Satrio mencontohkan, perluasan klasifikasi aktivitas berkelanjutan melalui Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) versi 3 mencakup sejumlah sektor yang berkaitan dengan target Nationally Determined Contribution (NDC), seperti energi, kehutanan dan penggunaan lahan (FOLU), pertanian, limbah, dan industri.
Menurut dia, perubahan tersebut membuat kualitas lingkungan semakin berkaitan dengan keputusan alokasi modal.
Perusahaan yang mengabaikan perubahan tersebut, lanjut Satrio, menghadapi sejumlah risiko, seperti aset terdampar, kehilangan kontrak, kenaikan biaya kepatuhan, hingga biaya pembiayaan yang lebih tinggi.
Namun, ia mengingatkan perusahaan agar tidak berhenti pada pelabelan hijau tanpa perubahan operasional.
“Strategi lingkungan yang kredibel harus dimulai dari efisiensi energi dan material, pengelolaan limbah, ketahanan rantai pasok, pengukuran emisi, serta investasi yang memiliki manfaat ekonomi sekaligus lingkungan,” katanya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya