KOMPAS.com - Cita rasa, porsi yang mengenyangkan, dan kebiasaan makanan menjadi syarat utama agar siswa mau menerima menu ramah lingkungan di sekolah.
Hal tersebut terungkap dalam sebuah studi yang dilakukan di Swedia terhadap 1.268 siswa kelas 4-9 di enam sekolah.
Analisis yang dilakukan peneliti dari Universitas Gothenburg dan Universitas Teknologi Chalmers pada musim gugur 2021 ini juga menemukan siswa lebih fleksibel menerima pengurangan porsi daging secara bertahap daripada penerapan hari bebas daging secara total.
Studi pun menunjukkan pentingnya mempertimbangkan persepsi konsumen muda dalam merancang kebijakan konsumsi pangan berkelanjutan.
Melansir Phys, Minggu (4/10/2026) hasil survei menunjukkan bahwa sikap positif terhadap makanan sekolah yang ramah iklim paling kuat terlihat pada siswa yang menganggap isu iklim itu penting saat memilih makanan, serta pada mereka yang lebih sering menyantap makanan vegetarian di sekolah.
Baca juga: 258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Siswa perempuan juga menunjukkan sikap yang lebih positif dibandingkan siswa laki-laki.
Sementara itu tingkat kesadaran bahwa daging merah memiliki jejak karbon lebih besar dibanding makanan vegetarian tergolong tinggi, bahkan di kalangan siswa yang bersikap negatif sekalipun. Namun, kesadaran ini hanya berpengaruh kecil terhadap sikap atau pilihan makanan mereka.
Studi ini dilakukan sejalan dengan program eksperimen di mana jejak karbon dari makanan sekolah berhasil dikurangi hingga 20 persen tanpa memengaruhi porsi makan siswa maupun tingkat kepuasan mereka terhadap makanan tersebut.
"Banyak dapur sekolah yang sudah mulai mengubah resep agar kandungan bahan berjejak karbon tinggi bisa dikurangi, sembari tetap menyajikan porsi makanan vegetarian yang cukup tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa penyesuaian resep tersebut bisa menjadi pendekatan pelengkap yang efektif untuk menekan dampak iklim, sekaligus memastikan makanan tetap disukai oleh para siswa," ujar Erik André, mahasiswa doktoral di Universitas Teknologi Chalmers dan Pemerintah Kota Gothenburg.
Monica Hunsberger, profesor madya bidang kesehatan masyarakat di Akademi Sahlgrenska, Universitas Gothenburg mengungkapkan para siswa sebenarnya sadar akan jejak karbon dari makanan mereka.
Namun ketika jam makan siang tiba, hal lain menjadi jauh lebih penting. Yang paling utama bagi mereka adalah apakah makanannya terasa lezat, mengenyangkan, dan terasa akrab di lidah.
Baca juga: Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Dalam diskusi kelompok, daging masih dianggap sebagai standar utama bagi banyak siswa untuk menyebut suatu hidangan sebagai makanan yang 'sebenarnya' dan mengenyangkan.
Makanan vegetarian selalu dibandingkan dengan standar ini, dan akan lebih mudah diterima jika bentuk atau rasanya mirip dengan makanan yang sudah biasa mereka santap.
Para siswa cenderung lebih setuju jika jejak karbon dari makanan sekolah dikurangi melalui pemotongan porsi daging dalam resep, dibandingkan jika harus menambah hari khusus yang sepenuhnya tanpa daging atau vegetarian.
Secara umum, survei siswa menunjukkan sekitar empat dari 10 siswa dalam survei bersikap netral terhadap menu sekolah yang lebih ramah iklim, sementara sisanya terbagi seimbang antara yang mendukung dan menolak.
Dalam sesi diskusi, para siswa menjelaskan bahwa mengurangi porsi daging dalam resep jauh lebih mudah diterima daripada harus menambah hari bebas daging. Sebagai gambaran, saat penelitian dilakukan, sekolah-sekolah tersebut sudah menerapkan satu atau dua hari bebas daging per minggunya.
Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Appetite.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya