Pengukuran di TPA Suwung, Bali, dan TPA Sarimukti, Jawa Barat, menunjukkan adanya perbedaan emisi metana berdasarkan musim.
Tim MERIT menemukan emisi metana meningkat tajam pada musim kemarau dibandingkan musim hujan. Selain perbedaan musiman, variasi emisi juga ditemukan dalam skala harian.
Pada siang hari, ketika suhu meningkat akibat paparan sinar matahari, fluks metana yang terukur lebih tinggi dibandingkan waktu lainnya.
Menurut Didin, peningkatan suhu dapat memengaruhi pergerakan gas metana dari timbunan sampah ke udara. Suhu yang lebih tinggi juga dapat memengaruhi proses dekomposisi bahan organik yang menghasilkan metana.
Baca juga: UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengukuran emisi tidak hanya perlu mempertimbangkan lokasi, tetapi juga waktu pengukuran.
Berdasarkan temuan tersebut, Didin mengusulkan agar penghitungan emisi metana dengan model IPCC dapat dikembangkan dengan mempertimbangkan perbedaan kondisi musim.
Menurut dia, perhitungan emisi dapat disimulasikan secara terpisah antara musim hujan dan musim kemarau dengan mempertimbangkan perubahan komposisi sampah dan kandungan Dissolved Organic Carbon (DOC).
Pendekatan tersebut diharapkan menghasilkan estimasi emisi yang lebih mencerminkan kondisi lapangan dibandingkan hanya menggunakan angka agregat tahunan.
Dengan demikian, data pengukuran langsung di TPA dapat menjadi pelengkap bagi model perhitungan emisi yang telah digunakan secara nasional, sekaligus memberikan informasi yang lebih operasional bagi pengelola TPA untuk mengidentifikasi zona dengan pelepasan metana tinggi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya