KOMPAS.com - Spesies nyamuk yang dapat menyebarkan penyakit tropis ditemukan berkembang biak di perumahan warga London Timur. Para ahli memperingatkan bahwa pemanasan iklim yang makin cepat akan memicu semakin banyaknya serangan nyamuk invasif tersebut.
Melansir Guardian, Kamis (3/9/2026) ini adalah pertama kalinya spesies tersebut terbukti berkembang biak di Inggris, serta penemuan keempat kalinya nyamuk tersebut terdeteksi di negara itu.
Nyamuk Aedes aegypti, yang biasanya hidup di daerah tropis dan subtropis, dapat menularkan demam berdarah, chikungunya, dan virus Zika di negara-negara tempat penyakit tersebut beredar.
Meski penyakit-penyakit ini jarang berakibat fatal, dampaknya dapat memicu komplikasi serius salah satunya virus Zika yang berbahaya bagi ibu hamil dan janinnya.
Baca juga: Kelestarian Hutan Tropis Bergantung pada Aktivitas Mamalia Besar
Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) menyatakan bahwa risiko bagi masyarakat saat ini masih rendah, dan belum ada bukti bahwa nyamuk di London Timur tersebut telah menular pada manusia.
Penemuan awal ini dilaporkan melalui program pemantauan nyamuk milik UKHSA. Badan tersebut menyatakan bahwa spesies ini kemungkinan masuk ke Inggris melalui kendaraan, barang bawaan, atau tanaman impor. Jika menemukan suhu udara yang cocok, nyamuk tersebut bisa bertahan hidup.
Meskipun terbukti sempat berkembang biak, pihak UKHSA menegaskan bahwa spesies nyamuk ini belum berkembang luas di Inggris. Mereka tidak dapat bertahan hidup lama di cuaca khas Inggris yang cenderung terlalu dingin.
Namun, badan tersebut memperingatkan bahwa akibat iklim yang makin panas, makin banyak kemungkinan untuk terus melihat kedatangan nyamuk invasive dan laporan mengenai nyamuk yang sanggup bertahan hidup di Inggris.
David Smith dari badan amal Buglife mengatakan bahwa pemanasan iklim yang terjadi sangat cepat kini menciptakan kondisi yang makin mendukung bagi spesies asing dan invasif untuk menetap di Inggris.
Sebuah penelitian awal tahun ini menemukan bahwa chikungunya kini dapat menular di sebagian besar wilayah Eropa akibat suhu udara yang makin panas karena krisis iklim. Analisis tersebut merupakan yang pertama kali menilai dampak suhu terhadap masa inkubasi virus pada nyamuk macan Asia (Asian tiger mosquito).
Baca juga: Limbah Jagung dan Daun Pepaya Diolah Jadi Penangkal Nyamuk Malaria
"Laporan terbaru mengenai masuknya hewan tak bertulang belakang non-lokal, termasuk jenis nyamuk, menunjukkan perlunya pemerintah memperketat keamanan hayati, meningkatkan pemantauan, serta mengawasi jalur masuk seperti pengiriman tanaman dalam pot dan tanah yang sering menjadi tempat menempelnya berbagai hewan tanpa terdeteksi," ungkap Smith.
Pihak UKHSA menyatakan bahwa langkah-langkah pengendalian telah dilakukan untuk membasmi jentik-jentik nyamuk, dan area tersebut akan terus dipantau secara ketat untuk menemukan serta memusnahkan nyamuk maupun jentik tambahan.
Lembaga tersebut juga mengimbau warga untuk membuang genangan air di taman dan ruang terbuka termasuk dari ember, wadah bekas, kolam plastik, dan pot tanaman guna mengurangi tempat berkembang biak bagi semua jenis nyamuk.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya