Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waspada Krisis Iklim dan Energi, PBB Luncurkan Kampanye Tekan Metana

Kompas.com, 24 September 2026, 07:04 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres memperingatkan bahwa dunia sedang menghadapi krisis ganda yaitu iklim dan energi yang dipicu oleh ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Melansir Down to Earth, Selasa (23/6/2026) ia menyerukan transisi cepat ke energi bersih, langkah-langkah adaptasi yang lebih kuat, dan pendanaan iklim yang jauh lebih besar.

Saat berbicara dalam Pekan Aksi Iklim London pada 23 Juni, Guterres menyatakan bahwa krisis iklim semakin cepat memburuk, sementara konflik di Asia Barat telah memicu guncangan energi besar yang memperlihatkan bahayanya ketergantungan pada minyak dan gas.

"Dunia kita sedang menghadapi dua krisis. Krisis iklim yang mendorong kita menuju suhu yang lebih tinggi dan mendekati ambang batas bencana yang tak bisa diubah. Serta krisis energi yang memperlihatkan kebodohan dunia yang kecanduan bahan bakar fosil," ujar Guterres.

Pimpinan PBB tersebut mengatakan bahwa dunia telah mengalami 11 tahun terpanas dalam sejarah pencatatan, dan memperingatkan bahwa suhu rata-rata tahunan kemungkinan besar akan melampaui batas 1,5 derajat Celsius yang disepakati dalam Perjanjian Paris dalam beberapa tahun ke depan.

Baca juga: Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan

Mengutip laporan baru dari Dewan Penasihat Ilmiah PBB, Guterres memperingatkan bahwa melewati ambang batas penting iklim dapat mendorong ekosistem terumbu karang menuju kehancuran, mempercepat mencairnya lapisan es di Greenland dan Antarktika Barat, melemahkan sistem arus utama lautan, dan mengubah sebagian hutan hujan Amazon menjadi wilayah mirip sabana.

Pada saat yang sama, ia mengatakan bahwa konflik di Asia Barat telah memicu apa yang disebutnya sebagai "ibu dari segala guncangan energi".

"Badan Energi Internasional (IEA) memberi tahu kita bahwa skalanya menyaingi gabungan krisis minyak tahun 1970-an dan gejolak setelah invasi Rusia ke Ukraina," ujar Guterres.

Ia menambahkan bahwa krisis ini telah menunjukkan rapuhnya model pembangunan yang bergantung pada bahan bakar fosil, di mana satu konflik atau hambatan saja dapat mengacaukan pasokan energi global dan membuat harga melonjak tinggi.

Energi terbarukan adalah jalan keluar

Guterres mengatakan bahwa solusinya terletak pada percepatan transisi ke energi bersih. Menurut pimpinan PBB tersebut, biaya panel surya telah turun hampir 90 persen sejak 2010, sementara biaya angin darat turun lebih dari 70 persen, dan biaya penyimpanan baterai anjlok hingga 95 persen.

Ia menyebutkan bahwa lebih dari 90 persen kapasitas energi terbarukan baru di seluruh dunia kini sudah lebih murah daripada bahan bakar fosil termurah sekalipun.

Mengutip Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA), Guterres menyatakan bahwa kapasitas energi terbarukan yang ada berhasil menghemat ekonomi global sebesar 480 miliar dolar AS dari biaya bahan bakar fosil yang berhasil dihindari pada tahun 2025 saja.

Ia menambahkan bahwa energi terbarukan mampu mencegah emisi karbon dioksida tahunan dalam jumlah yang bahkan lebih besar daripada gabungan emisi yang dihasilkan oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang.

"Energi terbarukan adalah fondasi utama dari keamanan energi yang sesungguhnya. Kemandirian energi tidak bisa dibangun di atas fondasi ketergantungan pada bahan bakar fosil," kata Guterres.

Baca juga: Berkat Energi Terbarukan, Dunia Berhasil Hemat Rp8.632 Triliun dalam Setahun

Aksi pengurangan metana diluncurkan

Sebagai bagian dari langkah penanganan, Guterres meluncurkan seruan aksi global terhadap metana, yang menargetkan emisi dari sektor sampah, pertanian, dan operasi bahan bakar fosil.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Pemerintah
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Pemerintah
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Pemerintah
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
LSM/Figur
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
LSM/Figur
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Pemerintah
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
Pemerintah
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Pemerintah
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
BrandzView
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
Pemerintah
Riset Sebut Polusi Udara Kota Turunkan Performa Pelari
Riset Sebut Polusi Udara Kota Turunkan Performa Pelari
Pemerintah
Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
Pemerintah
Lindungi Negara Kepulauan, PBB Adopsi Deklarasi Kenaikan Permukaan Air Laut
Lindungi Negara Kepulauan, PBB Adopsi Deklarasi Kenaikan Permukaan Air Laut
Pemerintah
Dunia Terancam Gagal Capai Target Perlindungan Lautan 2030
Dunia Terancam Gagal Capai Target Perlindungan Lautan 2030
Pemerintah
Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif
Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau