Editor
Pada 2025, sekitar 23.660 kiloliter (KL) atau 65 persen konsumsi bensin nasional masih harus dipenuhi melalui impor. Peningkatan penggunaan kendaraan listrik dinilai dapat membantu mengurangi kebutuhan tersebut.
Setiap tambahan satu juta kendaraan listrik diperkirakan dapat menghemat sekitar 1.250 KL konsumsi bensin per tahun.
Baca juga: Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Pada saat yang sama, pengembangan industri kendaraan listrik di dalam negeri juga disebut berpotensi menciptakan hingga 500.000 lapangan kerja baru.
Dengan demikian, elektrifikasi sektor transportasi tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM), tetapi juga dapat mendukung industrialisasi dan penciptaan lapangan kerja.
Sumber permintaan listrik baru juga datang dari sektor industri. Hilirisasi mineral dan pertumbuhan pusat data diperkirakan membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dalam beberapa tahun mendatang.
Mengacu pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, hilirisasi nikel diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 13,6 GW kapasitas pembangkit listrik captive.
Baca juga: Saat Harga Migas Melambung, Energi Terbarukan Jadi Penyelamat Negara Eropa
Sementara itu, kebutuhan listrik pusat data diproyeksikan meningkat dari sekitar 640 megawatt (MW) pada awal 2026 menjadi 1,7 GW pada pertengahan 2027.
Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma mengatakan, peningkatan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan energi yang akan datang dari industri pusat data.
Menurut dia, sekitar 30 persen anggota IDPRO menargetkan pencapaian net zero emissions pada 2030. Karena itu, industri pusat data juga memiliki kepentingan besar terhadap ketersediaan pasokan energi terbarukan.
Kebutuhan energi hijau juga datang dari perusahaan global yang beroperasi di Indonesia.
CEO Climate Group Helen Clarkson mengatakan, sekitar 35 persen perusahaan yang tergabung dalam RE100 memiliki operasi di Indonesia.
Baca juga: PBB: Energi Terbarukan Lokal jadi Kunci Keamanan Negara
RE100 merupakan inisiatif global yang menghimpun perusahaan-perusahaan yang berkomitmen menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan.
Kondisi tersebut membuat kemampuan Indonesia dalam menyediakan listrik hijau semakin penting, terutama untuk mendukung perusahaan yang memiliki target penggunaan energi terbarukan dalam operasionalnya.
Di tengah pertumbuhan permintaan, penyediaan listrik perlu berkembang dengan arah yang selaras dengan target transisi energi.
Baca juga: Rekor Global 2025, Kapasitas Energi Terbarukan Tumbuh 692 GW
EVP Manajemen Aset dan Sistem Manajemen Terintegrasi PT PLN (Persero) Tri Hardimasyar mengatakan, PLN terus menyiapkan pasokan untuk merespons kebutuhan listrik yang meningkat.
“PLN memastikan kesiapan penyediaan listrik untuk menjawab kebutuhan energi yang terus meningkat. Salah satu langkah yang kami lakukan adalah melalui pengembangan energi surya 100 GWp secara bertahap, yang pada fase pertama difokuskan untuk mengurangi konsumsi diesel di wilayah yang belum terintegrasi dengan jaringan listrik konvensional, melalui pengembangan PLTS atap maupun PLTS terapung,” ujar Tri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya