GIANYAR, KOMPAS.com - Di kawasan wisata Kemenuh Monkey River, Desa Kemenuh, Kabupaten Gianyar, terdapat area pemakaman khusus kera.
Mulanya, pihak pengelola Kemenuh Monkey River menguburkan seekor kera yang mati akibat luka akibat perkelahian di area pemakaman manusia.
Namun, ternyata penguburan kera oleh manusia menimbulkan "penolakan" dari alam, sehingga saat ini proses tersebut sepenuhnya dibiarkan secara alami.
Baca juga: Puluhan Monyet Hutan Kera Turun Gunung Serbu Rumah Warga Pahoman
Ini diketahui setelah ada kera yang mati, kawanannya sendiri yang akan mengambil jasadnya dan menguburkannya di area pemakaman secara seadanya pada malam hari.
"Makanya, di Bali jarang kita melihat bangkai kera di alam, kecuali kalau di tempat-tempat lain kan ada yang ketabrak. Kalau di alam sendiri kita jarang menemukan, pun kadang-kadang sudah jadi tengkorak," ujar tim marketing dari Kemenuh Monkey River, Ida Bagus Bhaskara, Jumat (18/9/2026).
Kawasan Kemenuh Monkey River dihuni oleh populasi kera yang terbagi ke dalam kelompok-kelompok yang dipimpin oleh pemimpin masing-masing dengan total mencapai sekitar 140 ekor.
Kelompok kera yang ada di kawasan ini antara lain kelompok Sania, serta kelompok Kumis. Sebelumnya, juga ada serta mengambil alih wilayah selatan dari kelompok pendahulunya yang dipimpin oleh seekor raja kera bernama Opa.
Opa, yang diceritakan memiliki ciri fisik tangannya buntung dan telah mati karena usia tua, kini diabadikan dalam bentuk patung monumen di kawasan Kemenuh Monkey River.
Pemimpin atau raja kera di alam liar biasanya mudah dikenali dari bekas-bekas luka di tubuh atau wajahnya, yang diperoleh dari perkelahian saat mereka harus maju paling depan untuk menjaga dan melindungi kawanannya.
Pihak pengelola Kemenuh Monkey River mengurung sepasang kera putih yang dianggap sebagai simbol Hanoman dalam kandang.
Kera putih jantan yang saat ini berusia hampir dua tahun bernama Tomplos. Karena kondisi genetiknya yang berbeda, Tomplos dan pasangannya harus ditempatkan di dalam kandang pelindung. Jika dilepasliarkan, kera liar lainnya akan merasa asing dan menyerang mereka.
Secara umum, kera-kera di kawasan ini sudah diajari dan tergolong jinak sehingga aman dan ramah bagi pengunjung.
Dalam berinteraksi dengan kera, wisatawan tidak dianjurkan untuk memberikan makanan secara langsung atau sembarangan tanpa didampingi oleh pawang atau tim khusus.
Baca juga: Ramai Kera Ekor Panjang Ngamuk di Permukiman Bandungan Semarang, Cakar dan Gigit Warga
Hal ini dilakukan karena kera memiliki insting yang kuat dan mampu mendeteksi keraguan atau ketidaktulusan dari manusia yang memberinya makan, yang justru dapat memicu reaksi agresif.
"Mau memberi, tetapi diambil ditarik gitu. Nah, itu tuh enggak boleh sebenarnya. Kalau emang kita benar-benar memberi, beri secara kasih sayangnya tulus, ikhlas," tutur Bhaskara.
Kelompok Kumis, salah satu kelompok kera di Kemenuh Monkey River, Kabupaten Gianyar, Bali, pada Jumat (18/9/2026).Pihak pengelola Kemenuh Monkey River juga menanam berbagai tanaman buah, seperti pisang, jambu, dan markisa, untuk menjamin ketersediaan variasi makanan agar para kera tidak merasa bosan.
Pihak pengelola Kemenuh Monkey River berusaha keras menciptakan lingkungan yang senyaman mungkin bagi para kera, menyerupai habitat aslinya.
Mengadaptasi masukan dari para pencinta hewan, pihak pengelola Kemenuh Monkey River memastikan keberadaan kolam dan sumber air yang melimpah agar kera merasa lebih tenang dan mengurangi sifat agresif mereka.
Untuk menjaga keasrian dan kesan alami, pembangunan fasilitas berbahan beton sangat dibatasi dan digantikan dengan penggunaan material kayu. Salah satu fasilitas unik yang ada adalah "rumah kebo", yang dibangun menggunakan kayu-kayu bekas dari kandang kerbau yang didatangkan langsung dari Jawa.
Selain sebagai habitat kera, kawasan Kemenuh Monkey River juga berfungsi sebagai tempat wisata spiritual. Pengunjung dapat melakukan ritual penglukatan (pembersihan diri) di Pura Beji.
Karena setiap pengunjung memiliki keyakinan yang berbeda-beda, prosesi doa melukat dilakukan secara mandiri.
Pihak pengelola kawasan Kemenuh Monkey River hanya membantu menghaturkan sesajen di pagi hari dan mengarahkan alur prosesinya dari depan Pura Beji agar pelaksanaannya tidak salah. Setelah prosesi pembersihan diri selesai, wisatawan juga dapat berendam di aliran air terjun yang bersumber dari goa setempat.
Suasana sungai dengan pepohonan yang asri di kawasan wisata Kemenuh Monkey River, Desa Kemenuh, Kabupaten Gianyar, Jumat (18/9/2026).Pengelolaan sampah di kawasan Kemenuh Monkey River dilakukan secara sistematis, dengan sampah organik diambil setiap hari Rabu dan Jumat. Sedangkan sampah anorganik yang bernilai jual dapat dikumpulkan masyarakat kapan pun.
Untuk sampah residu diangkut setiap hari Minggu oleh pihak desa menggunakan dua kendaraan transportasi khusus.
Meski kawasan telah dijaga ketat agar bersih dari sampah, tantangan alam tetap ada. Saat musim hujan tiba, debit air sungai bisa naik secara signifikan dan membawa sampah-sampah plastik kiriman dari wilayah hulu.
Baca juga: Ilmuwan Teliti Kerangka Manusia Tertua yang Diduga Setengah Kera
Menghadapi situasi ini, para pekerja taman (garden) dengan sigap akan memungut sampah-sampah plastik yang terbawa arus untuk kemudian dikembalikan ke tempat penampungan residu.
Edukasi kepada wisatawan juga terus dilakukan agar tidak membuang sampah sembarangan di area wisata, demi menjaga kelestarian ekosistem dan keasrian tempat tinggal kera.
Pihak pengelola kawasan Kemenuh Monkey River bekerja sama dengan PepsiCo Indonesia melalui Bali Waste Cycle (BWC) dalam mendaur ulang sampah residu menjadi produk bernilai.
Salah satunya, papan petunjuk arah yang terbuat dari material hasil daur ulang kemasan makanan ringan (multi-layer plastic/MLP), mencerminkan bagaimana kawasan wisata Kemenuh Monkey River mempertimbangkan aspek lingkungan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya