Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waspada Krisis Iklim dan Energi, PBB Luncurkan Kampanye Tekan Metana

Kompas.com, 24 September 2026, 07:04 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Gas metana menyumbang sekitar sepertiga dari pemanasan global dan memiliki daya rusak sekitar 80 kali lebih kuat daripada karbon dioksida, meskipun masa tinggalnya di atmosfer jauh lebih singkat.

"Industri bahan bakar fosil harus segera bangkit dan melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan sejak dulu," ujarnya.

Menurut Badan Energi Internasional, sekitar 70 persen emisi metana dari minyak dan gas dapat dihilangkan menggunakan teknologi yang sudah ada, dengan sebagian besar biaya yang rendah atau bahkan tanpa biaya bersih sama sekali.

Guterres mencatat bahwa ada 167 miliar meter kubik gas yang dibakar secara sia-sia di seluruh dunia pada tahun 2025, jumlah yang setara dengan konsumsi gas tahunan benua Afrika.

Sistem Peringatan dan Tanggap Metana dari Program Lingkungan PBB telah mengeluarkan lebih dari 5.000 peringatan di 33 negara, tetapi tingkat respons globalnya baru mencapai sekitar 12 persen saja.

Pimpinan PBB tersebut menyerukan kepada pemerintah berbagai negara untuk menetapkan standar global baru demi mencapai emisi metana mendekati nol di seluruh rantai pasok minyak dan gas.

Guterres juga mengkritik ekspansi produksi bahan bakar fosil yang masih terus berlanjut dan menyerukan penerapan pajak atas keuntungan besar tak terduga yang diraup oleh perusahaan minyak dan gas selama krisis energi.

"Keuntungan besar ini lahir dari penderitaan, ketidakstabilan, kesusahan, dan ketergantungan," ujarnya,

Pimpinan PBB ini menyoroti pula masalah infrastruktur transmisi yang belum memadai, sistem distribusi yang sudah ketinggalan jaman, tempat penyimpanan energi yang masih kurang, serta proses perizinan yang lambat sebagai hambatan utama dalam pengembangan energi terbarukan.

"Era elektrifikasi akan membutuhkan perluasan besar-besaran pada jaringan listrik, tempat penyimpanan energi, dan fleksibilitas sistem," ujarnya.

Guterres juga mengusulkan Inisiatif Transparansi Lingkungan AI, yang menyerukan kepada perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan besar untuk membuka data mengenai jejak karbon, air, dan penggunaan lahan dari operasional mereka, serta memastikan semua pusat data ditenagai oleh energi terbarukan pada tahun 2030.

Ia memperingatkan bahwa pada tahun 2030, pusat data berpotensi mengonsumsi listrik lebih banyak daripada jumlah penggunaan di hampir semua negara di dunia serta menghabiskan air dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar 1,3 miliar penduduk di wilayah Sub-Sahara Afrika setiap tahunnya.

Pendanaan jadi tantangan terbesar

Lebih lanjut, Guterres mengungkapna bahwa aksi iklim membutuhkan pendanaan dalam skala besar yang saat ini belum bisa dijangkau oleh negara-negara berkembang. Banyak negara berkembang menghadapi biaya pinjaman untuk proyek energi bersih dan ketahanan iklim yang dua hingga tiga kali lebih tinggi daripada di negara maju.

Baca juga: 25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim

Misalnya, meskipun memiliki 60 persen sumber daya tenaga surya terbaik di dunia dan 30 persen mineral penting, Afrika hanya menerima 2 persen dari investasi energi bersih global. Padahal, lebih dari 600 juta orang di benua tersebut masih belum menikmati akses listrik.

Pimpinan PBB ini mendesak negara-negara maju untuk segera merealisasikan janji dana sebesar 300 dolar AS miliar kepada negara-negara berkembang dan mengambil langkah nyata guna menghimpun 1,3 triliun dolar AS per tahun pada 2035.

Ia juga meminta Bank Pembangunan Multilateral untuk memperluas pinjaman, seraya mencatat bahwa reformasi baru-baru ini telah meningkatkan kapasitas pinjaman mereka sebesar 600 miliar dolar AS hingga 800 miliar dolar AS.

Guterres pun menyatakan bahwa krisis iklim dan energi telah menyingkap bahayanya ketergantungan pada bahan bakar fosil, sekaligus menyoroti berbagai peluang yang tercipta dari perkembangan pesat energi terbarukan.

"Kita akhirnya bisa membalik lembaran bahan bakar fosil dan menulis masa depan yang ditenagai oleh energi terbarukan serta berakar pada keadilan iklim," ujarnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Pemerintah
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Pemerintah
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Pemerintah
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
LSM/Figur
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
LSM/Figur
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Pemerintah
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
Pemerintah
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Pemerintah
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
BrandzView
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
Pemerintah
Riset Sebut Polusi Udara Kota Turunkan Performa Pelari
Riset Sebut Polusi Udara Kota Turunkan Performa Pelari
Pemerintah
Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
Pemerintah
Lindungi Negara Kepulauan, PBB Adopsi Deklarasi Kenaikan Permukaan Air Laut
Lindungi Negara Kepulauan, PBB Adopsi Deklarasi Kenaikan Permukaan Air Laut
Pemerintah
Dunia Terancam Gagal Capai Target Perlindungan Lautan 2030
Dunia Terancam Gagal Capai Target Perlindungan Lautan 2030
Pemerintah
Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif
Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau