Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London

Kompas.com, 7 September 2026, 07:59 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Spesies nyamuk yang dapat menyebarkan penyakit tropis ditemukan berkembang biak di perumahan warga London Timur. Para ahli memperingatkan bahwa pemanasan iklim yang makin cepat akan memicu semakin banyaknya serangan nyamuk invasif tersebut.

Melansir Guardian, Kamis (3/9/2026) ini adalah pertama kalinya spesies tersebut terbukti berkembang biak di Inggris, serta penemuan keempat kalinya nyamuk tersebut terdeteksi di negara itu.

Nyamuk Aedes aegypti, yang biasanya hidup di daerah tropis dan subtropis, dapat menularkan demam berdarah, chikungunya, dan virus Zika di negara-negara tempat penyakit tersebut beredar.

Meski penyakit-penyakit ini jarang berakibat fatal, dampaknya dapat memicu komplikasi serius salah satunya virus Zika yang berbahaya bagi ibu hamil dan janinnya.

Baca juga: Kelestarian Hutan Tropis Bergantung pada Aktivitas Mamalia Besar

Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) menyatakan bahwa risiko bagi masyarakat saat ini masih rendah, dan belum ada bukti bahwa nyamuk di London Timur tersebut telah menular pada manusia.

Penemuan awal ini dilaporkan melalui program pemantauan nyamuk milik UKHSA. Badan tersebut menyatakan bahwa spesies ini kemungkinan masuk ke Inggris melalui kendaraan, barang bawaan, atau tanaman impor. Jika menemukan suhu udara yang cocok, nyamuk tersebut bisa bertahan hidup.

Meskipun terbukti sempat berkembang biak, pihak UKHSA menegaskan bahwa spesies nyamuk ini belum berkembang luas di Inggris. Mereka tidak dapat bertahan hidup lama di cuaca khas Inggris yang cenderung terlalu dingin.

Namun, badan tersebut memperingatkan bahwa akibat iklim yang makin panas, makin banyak kemungkinan untuk terus melihat kedatangan nyamuk invasive dan laporan mengenai nyamuk yang sanggup bertahan hidup di Inggris.

David Smith dari badan amal Buglife mengatakan bahwa pemanasan iklim yang terjadi sangat cepat kini menciptakan kondisi yang makin mendukung bagi spesies asing dan invasif untuk menetap di Inggris.

Sebuah penelitian awal tahun ini menemukan bahwa chikungunya kini dapat menular di sebagian besar wilayah Eropa akibat suhu udara yang makin panas karena krisis iklim. Analisis tersebut merupakan yang pertama kali menilai dampak suhu terhadap masa inkubasi virus pada nyamuk macan Asia (Asian tiger mosquito).

Baca juga: Limbah Jagung dan Daun Pepaya Diolah Jadi Penangkal Nyamuk Malaria

"Laporan terbaru mengenai masuknya hewan tak bertulang belakang non-lokal, termasuk jenis nyamuk, menunjukkan perlunya pemerintah memperketat keamanan hayati, meningkatkan pemantauan, serta mengawasi jalur masuk seperti pengiriman tanaman dalam pot dan tanah yang sering menjadi tempat menempelnya berbagai hewan tanpa terdeteksi," ungkap Smith.

Pihak UKHSA menyatakan bahwa langkah-langkah pengendalian telah dilakukan untuk membasmi jentik-jentik nyamuk, dan area tersebut akan terus dipantau secara ketat untuk menemukan serta memusnahkan nyamuk maupun jentik tambahan.

Lembaga tersebut juga mengimbau warga untuk membuang genangan air di taman dan ruang terbuka termasuk dari ember, wadah bekas, kolam plastik, dan pot tanaman guna mengurangi tempat berkembang biak bagi semua jenis nyamuk.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau