lebih efektif, dapat menjadi contoh peta jalan bagi industri lain," ujar Chief Impact Officer Aii, Kurt Kipka.

"Menjelang konferensi iklim COP31, harapan kami adalah industri dan pemerintah menyadari betapa pentingnya solusi energi bersih dan pemanas bersih untuk mendukung pemangkasan emisi di sektor ini," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Pemerintah
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pemerintah
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
LSM/Figur
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Pemerintah
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau