Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen

Kompas.com, 24 September 2026, 17:10 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - PT Pertamina (Persero) berhasil menjalankan program pengurangan emisi (dekarbonisasi) hingga melebihi target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026.

Laman resmi Pertamina, Selasa (22/9/2026) menyebut selama semester pertama tahun 2026, upaya dekarbonisasi Pertamina Group telah mencapai 118 persen dari total target tahunan.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyampaikan bahwa program dekarbonisasi ini merupakan bagian dari langkah nyata perusahaan dalam menerapkan prinsip tata kelola lingkungan, sosial, dan korporasi (ESG) di seluruh lini bisnisnya.

"Sebagai perusahaan energi berkelas dunia, Pertamina berkomitmen menjalankan ESG sesuai standar global. Langkah dekarbonisasi ini sekaligus menjadi bukti komitmen kami dalam mendukung target Pemerintah mencapai Bebas Emisi pada tahun 2060," ujar Muhammad Baron.

Baca juga: Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal

Kinerja bisnis rendah karbon

Selain pengurangan emisi, Baron menambahkan bahwa Pertamina juga terus mengembangkan Bisnis Rendah Karbon sebagai bagian dari penerapan ESG.

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, kinerja bisnis rendah karbon Pertamina telah mencapai 101 persen, melebihi target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026.

Capaian ini membuktikan kinerja solid Pertamina dalam mendorong berbagai inisiatif pengembangan energi rendah karbon.

"Beberapa program utama seperti bioetanol, bahan bakar nabati (biofuel), serta penghematan energi menjadi penyumbang utama keberhasilan ini hingga berhasil melampaui target yang ditetapkan," kata Baron.

Program ESG Pertamina lainnya, seperti pengadaan barang ramah lingkungan, pengalokasian anggaran khusus keberlanjutan, serta pemberdayaan masyarakat, juga membuahkan hasil positif. Secara keseluruhan, capaian di bidang tata kelola ini berhasil menembus 102 persen dari target.

"Capaian ini mencerminkan keberhasilan pelaksanaan program-program kami, terutama di bidang tata kelola, inisiatif sosial, serta sistem penunjang keberlanjutan," kata Baron.

Baron menegaskan bahwa keberhasilan penerapan ESG secara terpadu ini makin memperkuat posisi Pertamina sebagai perusahaan nomor 1 dunia dalam peringkat ESG untuk sub-industri Minyak dan Gas Terintegrasi.

Dalam penilaian Carbon Disclosure Project (CDP), Pertamina meraih skor B untuk penanganan perubahan iklim dan skor A- untuk keandalan pengelolaan air bersih. Sementara dari sisi tata kelola, Pertamina mencatatkan skor Tata Kelola Perusahaan yang Baik (GCG) tahun 2025 sebesar 97,14 persen dengan predikat "Sangat Baik."

"Capaian-capaian ini menjadi pendorong bagi Pertamina untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan, tanggung jawab sosial, dan tata kelola perusahaan. Bagi Pertamina, prinsip keberlanjutan dan ESG harus membawa dampak nyata bagi lingkungan, masyarakat, serta keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang," ujar Baron.

Dorong penggunaan SAF

Baron menambahkan bahwa dalam mengembangkan bisnis rendah karbon, Pertamina terus mendorong penggunaan bahan bakar avtur ramah lingkungan (SAF), biogasolin, biodiesel, serta pembangkit listrik rendah karbon.

Untuk pengembangan SAF, Pertamina menargetkan volume penyaluran sebesar 27.000 kiloliter (KL) dan penjualan sebanyak 6.000 KL pada tahun 2026.

Baca juga: Perluas Dampak DEB, Pertamina Targetkan 332 Program Berjalan hingga Akhir 2026

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau