JAKARTA, KOMPAS.com - Perhitungan emisi gas rumah kaca (GRK) sektor limbah menggunakan model First Order Decay (FOD) dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) dinilai belum cukup menggambarkan variasi emisi metana di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Model tersebut menghasilkan perhitungan emisi secara agregat yang umumnya menggambarkan emisi dalam periode tahunan atau beberapa tahun.
Sementara itu, pengelola TPA membutuhkan informasi yang lebih rinci untuk mengetahui lokasi dan waktu pelepasan metana yang tinggi.
Baca juga: Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Tenaga ahli Methane Emission Reduction Initiative for Transparency (MERIT) Didin Agustian Permadi mengatakan, pengelola TPA perlu mengetahui perubahan emisi dari waktu ke waktu, termasuk perbedaan emisi antarzona dalam satu kawasan TPA.
"Pengelola TPA ingin melihat di zona mana emisi fugitive dari metana ini masih tinggi, walaupun zona tersebut sudah dilapisi tanah penutup (soil covering) atau bahkan dilapisi dengan geomembrane," ujar Didin dalam MERIT Conference 2026, Selasa (22/9/2026).
Menurut dia, model IPCC tetap digunakan pemerintah karena telah terstandarisasi dan umum digunakan dalam penghitungan emisi. Namun, hasilnya yang bersifat agregat memiliki keterbatasan ketika digunakan untuk kebutuhan operasional di tingkat TPA.
Untuk memperoleh data yang lebih spesifik, tim MERIT mengembangkan metode pengukuran yang menggabungkan pemetaan udara dan pengukuran langsung di lapangan.
Tahap awal dilakukan dengan menggunakan drone untuk memetakan kondisi TPA. Hasil citra kemudian dianalisis berdasarkan tipologi kawasan sehingga TPA dapat dikelompokkan menjadi sejumlah zona, antara lain zona aktif serta zona tidak aktif yang terbuka maupun telah tertutup.
Pemetaan juga mempertimbangkan keberadaan infrastruktur pengelolaan gas di bawah timbunan sampah, termasuk pipa penyaluran metana.
Setelah pemetaan selesai, tim melakukan pengukuran langsung menggunakan metode static chamber. Pengukuran dilakukan pada sekitar 60 titik di setiap TPA dengan mengikuti protokol pengukuran jaringan fluks global.
Data dari berbagai titik tersebut kemudian dihitung menggunakan rata-rata tertimbang berdasarkan luas masing-masing tipologi zona.
Menurut Didin, pengukuran langsung di lapangan membutuhkan sumber daya yang cukup besar karena harus dilakukan berulang pada banyak titik.
Baca juga: Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
"Ini sangat melelahkan. Kita membutuhkan sumber daya manusia yang berani dan nekat untuk masuk ke area TPA, membawa alat, dan melakukan pengukuran dari satu titik ke titik lain secara berulang dari waktu ke waktu," tuturnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya