JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia Battery Corporation (IBC) melalui pabrik Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat, akan memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) pada setiap fasilitas pengolahan baterai untuk dekarbonisasi mulai tahun 2027.
Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengatakan, pemanfaatan PLTS untuk hilir produksi baterai kendaraan listrik lebih gampang ketimbang bagian hulu karena perbedaan kebutuhan base load atau beban listrik dasar. Sedangkan pada tahap midstream atau di pabrik material baterai, IBC akan memasang pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) yang diklaimnya lebih rendah emisi gas rumah kaca (GRK).
"Jadi, memang betul tantangan kita di Indonesia adalah fossil fuel itu tadi. Kalau kita lihat di sini emisi karbon dari EV itu sebetulnya bisa jauh lebih rendah dibandingkan kalau dari kendaraan konvensional (internal combustion engine/ICE). Tapi, karena masih pakai fossil fuel, jadi ada variance-nya tinggi sekali. Jadi malah nanti penurunan emisi karbonnya mungkin hanya sedikit sekali kalau dibandingkan ICE. Nah ini adalah tantangan kita bersama," ujar Aditya dalam diskusi di Bisnis Indonesia Group Strategic Forum 2026, Selasa (8/9/2026).
Selain PLTS, IBC juga mengurangi jejak karbon dengan mendaur ulang baterai kendaraan listrik (battery recycling). Pembangunan fasilitas daur ulang (battery recycling) pada kisaran tahun 2030. Menurut Aditya, daur ulang akan secara otomatis meng-offset (menebus) emisi karbon yang telah dikeluarkan pada rantai nilai sebelumnya. Hal ini akan membuat produk baterai Indonesia jauh lebih kompetitif di pasar global yang semakin ketat, terutama carbon border adjustment mechanisme (CBAM).
Baca juga: WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Alih-alih masalah teknis, kata dia, program daur ulang baterai kendaraan listrik justru masih terkendala regulasi. IBC terus berkoordinasi intensif dengan pemerintah, termasuk Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, untuk merampungkan payung hukum fasilitas daur ulang tersebut.
"Jadi, ketika kami melakukan recycling, maka emisi karbon yang sudah dikeluarkan di value chain sebelumnya itu akan ter-offset, begitu. Nah, harapannya dengan nanti adanya recycling, maka secara otomatis seluruh produk baterai kita bisa kompetitif. Namun sebelum adanya recycling, maka hal yang bisa kita lakukan adalah meng-install bauran energi terbarukan di setiap processing facility kami," tutur Aditya.
Sebagai bagian dari BUMN, bagi IBC, aspek Sosial (S) dan Tata Kelola (G) relatif lebih mudah dipenuhi berkat kepatuhan terhadap regulasi Kementerian BUMN. Namun, aspek Lingkungan (E) masih menjadi pekerjaan rumah (PR) terbesar.
Kata dia, semestinya emisi karbon kendaraan listrik (electric vehicle/ EV) seharusnya jauh lebih rendah dari ICE. Jika energi yang menopang rantai pasok (TKDN) baterainya masih bergantung pada bahan bakar fosil, maka penurunan emisi GRK yang dihasilkan bisa sangat kecil.
Untuk mengatasi ini, IBC menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA)—sebuah prinsip untuk menilai dan menekan emisi karbon dari hulu ke hilir. Di sektor hulu pertambangan, pemenuhan emisi mulai dijaga melalui standar International Council on Mining and Metals (ICMM) terkait good mining practices. Sedangkan di hilir, IBC berfokus pada bauran energi terbarukan dan program daur ulang.
Baca juga: PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok
"Nah, IBC memang menjadi lebih mudah karena di sisi manufaktur itu kebutuhan energi sebagai, apa ya, kita memiliki ke- toleransi terhadap hadirnya renewable energy yang sifatnya intermittent di dalam processing kita, dibandingkan kalau kita bicara di upstream seperti smelter. Kalau di smelter itu base load-nya harus tinggi sekali mensubstitusi batubara tidak mudah," ucapnya.
Lebih dari sekadar memproduksi baterai, pengembangan ekosistem ini adalah tentang kedaulatan energi. Baterai menjadi tulang punggung transisi hijau untuk EV, serta penyimpan daya bagi energi terbarukan dan fasilitas pusat data (data center) di era ekonomi digital.
Indonesia memiliki keunggulan komparatif dengan tiga komponen utama baterai. Yaitu, nikel (fokus utama IBC saat ini), aluminium, dan tembaga.
Ke depannya, pemenuhan industri baterai yang terintegrasi secara end-to-end diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik. Ia menilai, transformasi ini berpotensi menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang masif, memicu rentetan investasi baru. Khususnya, untuk hilirisasi aluminium dan tembaga di Indonesia.
"Nah, kalau kita lihat di sudut pandang Indonesia, kita punya kesempatan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan industrinya, tapi juga bisa mendapatkan multiplier effect yang sangat besar. Yaitu melalui tadi hilirisasi komoditas-komoditas mineral kita. Saat ini IBC fokusnya pada nikel, jalur nikel kalau kita lihat di slide ini. Tapi kita harapannya ketika nanti industri baterainya sudah jadi penuh, TKDN-nya sudah terpenuhi end-to-end, maka nanti bisa men-trigger juga investasi-investasi di hilirisasi aluminium dan juga tembaganya untuk mendukung kebutuhan baterai tersebut," ujar Aditya.
IBC akan terjun ke industri daur ulang pada 2030 dengan mempertimbangkan masa pakai baterai pasca-penetrasi EV sejak tahun 2023. Masa pakai baterai EV kemungkinan lebih dari tujuh tahun.
Aditya memperkirakan, performa baterai EV masih di atas 85 persen ketika usianya sudah tujuh tahun. Dari aspek keekonomian, baterai litium-ion Nickel Manganese Cobalt (NMC) lebih layak dibandingkan lithium iron phosphate (LFP).
Baterai litium-ion NMC bekas masih mengandung banyak komponen berharga, seperti nikel, kobalt, dan lithium. Sedangkan komponen baterai LFP yang dapat didaur ulang hanya lithium.
"Jadi, kami fokusnya pada recycling NMC. Kalau ternyata ketersediaan bahan bakunya belum mencukupi untuk butuh masuk ke nilai ekonomi, ya kami belum bisa jalan," ujar Aditya dalam MIND Club; Bincang-Bincang Baterai, Senin (18/5/2026).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya