KOMPAS.com - Laporan PBB memperingatkan bahwa dunia kini memiliki sisa waktu yang semakin sempit untuk memulihkan hutan-hutan yang sangat penting bagi ketahanan pangan dan ketahanan terhadap krisis iklim.
Melansir Guardian, Selasa (29/9/2026) organisasi dunia tersebut mencatat bahwa lebih dari 489 juta hektar hutan telah dibabat sejak tahun 1990, sementara area yang mengalami kerusakan bahkan lebih luas lagi.
Oleh karena itu, PBB mendesak pemerintah di berbagai negara untuk menjadikan pemulihan hutan sebagai prioritas nasional.
Laporan The State of the World’s Forests mengakui adanya kemajuan dalam perlindungan dan penanaman pohon di tingkat global, tetapi menilai bahwa aksi nyata di lapangan masih tertinggal jauh dari komitmen yang telah dijanjikan.
Baca juga: FAO: Hutan Jadi Kunci Utama Ketahanan Pangan, Gizi, dan Mata Pencaharian
Selama dua dekade terakhir, berbagai inisiatif nasional, regional, dan global berjanji untuk memulihkan lebih dari 1 miliar hektar lahan.
Namun, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat bahwa baru sekitar seperlimanya yang benar-benar dipulihkan dan menegaskan kemajuan yang ada masih belum merata dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan global yang terus meningkat.
Hutan sendiri mencakup 4,14 miliar hektar atau sekitar sepertiga permukaan daratan bumi, menyimpan 714 gigaton karbon, dan menjadi rumah bagi 80 persen keanekaragaman hayati darat.
Hutan juga berperan penting dalam mengatur curah hujan serta mengurangi kelaparan, dengan hampir sepertiga penduduk dunia menggantungkan hidup padanya.
Namun, ancaman terhadap hutan semakin parah setiap harinya. Setiap tahun, sekitar 127 juta hektar hutan melahap api akibat kebakaran, ditambah kerusakan akibat serangan hama, penyakit, dan cuaca ekstrem.
Kondisi ini membuat hutan semakin rentan, apalagi di tengah tekanan pembukaan lahan pertanian, krisis iklim, polusi, serta penambangan bahan bakar fosil dan sumber daya alam lainnya.
"Makin lebarnya jarak antara kebutuhan manusia dan pasokan kayu atau hasil hutan yang lestari ini menunjukkan ketidakseimbangan besar. Hal ini mengancam kelestarian alam sekaligus kelangsungan ekonomi berbasis hutan jangka panjang," tegas laporan tersebut.
Laporan itu menekankan bahwa pemulihan hutan dan ekosistem yang rusak akan membawa manfaat besar bagi masyarakat, ketahanan pangan, dan perekonomian. Pemulihan 1 miliar hektar lahan diperkirakan dapat menghasilkan keuntungan ekonomi hingga 1,8 triliun dolar AS (sekitar Rp 27.000 triliun) setiap tahunnya.
Baca juga: Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Qu Dongyu, Direktur Jenderal FAO, menyatakan bahwa laporan ini memperjelas bahwa pemulihan hutan dan alam bukan sekadar prioritas lingkungan tetapi investasi strategis untuk sistem pangan yang tangguh dan pembangunan pedesaan.
"Waktu untuk bertindak semakin sempit. Penundaan atau perbaikan yang asal-asalan justru akan membengkakkan biaya jangka panjang, memperlebar ketimpangan, dan menjebak lingkungan dalam kerusakan permanen. Mengingat terus berlanjutnya kerusakan hutan serta melonjaknya kebutuhan dunia akan produk olahan lahan, pemulihan skala besar harus segera dilakukan sekarang juga," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya