"Dampak gelombang panas ini terjadi di ketiga kelompok usia, namun kelompok yang paling rentan adalah lansia, diikuti oleh bayi dan anak balita," ungkap " Grover-Kopec.
"Menurut saya hasil penelitian ini sangat masuk akal," kata Christopher Callahan dari Indiana University Bloomington.
"El Niño akan membawa suhu yang sangat tinggi ke banyak wilayah di dunia, dan hubungan antara gelombang panas dengan lonjakan angka kematian memang terbukti nyata serta konsisten di seluruh dunia," paparnya lagi,
Callahan belum lama ini menggunakan metode serupa untuk mengestimasi bahwa gelombang panas di Eropa pada bulan Juni melayangkan 20.000 nyawa. Hingga saat ini, tercatat ada 35.000 kematian tambahan di Eropa akibat suhu panas ekstrem selama periode musim panas.
Baca juga: Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Proyeksi 240.000 kematian tambahan antara September dan Februari sangat bergantung pada keakuratan prakiraan cuaca tersebut, ujar Callahan.
Grover-Kopec menambahkan bahwa prediksi ECMWF berada tepat di tengah-tengah proyeksi lembaga lain, sehingga angka ini merupakan perkiraan dampak tingkat sedang.
Callahan juga menekankan bahwa laporan ini baru menghitung korban jiwa akibat dampak langsung suhu panas.
"El Niño juga memicu kebakaran hutan di Indonesia, penyebaran penyakit menular di Amerika Selatan, banjir di Amerika Serikat bagian barat, dan bencana lainnya. Jadi, total jumlah korban tewas sebenarnya bisa jauh lebih tinggi," terangnya lagi.
"Poin terpenting di sini bukanlah pada ketepatan angkanya, melainkan pada apa yang masih bisa kita lakukan untuk mencegah jatuhnya korban," tegas Raquel Nunes dari University of Warwick, Inggris.
"Laporan ini sebaiknya dijadikan peringatan bagi pemerintah untuk memperkuat kesiapsiagaan, tindakan pencegahan, dan perlindungan khusus bagi kelompok masyarakat yang paling rentan," tambahnya.
Temuan ini dipublikasikan dalam Climate Impact Lab di Universitas Chicago.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya