KOMPAS.com - Sebagian terumbu karang di dunia masih dapat bertahan dari dampak krisis iklim, jika terdapat karang yang toleran terhadap pemanasan laut, menurut studi terbaru.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Reviews Earth & Environment, tim peneliti menganalisis berbagai penelitian sebelumnya mengenai dampak perubahan iklim terhadap pertumbuhan dan kerusakan terumbu karang.
Baca juga:
"Studi kami menggabungkan berbagai penilaian sebelumnya tentang dampak iklim pada terumbu karang yang berbeda dan meninjau konsensus ilmiah untuk menilai berapa lama struktur terumbu dapat bertahan seiring intensifikasi perubahan iklim," ujar salah satu penulis studi, Christopher Cornwall dilansir dari Phys.org, Senin (9/3/2026).
Terumbu karang yang toleran terhadap pemanasan laut, dapat membantu terumbu lain bertahan dari dampak perubahan iklim. Para peneliti menggabungkan data mengenai proses pengapuran dan bioerosi, proses penghancuran struktur karang oleh organisme laut seperti spons dan bulu babi.
Analisis tersebut kemudian diterapkan pada kumpulan data global tentang pertumbuhan terumbu karang.
Tim peneliti kemudian mengembangkan empat skenario terkait perkembangan ekosistem karang. Sebab, sejauh ini belum ada konsensus ilmiah terkait organisme mana yang akan membentuk terumbu karang di masa depan.
"Pertama, kondisi terumbu ekstrem saat ini menjadi gambaran masa depan terumbu karang," tutur dia.
Dalam kondisi tersebut, ekosistem karang cenderung didominasi alga koralin serta karang yang tumbuh lambat tetapi lebih tahan panas.
Kedua, terumbu karang akan terus didominasi organisme perusak seperti spons dan bulu babi laut, serta memiliki tutupan karang yang rendah.
Studi ini juga menemukan dalam hampir semua skenario, terumbu karang berpotensi mengalami erosi bersih yang terjadi ketika kerusakan dan pelarutan struktur terumbu terjadi lebih cepat dibandingkan pertumbuhan karang baru.
Hanya terumbu yang didominasi karang tahan panas yang diperkirakan mampu menghindari kondisi tersebut.
Baca juga:
Terumbu karang yang toleran terhadap pemanasan laut, dapat membantu terumbu lain bertahan dari dampak perubahan iklim. "Dalam skenario ini, sekitar 36 persen karang global akan hilang, dan pertumbuhan terumbu mengalami penurunan moderat. Terumbu yang tahan panas ini didominasi karang yang tumbuh lebih cepat dengan mikroalga simbiotik yang dapat berevolusi menjadi lebih tahan panas," tutur Cornwall.
Tim peneliti menyebut kemungkinan skenario keempat menggunakan restorasi karang tahan panas yang dapat menyebar ke wilayah lain.
Akan tetap, langkah ini dinilai sulit lantaran memerlukan restorasi pada setidaknya setengah dari seluruh ekosistem karang global.
"Kami menemukan bahwa terumbu karang akan beralih menjadi erosi bersih dalam semua skenario, bahkan dalam skenario emisi gas rumah kaca rendah hingga sedang. Artinya, terumbu larut atau dimakan organisme perusak lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk tumbuh, hanya terumbu dengan karang yang tahan panas yang dapat mencegah hal ini," jelas Cornwall.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya