KOMPAS.com - Para ilmuwan meluncurkan Global Glacier Extinction Explorer, sebuah situs web interaktif baru yang memungkinkan siapa saja menjelajahi perkiraan masa depan gletser di seluruh dunia.
Dengan mengunjungi www.glacierextinction.com, pengguna dapat memeriksa apa dan kapan perkiraan waktu sebuah gletser diproyeksikan akan hilang akibat berbagai tingkat pemanasan global.
Platform ini dikembangkan berdasarkan studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature Climate Change, yang dipimpin para peneliti dari ETH Zurich dan Vrije Universiteit Brussel bersama tim riset internasional.
Situs web kemudian dikembangkan penulis utama Lander Van Tricht (ETH Zurich / VUB) bersama Kristof Van Tricht (VITO Remote Sensing), yang mengubah hasil perkiraan ilmiah menjadi peta interaktif yang mudah diakses.
Melansir Phys, Jumat (11/9/2026) studi tersebut memberikan penilaian global pertama mengenai hilangnya gletser secara individual dan menunjukkan bahwa dunia sedang mendekati periode kepunahan gletser yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Angka-angka global seperti hilangnya massa atau luas gletser bisa terasa sangat abstrak. Dengan situs web ini, orang-orang dapat memperbesar tampilan ke wilayah lembah atau pegunungan mereka sendiri dan melihat apa arti dari berbagai tingkat pemanasan global bagi gletser yang mereka kenal," kata Van Tricht.
Baca juga: Pemanasan Global Percepat Pencairan Es di Papua, Gletser Tropis Terakhir Asia akan Punah
"Kami berharap platform ini juga dapat membantu masyarakat setempat bersiap menghadapi masa depan dengan jumlah gletser yang makin sedikit," paparnya lagi.
Peluncuran situs ini bertepatan dengan masa sulit lainnya bagi gletser di Eropa. Tahun 2026 kembali terbukti menjadi tahun yang sangat buruk bagi gletser di pegunungan Alpen Eropa. Pengukuran akhir musim panas masih berlangsung, tetapi pengamatan awal menunjukkan bahwa tahun 2026 bisa menjadi salah satu tahun terburuk bagi gletser Alpen sejak pengukuran resmi dimulai.
Kombinasi dari rendahnya penumpukan salju di musim dingin dan beberapa gelombang panas di musim panas telah menyebabkan hilangnya es dalam jumlah besar di seluruh wilayah Alpen. Bagi gletser-gletser terkecil, satu musim pencairan ekstrem lagi sudah cukup untuk membuat mereka punah sepenuhnya.
Salah satu contohnya adalah Gletser Bella Tola di dekat Saint-Luc, Swiss, yang secara resmi dinyatakan punah pada Agustus 2026 setelah hampir lenyap sepenuhnya.
Menariknya, hal ini sangat cocok dengan perkiraan dalam studi Nature Climate Change di mana Gletser Bella Tola memang diproyeksikan akan hilang antara tahun 2026 dan 2029. Gletser Urirotstock juga dinyatakan punah pada musim panas ini, menjadi contoh nyata lainnya dari cepatnya hilangnya gletser-gletser terkecil di Swiss.
"Contoh-contoh ini membuat konsep kepunahan gletser menjadi sangat nyata," kata Van Tricht.
"Perkiraan kami menunjukkan bahwa banyak gletser kecil di Alpen yang mendekati akhir masa hidupnya, dan sekarang kita menyaksikan proses ini terjadi secara langsung. Gletser Bella Tola adalah contoh yang sangat jelas, karena hilangnya gletser ini terjadi tepat dalam rentang waktu kepunahan yang diperkirakan oleh model kami," terangnya lagi.
Meskipun musim pencairan ekstrem dapat menjadi tahap akhir dari penurunan gletser, proses utamanya sebenarnya berkembang dalam jangka waktu yang jauh lebih lama.
Baca juga: Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
"Hilangnya sebuah gletser bukanlah hasil dari satu musim panas yang terik saja, melainkan puncaknya dari akumulasi kehilangan massa es selama bertahun-tahun. Tahun demi tahun, curah salju yang kurang dan pencairan musim panas yang kuat secara bertahap mengikis gletser hingga es tersebut tidak mampu bertahan lagi," tambah penulis pendamping Harry Zekollari (VUB).
"Namun, tahun-tahun pencairan ekstrem seperti 2022 atau 2026 dapat mempercepat tahap akhir ini," terang Zekollari.
Studi dasar kepunahan gletser ini mengandalkan perkiraan terbaru dari tiga model gletser global yang diterbitkan dalam jurnal The Cryosphere oleh Zekollari dan rekan-rekan (2024), untuk menentukan berapa banyak gletser yang akan hilang, di mana lokasi kejadiannya, dan kapan hal itu terjadi.
Studi ini mengenalkan konsep puncak kepunahan gletser yaitu periode ketika jumlah gletser yang hilang setiap tahunnya mencapai angka tertinggi.
Pada kenaikan suhu global 1,5 derajat C, sekitar 2.000 gletser per tahun diperkirakan akan hilang di seluruh dunia pada masa puncak kepunahan. Angka ini melonjak hampir dua kali lipat jika suhu naik hingga 4 derajat C.
Pada tahun 2100, hampir separuh gletser saat ini masih dapat bertahan pada pemanasan 1,5 derajat C, dibandingkan dengan hanya sekitar 20 persen pada 2,7 derajat C dan kurang dari 10 persen pada 4 derajat C.
Angka global ini menutupi perbedaan kawasan yang sangat tajam di mana di Pegunungan Alpen Eropa, hanya tersisa sekitar 110 gletser jika suhu naik 2,7 derajat C, dan tinggal 20 gletser jika pemanasan mencapai 4 derajat C.
"Setiap kenaikan suhu, sekecil apa pun, sangatlah berarti," kata Van Tricht.
"Membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat C dapat menyelamatkan gletser lebih dari dua kali lipat banyaknya pada tahun 2100 dibandingkan jika suhu naik hingga 2,7 derajat C," tambahnya.
Baca juga: Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
Gletser lebih dari sekadar tumpukan es raksasa. Gletser membentuk bentang alam dan ekosistem, menjadi sumber air bersih dan pariwisata, serta memiliki makna budaya dan emosional yang kuat bagi masyarakat setempat.
Dengan situs web baru ini, pengguna dapat mencari gletser mana saja di dunia dan melihat bagaimana perkiraan masa hidupnya berubah pada berbagai skenario pemanasan global.
Kendati demikian tahun kepunahan yang ditampilkan tidak boleh dianggap sebagai ramalan yang pasti. Setiap gletser merespons secara berbeda tergantung pada ukuran, ketinggian, bentuk, dan iklim setempat, sementara tingkat pemanasan global di masa depan sendiri masih belum pasti.
Sebaliknya, perkiraan ini memberikan gambaran tentang kapan sebuah gletser kemungkinan besar akan lenyap dan seberapa besar waktu kepunahan tersebut bergantung pada tingkat pemanasan global di masa depan.
"Kenyataan bahwa beberapa gletser yang diperkirakan akan hilang dalam studi kami sudah mulai lenyap hari ini menunjukkan bahwa kepunahan gletser bukanlah masalah jauh di akhir abad nanti. Ini sedang terjadi sekarang," kata Van Tricht.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya