Campuran antara partikel halus ini dengan udara disebut sebagai aerosol. Ketika melayang di atmosfer, aerosol dapat memengaruhi iklim bumi dengan mengubah sifat, daya tahan, dan kecerahan awan.
Pada akhirnya, partikel-partikel ini akan jatuh kembali ke permukaan bumi dan terus merusak iklim. Salah satu contohnya adalah pengendapan karbon hitam atau jelaga di atas salju dan es.
Ketika jelaga menempel pada es, permukaannya menjadi lebih gelap sehingga tidak lagi bisa memantulkan sinar matahari kembali ke angkasa, yang pada akhirnya makin mempercepat pemanasan global.
Baca juga: Cuaca Pemicu Kebakaran Hutan Naik 3 Kali Lipat, Bagaimana di Asia Tenggara?
Laporan tersebut menjelaskan bahwa proses ini memicu lingkaran setan.
"Meningkatnya kekeringan lahan dan perubahan fungsi tanah diperkirakan akan meningkatkan emisi aerosol," tulis laporan WMO.
Pesan utama WMO adalah bahwa penanganan iklim dan kualitas udara harus dilakukan secara bersamaan.
"Hal ini sebenarnya tidak terlalu sulit, karena ketika Anda memangkas emisi gas rumah kaca, Anda secara otomatis juga mengurangi zat-zat yang merusak kualitas udara," tegas Labrador.
"Dan hal itu membawa kita pada solusi terbaik yang ada, yaitu pengurangan emisi gas rumah kaca serta penghentian pembakaran bahan bakar fosil secara menyeluruh di tingkat global," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya