Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KILAS

Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal

Kompas.com, 7 Agustus 2026, 08:50 WIB
DWN

Penulis

KOMPAS.com – PT Pertamina (Persero) kembali mencatatkan capaian dalam transformasi bisnis berkelanjutan. Terminal Liquefied Petroleum Gas (LPG) Tanjung Sekong yang dikelola PT Pertamina Energy Terminal (PET), anak usaha PT Pertamina International Shipping (PIS), resmi meraih Green Terminal Label Certification (GTLC) Bintang 2 dari Bureau Veritas (BV).

Sertifikasi tersebut menjadikan Terminal LPG Tanjung Sekong sebagai terminal LPG pertama di Indonesia sekaligus dunia yang memperoleh predikat tersebut. Sertifikat diserahkan dalam acara Closing Ceremony Green Terminal Label Certification yang digelar di Grand Ballroom PIS, Rabu (5/8/2026).

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengatakan, pencapaian tersebut menjadi tonggak penting bagi Pertamina sekaligus Indonesia dalam mendorong pengelolaan terminal energi yang lebih ramah lingkungan.

"Sertifikasi ini menjadi kebanggaan bagi Pertamina dan juga Indonesia karena untuk pertama kalinya sebuah terminal LPG memperoleh sertifikasi Green Terminal Label Bintang 2. Ini menunjukkan transformasi Pertamina dalam membangun bisnis yang berkelanjutan bagi masa depan perusahaan maupun lingkungan," ujar Agung dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Jumat (7/8/2026).

Menurut dia, pencapaian tersebut bernilai strategis karena standar Green Terminal diterapkan pada fasilitas energi dengan karakteristik risiko tinggi, khususnya dalam penyimpanan dan penanganan LPG. Selama ini, sebagian besar fasilitas yang telah memperoleh sertifikasi GTLC merupakan pelabuhan umum atau terminal peti kemas.

Baca juga: Pelabuhan Celukan Bawang Disiapkan Jadi Alternatif Penyeberangan Jawa-Bali

Agung menambahkan, sertifikasi tersebut juga menunjukkan kemampuan Pertamina mengintegrasikan keandalan operasional dengan prinsip keberlanjutan.

"Pencapaian ini membuktikan bahwa Terminal LPG Tanjung Sekong tidak hanya beroperasi secara andal, tetapi juga telah menerapkan sistem operasional berkelanjutan yang mencakup aspek energi, lingkungan, digitalisasi, keselamatan, hingga komitmen terhadap pengurangan emisi karbon," jelasnya.

Pemanfaatan Energi Terbarukan Perkuat Operasional Berkelanjutan

Salah satu pengembangan utama dalam program Green Terminal Tanjung Sekong adalah integrasi energi terbarukan melalui pemanfaatan energi surya dan rencana penggunaan hidrogen hijau.

Pertamina saat ini mengembangkan fasilitas produksi hidrogen hijau berbasis panas bumi milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. di Ulubelu, Lampung, dengan kapasitas sekitar 100 kilogram per hari menggunakan teknologi Anion Exchange Membrane (AEM).

Hidrogen hijau tersebut direncanakan dimanfaatkan di Terminal LPG Tanjung Sekong sebagai bagian dari pengembangan ekosistem hidrogen Pertamina dari hulu hingga hilir.

Integrasi sumber energi tersebut ditujukan untuk meningkatkan porsi pemanfaatan energi terbarukan dalam kebutuhan listrik terminal.

Baca juga: Bahlil Sebut Uji Tabung CNG Pengganti LPG 3 Kg Masuk Tahap Akhir

Agung mengatakan, penerapan standar Green Terminal pada fasilitas penyimpanan dan penanganan LPG dapat menjadi referensi bagi pengembangan terminal minyak, gas, liquefied natural gas (LNG), dan LPG lainnya, khususnya di lingkungan Pertamina Group.

Ke depan, Pertamina menargetkan enam terminal memperoleh Green Terminal Label, di antaranya Terminal LPG Tuban, Fuel Terminal Baubau, Fuel Terminal Kotabaru, dan Integrated Terminal Tanjung Uban.

"Kami ingin mereplikasi konsep Green Terminal ini ke terminal-terminal lainnya sehingga semakin banyak fasilitas Pertamina yang beroperasi dengan prinsip keberlanjutan," kata Agung.

Menurut dia, keunggulan Pertamina sebagai perusahaan energi yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir menjadi modal utama dalam mempercepat transisi energi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
20 Private Equity Dunia Hasilkan Polusi Lebih Tinggi dari Hampir Semua Negara
20 Private Equity Dunia Hasilkan Polusi Lebih Tinggi dari Hampir Semua Negara
Pemerintah
Karhutla Jadi Momentum Evaluasi Tata Kelola Kehutanan, Koalisi Desak Perubahan UU
Karhutla Jadi Momentum Evaluasi Tata Kelola Kehutanan, Koalisi Desak Perubahan UU
LSM/Figur
Kekeringan Ancam Sektor Ekonomi, Pemerintah Harus Rancang Strategi Baru
Kekeringan Ancam Sektor Ekonomi, Pemerintah Harus Rancang Strategi Baru
Pemerintah
Pemimpin Dunia Dorong Peningkatan Energi Terbarukan 3 Kali Lipat pada 2030
Pemimpin Dunia Dorong Peningkatan Energi Terbarukan 3 Kali Lipat pada 2030
Pemerintah
Inovasi Warga Kaki Gunung Gede Pangrango bersama Astra: Sawo Jadi Sambal dan Limbah Jadi Karya
Inovasi Warga Kaki Gunung Gede Pangrango bersama Astra: Sawo Jadi Sambal dan Limbah Jadi Karya
Desa Sejahtera Astra
FAO: Hutan Jadi Kunci Utama Ketahanan Pangan, Gizi, dan Mata Pencaharian
FAO: Hutan Jadi Kunci Utama Ketahanan Pangan, Gizi, dan Mata Pencaharian
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau