JAKARTA, KOMPAS.com – Lebih dari empat dekade berkecimpung di sawah tidak membuat Sardi berhenti mencari cara untuk meningkatkan hasil pertaniannya. Petani asal Bekasi, Jawa Barat, ini mengaku rutin mencari benih unggul untuk mendukung usaha taninya.
Meski begitu, sebagian praktik pertaniannya masih bertumpu pada teknologi yang telah dikenalnya sejak puluhan tahun lalu. Padahal, perkembangan teknologi pertanian sudah semakin pesat
“Kalau saya pribadi masih menggunakan teknologi yang sudah usang. Teknologi tahun 80-an,” ujar Sardi saat berbicara dalam gelar wicara “Sinergi Kebijakan, Riset, dan Inovasi untuk Mendukung Kedaulatan Pangan” pada acara Indonesia Petani MAJU Summit 2026 di Hotel Kempinski Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Di sisi lain, tantangan yang dihadapi petani justru semakin kompleks. Sardi harus berhadapan dengan hama dan penyakit tanaman, persoalan kualitas air, hingga tekanan terhadap lahan pertanian.
Baca juga: Dukung Swasembada Beras, Syngenta Dorong Modernisasi Budidaya Padi Lewat Buku Panduan dan Drone
Sardi merupakan satu di antara banyak petani Indonesia yang masih menghadapi masalah klasik di sektor pertanian. Padahal, riset dan teknologi terus berkembang. Namun, manfaatnya baru benar-benar terasa ketika inovasi tersebut digunakan petani dan membantu meningkatkan produktivitas serta pendapatan mereka.
Pemerintah sendiri sebenarnya memiliki target ambisius, yakni mencapai swasembada pangan. Untuk itu, Indonesia membutuhkan produksi pangan dalam jumlah besar.
Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan, produksi padi nasional pada Januari-Oktober 2026 mencapai 54,52 juta ton gabah kering giling (GKG), turun tipis 0,08 persen jika dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Meski turun tipis, produksi beras nasional pada tahun ini diperkirakan mencapai 34,77 juta ton. Dengan kebutuhan mencapai 31,21 juta ton setahun, Indonesia diperkirakan surplus beras sekitar 3,56 juta ton.
Hanya saja, peningkatan produktivitas seharusnya turut dibarengi dengan kemajuan petani dalam mengolah lahan serta peningkatan pendapatan.
Baca juga: Dukung Ketahanan Pangan, Syngenta Pacu Kapabilitas Petani lewat Learning Centers
Data BPS per Agustus 2026 menyebutkan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) naik 1,05 persen menjadi 129,19 dari Juli 2026. Ini berarti, harga yang diterima petani lebih tinggi dari harga yang bayar.
Meski demikian, NTP tidak bisa menjadi satu-satunya patokan untuk mengukur kesejahteraan petani.
Data BPS menunjukkan, hampir separuh rumah tangga miskin di Indonesia pada 2024 memiliki sumber penghasilan utama dari lapangan usaha pertanian, yakni 49,09 persen. Pendapatan bersih petani yang bekerja sendiri di lapangan usaha pertanian juga tercatat hanya sekitar Rp 1,56 juta per bulan.
Gambaran lain terlihat dari Survei Ekonomi Pertanian (SEP) 2024. Sebanyak 46,3 persen usaha pertanian perorangan menilai pendapatan dari usaha pertanian mereka masih kurang atau sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari struktur pertanian Indonesia yang didominasi usaha berskala kecil. BPS mencatat, sekitar 60 persen petani pengguna lahan merupakan petani gurem, dengan penguasaan lahan kurang dari 0,5 hektare.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Leonardo A.A. Teguh Sambodo mengatakan, peningkatan produktivitas pertanian perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.
Pasalnya, Indonesia memiliki karakter wilayah dan kondisi lahan yang beragam. Benih, pola budi daya, pengairan, hingga pemeliharaan tanaman pun perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah agar potensi produksinya dapat dioptimalkan.
Teguh menilai, penyesuaian tersebut tidak semata-mata untuk meningkatkan hasil panen, tetapi memastikan produktivitas tersebut mampu mendukung pendapatan petani.
“Pertanyaannya adalah bagaimana memastikan bahwa petani bisa sejahtera. Jadi, produksi dan konsumsi tidak bisa dipisahkan,” ujar Teguh yang juga hadir di gelar wicara Indonesia Petani MAJU Summit 2026.
Baca juga: Ini Upaya Syngenta untuk Mendukung Ketahanan Pangan Indonesia
Agar peningkatan produktivitas benar-benar bermuara pada kesejahteraan petani, lanjut teguh, ketersediaan input produksi, distribusi, harga yang diterima petani, pengelolaan pascapanen, hingga efisiensi penggunaan air dan pupuk juga perlu diperhatikan karena saling berkaitan.
Teguh pun mendorong kolaborasi antaraktor untuk mencapai tujuan tersebut. Pemerintah dapat menetapkan arah pembangunan, lembaga penelitian mengembangkan inovasi, sementara industri dapat membantu membawa teknologi agar lebih dekat dengan kebutuhan di lapangan.
Head of Rice Genetic Design and Validation Unit International Rice Research Institute (IRRI) Prof Inez Slamet-Loedin mengatakan, riset dan inovasi menjadi salah satu jalan untuk mencapai produktivitas dan meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus. Terlebih, ilmu pengetahuan kian berkembang.
Saat ini, lanjutnya, pengembangan varietas padi telah memanfaatkan berbagai pendekatan pemuliaan modern, mulai dari genomic selection, precision breeding, speed breeding, hingga genome editing.
Meski demikian, rekayasa dan perbaikan genetik semestinya turut melibatkan petani. Bagaimanapun, petanilah yang bakal menanam bibit tersebut. Apalagi, kondisi lahan pertanian tiap daerah berbeda-beda.
Sejumlah narasumber berdiskusi dalam gelar wicara bertajuk ?Sinergi Kebijakan, Riset, dan Inovasi untuk Mendukung Kedaulatan Pangan? pada acara Festival Padi Petani MAJU Summit 2026 yang digelar Syngenta Indonesia di Hotel Kempinski Jakarta, Selasa (22/9/2026).“Kita harus selalu mendengarkan feedback dari petani,” kata Inez.
Senada, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Puji Lestari menambahkan, riset pertanian juga perlu menjawab permasalahan yang kerap dihadapi petani, seperti kekeringan, salinitas, hingga banjir.
Pada saat bersamaan, petani juga dapat dilibatkan dalam proses evaluasi hingga pengembangan teknologi. Dengan demikian, inovasi tidak berhenti sebagai capaian penelitian, tetapi benar-benar menjawab kondisi yang ditemui petani saat bertani.
Hal terpenting berikutnya adalah nilai tambah yang diberikan inovasi pertanian terhadap petani. Tanpa hal ini, kesejahteraan petani tidak akan terdongkrak.
International Business Manager Win-All Hi-Tech Seed Co, Ltd, Cherry Wang mengingatkan, teknologi yang berhasil secara teknis belum otomatis memberikan nilai bagi petani.
Pasalnya, petani akan memperhitungkan berbagai biaya yang dikeluarkan untuk mengaplikasikannya, mulai dari benih, perlindungan tanaman, hingga mekanisasi. Biaya tersebut akan dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh setelah panen.
Baca juga: Cukup Bawa KTP, Petani Kini Lebih Mudah Tebus Pupuk Subsidi
“Teknologi pertanian perlu diuji, disesuaikan dengan kondisi setempat, dipahami petani, hingga akhirnya layak diterapkan dalam kegiatan usaha tani,” jelas Cherry.
Petani, imbuhnya, pun tidak harus ditempatkan hanya sebagai pengguna di ujung proses tersebut. Dalam pengembangan teknologi, mereka dapat dilibatkan melalui demonstrasi varietas, pemberian umpan balik, serta penyempurnaan teknologi berdasarkan pengalaman di lapangan.
Dengan begitu, inovasi pertanian tidak hanya menawarkan hal baru, tetapi juga membantu petani mengelola risiko, meningkatkan hasil, serta memberi nilai ekonomi yang sepadan.
Seperti telah disinggung, sebanyak 60 persen petani Indonesia tergolong petani gurem. Ditambah lagi, sebagian besar berpendidikan sekolah dasar ke bawah. Jumlahnya mencapai 60,72 persen.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah karena berpotensi menghambat akses petani terhadap informasi dan inovasi.
Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan Silvi Charlote Sumanti menilai, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) menjadi bagian penting dari pengembangan pertanian.
Baca juga: Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Menurut Silvi, kemampuan petani dalam memahami dan menyerap teknologi perlu berkembang bersamaan dengan kemajuan inovasi.
Di sisi lain, diperlukan pula perubahan cara memandang profesi petani, Bukan lagi sekadar pelaku produksi, melainkan juga pengelola usaha yang harus mampu membaca risiko, mempertimbangkan biaya, memilih teknologi, hingga menentukan strategi untuk menjaga keberlanjutan usahanya.
“Petani masa depan itu seperti 'CEO', yakni petani yang adaptif terhadap teknologi dan memiliki jiwa kewirausahaan,” tutur Silvi.
Dengan perubahan cara pandang ini, generasi muda bakal tertarik untuk terjun ke sektor pertanian.
Berdasarkan Sensus Pertanian 2023 yang dilakukan BPS, terdapat 6,18 juta petani berusia 19-39 tahun atau sekitar 21,93 persen dari total petani Indonesia saat pencacahan dilakukan.
Kebutuhan untuk memastikan inovasi benar-benar dapat diterapkan di lapangan membuat transfer teknologi dan pendampingan menjadi bagian penting dalam transformasi pertanian.
Salah satu pendekatan tersebut dilakukan Syngenta Indonesia dengan menempatkan petani sebagai bagian dari pengembangan dan penerapan inovasi.
Presiden Direktur Syngenta Indonesia Eryanto mengatakan, pihaknya sejak awal menempatkan petani sebagai titik awal pengembangan inovasi.
“Kami percaya bahwa inovasi harus dimulai dari petani. Ketika kita memahami kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi, kita dapat bersama-sama mendorong riset, teknologi, dan inovasi yang lebih relevan dan dapat memberikan dampak nyata,” ujar Eryanto.
Upaya itu tidak hanya dilakukan saat mengembangkan teknologi pertanian. Syngenta Indonesia juga melakukan transfer pengetahuan dan pendampingan.
Hingga kini, perusahaan telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 700.000 petani serta membangun 24 titik pusat pelatihan yang tersebar dari Sumatera hingga Sulawesi.
Pusat pelatihan menjadi ruang bagi petani untuk mempelajari teknologi dan pengetahuan pertanian serta memperpendek jarak antara inovasi dan pengguna akhirnya.
Untuk memudahkan pendampingan, Syngenta Indonesia menginisiasi Komunitas Petani MAJU 10 Ton yang telah berjalan sekitar satu dekade.
Baca juga: Program Perlindungan Petani, Upaya Syngenta dan BPJS Ketenagakerjaan Jaga Ketahanan Pangan Nasional
Eryanto mengatakan, komunitas tersebut menjadi wadah bagi petani untuk belajar dan saling menguatkan. Pendampingan petugas lapangan memungkinkan petani yang lebih dulu mengadopsi teknologi menjadi contoh bagi petani lain.
Sardi sendiri menjadi salah satu petani yang tumbuh bersama komunitas tersebut. Eryanto menceritakan, petani yang lebih dulu mengadopsi teknologi dapat menjadi contoh bagi kelompoknya. Dengan begitu, pengalaman dan manfaat dari teknologi baru dapat menyebar kepada petani lain.
Dengan pola tersebut, transfer teknologi tidak hanya berlangsung dari perusahaan kepada petani. Pengalaman antarpelaku usaha tani juga dapat menjadi bagian dari pembelajaran dan adopsi teknologi di tingkat komunitas.
Pendekatan tersebut dirangkum Syngenta Indonesia melalui empat pilar Petani MAJU, yakni Maximize Profitability untuk mendorong keuntungan petani, Accelerate Innovation untuk mempercepat inovasi, Joint Effort in Sustainability untuk memperkuat praktik berkelanjutan, serta United One Team yang menekankan kolaborasi lintas pihak.
Semangat yang sama kemudian dibawa dalam Festival Padi Petani MAJU 2026 yang berlangsung selama tiga hari mulai Selasa (22/9/2026) hingga Kamis (24/9/2026).
Eryanto menjelaskan, hari pertama festival dimulai dengan penyelenggaraan Indonesia Petani MAJU Summit sebagai ruang dialog dan kolaborasi yang mempertemukan kebijakan, riset, inovasi, serta perspektif petani.
Pada hari kedua, rangkaian berlanjut di Pusat Riset dan Pengembangan Perlindungan Tanaman Syngenta di Cikampek, Jawa Barat. Di fasilitas tersebut, teknologi perlindungan tanaman menjalani pengujian sebelum diterapkan di tingkat petani.
Baca juga: Upaya Syngenta Memajukan Petani RI, Edukasi Teknologi Dilakukan Melalui Lomba hingga Jambore
Adapun puncak festival berlangsung pada Kamis yang bertepatan dengan Hari Tani Nasional di pusat pelatihan Syngenta Indonesia di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Perayaan tersebut juga digelar secara serentak bersama petani di 12 titik yang tersebar dari Sumatra hingga Sulawesi.
Teguh pun mengapresiasi peran Syngenta Indonesia sebagai salah pihak swasta yang telah membantu sektor pertanian Indonesia.
Menurutnya, Syngenta Indonesia telah mengambil peran mulai dari riset terapan, penyediaan benih, praktik budi daya, hingga teknologi untuk menangani persoalan tanaman.
“Syngenta ini sebenarnya menjadi salah satu jembatan antara visi pemerintah yang sudah dituangkan dalam perencanaan pembangunan itu bisa kemudian terwujud di lapangan,” ujar Teguh kepada awak media.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya