Ia mencontohkan Desa Gulingan di Badung yang disebut mampu mengelola hampir seluruh sampah dari sekitar 10.000 penduduk melalui pemilahan dan pengolahan di tingkat desa.
Contoh lain adalah pengelolaan kotoran ternak untuk dimanfaatkan kembali di Desa Gedangan, Kabupaten Boyolali.
Baca juga: Kali Sipon Tangerang Dipenuhi Sampah, Air Menghitam dan Bau Menyengat
Menurut Diaz, praktik tersebut menunjukkan bahwa persoalan pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga bagaimana praktik yang sudah berjalan dapat diperluas dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.
“Yang diperlukan adalah bagaimana kita bisa scale up. Kita membutuhkan upaya yang lebih terkoordinasi,” ucapnya.
Sebelumnya, Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular KLH Agus Rusly meminta pemerintah daerah mendorong masyarakat mengelola sampah rumah tangga masing-masing, terutama setelah TPA dengan sistem *open dumping* ditutup.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2024 yang disampaikan Agus, rumah tangga menjadi sumber 50,78 persen sampah.
Sementara itu, sisa makanan menjadi komposisi sampah terbesar, yakni 39,87 persen.
Menurut Agus, sampah organik rumah tangga dapat diolah menjadi kompos, pupuk cair, maupun biogas melalui *biodigester*.
Dengan pengolahan dari sumber, jumlah sampah organik yang masuk ke TPA dapat dikurangi.
“Contohnya, kalau masyarakat di Jakarta menghasilkan 8.000 ton sampah dalam sehari, jika semua masyarakat Jakarta mengelola sampah organik di rumah masing-masing, minimal 4.000 ton itu yang bisa diselesaikan. Sampai itu 50 persen selesai dari sumbernya,” ujar Agus dalam webinar Pengelolaan Sampah dan Fasilitasi Kebijakan di Daerah, Kamis (9/4/2026).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya