Dengan demikian, pencapaian target 100 GWp membutuhkan peningkatan kapasitas secara signifikan dalam waktu sekitar tiga tahun.
Menurut IEEFA, perubahan tersebut tidak hanya menyangkut kapasitas pembangkit, tetapi juga perencanaan transmisi, storage, pengadaan, pembiayaan, serta integrasi PLTS terdistribusi dan PLTS atap.
RUPTL 2025-2034 sendiri mengalokasikan kapasitas PLTS atap sebesar 3 GW. IEEFA menilai angka tersebut menunjukkan adanya perbedaan skala antara perencanaan yang berlaku dengan target PLTS 100 GWp yang diumumkan pemerintah pada Agustus 2026.
Dari sisi pendanaan, IEEFA memperkirakan program PLTS 100 GWp membutuhkan investasi sekitar 73 miliar dollar AS dalam tiga tahun, atau rata-rata sekitar 24 miliar dollar AS per tahun.
Kebutuhan tersebut sekitar 15 kali lipat dibandingkan realisasi investasi pembangkit pada 2025.
Karena itu, IEEFA menilai pencapaian target tersebut membutuhkan mobilisasi modal dari sektor swasta dan lembaga pembiayaan, terutama di tengah keterbatasan ruang fiskal pemerintah.
Baca juga: Lewat PLTBg dan PLTS, Pertamina NRE Buktikan Bisnis EBT Menguntungkan
Randi mengatakan, kepastian mengenai daftar proyek dan jadwal pengadaan menjadi salah satu faktor penting untuk menarik investasi.
Daftar proyek yang jelas dan dapat diprediksi akan membantu pengembang dan pemberi pinjaman menyiapkan investasi serta pembiayaan sejak awal.
Selain itu, dukungan pemerintah melalui mekanisme tarif, akses terhadap lahan milik negara, dan pembiayaan lunak dinilai dapat meningkatkan kelayakan proyek untuk memperoleh pembiayaan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya