KOMPAS.com - Kebakaran hutan yang terjadi di kawasan hutan tropis Kalimantan meningkatkan ancaman terhadap populasi orang utan Kalimantan yang statusnya kini kritis terancam punah, ungkap International Union for Conservation of Nature (IUCN), Sabtu (26/9/2026).
Indonesia sendiri telah berjuang melawan kebakaran hutan selama berminggu-minggu di sebagian wilayah Kalimantan dan Sumatra, yang menghasilkan kabut asap pekat hingga menyelimuti pulau-pulau tersebut serta negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Baca juga: Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Kebakaran melahap wilayah habitat yang dihuni oleh 52 persen populasi orangutan, termasuk 13 dari 20 kelompok populasi tersisa yang paling besar, jelas IUCN.
"Paparan api dan asap memberikan dampak fisik, perubahan perilaku, dan tekanan ekologis yang terukur bagi orangutan di habitat hutan gambut," ungkap jaringan konservasi tersebut dikutip dari Phys.
Saat terjadi kabut asap, tubuh orangutan menunjukkan tanda-tanda pemecahan lemak meskipun mereka telah makan dan beristirahat lebih banyak.
Hal ini menandakan adanya peningkatan kebutuhan energi tubuh, yang kemungkinan besar terjadi karena sistem kekebalan tubuh mereka harus bekerja ekstra keras.
Kebakaran hutan juga dilaporkan terjadi di lokasi habitat milik lima spesies owa di wilayah Sumatra dan Kalimantan, tambah IUCN.
Owa di hutan menghirup udara penuh asap yang sama seperti masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Sangat beralasan untuk menduga bahwa mereka mengalami gangguan pernapasan yang serupa, di samping kehilangan tempat tinggal dan terganggunya perilaku alami yang menjaga keberlangsungan populasi mereka di alam liar.
Hingga hari Selasa,(22/9/2026) pemerintah telah menyelamatkan 100 ekor satwa, termasuk 53 ekor orangutan yang terancam oleh kobaran api, menurut juru bicara Kementerian Kehutanan.
Para penggiat konservasi mendesak pemerintah untuk tidak hanya berhenti pada penanganan darurat, tetapi juga menerapkan langkah-langkah pencegahan jangka panjang.
"Penanganan darurat harus dilanjutkan dengan investasi berkelanjutan untuk mencegah kebakaran di masa depan," tegas Ronna Saab dari Forum Konservasi Orangutan Indonesia (FORINA) dalam keterangannya.
Baca juga: PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
"Langkah-langkah tersebut mencakup perlindungan dan pembasahan kembali lahan gambut, mengatasi pengeringan dan penggundulan hutan, serta memastikan kawasan hutan yang terbakar dilindungi dari alih fungsi lahan dan dipulihkan dengan benar," tambah Saab.
Pemerintah Indonesia mencatat lebih dari 202.000 hektar lahan terbakar di seluruh negeri antara bulan Januari hingga Juli.
Sementara itu, proyek Nusantara Atlas memperkirakan angka kebakaran lahan jauh lebih besar, yaitu mendekati 900.000 hektar sepanjang bulan Januari hingga Agustus.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya