Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui

Kompas.com, 8 Oktober 2026, 08:23 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com-Kerugian ekonomi akibat emisi karbon diperkirakan bisa mencapai hingga empat kali lipat lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, sementara kenaikan permukaan air laut global dipastikan akan terus terjadi hingga berabad-abad mendatang.

Laporan bertajuk 10 New Insights in Climate Science 2026/2027 mengungkapkan bahwa suhu Bumi pada tahun 2025 tercatat lebih hangat sekitar 1,43 derajat C dibanding era pra-industri.

Pada saat yang sama, aktivitas manusia menghasilkan rekor emisi karbon dioksida (CO2) tertinggi dari bahan bakar fosil dan semen, yaitu sebanyak 38,1 miliar ton.

Melansir Down to Earth, Rabu (7/10/2026) laporan ini mengompilasi bukti ilmiah terbaru untuk mengidentifikasi 10 perkembangan penting mulai dari perubahan iklim fisik, ketahanan air, sistem pangan, ekonomi karbon, hingga geopolitik.

Dekade 2015 hingga 2025 menjadi periode 11 tahun terpanas dalam sejarah. Konsentrasi CO2 di atmosfer pada 2025 telah naik 53 persen dibanding era pra-industri. Sayangnya, janji penurunan emisi dari negara-negara dunia saat ini baru mencapai 12 persen pada 2035, sangat jauh dari target 55 persen yang dibutuhkan untuk menahan pemanasan di angka 1,5 derajat C.

Baca juga: Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari

“Bukti ilmiah sudah sangat jelas bahwa 1,5 derajat C adalah ambang batas yang melahirkan risiko besar jika kita lewati. Di luar batas itu, risiko dampak iklim yang beruntun dan tidak dapat dipulihkan akan makin meningkat. Setiap kenaikan 0,1 derajat C akan membuat dampaknya makin parah,” tegas Johan Rockström, Direktur Potsdam Institute for Climate Impact Research.

Kenaikan air laut dan suhu panas samudra

Laporan tersebut mencatat bahwa suhu panas samudra kembali memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut pada 2025. Lautan menyerap lebih dari 90 persen kelebihan panas di Bumi, dan butuh waktu sekitar 25 tahun bagi panas tersebut untuk meresap dari permukaan hingga kedalaman 2.000 meter. Artinya, sebagian dari pemanasan laut saat ini sudah terlanjur terjadi dan tidak bisa dibatalkan.

Kecepatan kenaikan permukaan air laut global telah melonjak dua kali lipat dalam 30 tahun terakhir. Jika kebijakan iklim saat ini terus berlanjut hingga 2050, air laut diproyeksikan akan naik 30 cm pada tahun 2300.

Jika pola ini dibiarkan hingga 2090, kenaikan air laut bisa mencapai 80 cm. Namun, jika kita menerapkan pemangkasan emisi yang ketat sesuai Perjanjian Paris, kita bisa mencegah kenaikan sebesar 600 milimeter dari total risiko tersebut.

Laporan ini juga memperkirakan bahwa gletser di dunia bisa kehilangan hingga 39 persen massanya yang akan menyumbang sekitar 113 milimeter kenaikan air laut dalam jangka panjang, bahkan tanpa adanya pemanasan tambahan.

Jika pemanasan terus berlanjut, sumbangannya bisa melonjak hingga 230 milimeter. Padahal, sekitar satu miliar orang di dunia saat ini tinggal di wilayah pesisir dengan ketinggian kurang dari 10 meter di atas permukaan laut.

Laporan ini menyoroti kekeringan daratan sebagai risiko iklim lain yang dampaknya makin cepat. Sekitar tiga perempat penduduk dunia kini tinggal di 101 negara yang terus kehilangan cadangan air bersih sejak tahun 2002.

Baca juga: Aset Miliarder Dunia Sumbang Kerusakan Iklim Paling Parah

Penilaian global yang dicantumkan dalam laporan menemukan bahwa konsumsi air oleh manusia telah melebihi batas ketersediaan yang aman sebesar 458 kilometer kubik per tahun.

Angka ini setara dengan total pemakaian air tahunan di Amerika Serikat atau India. Kesenjangan pasokan air ini diperkirakan akan naik sekitar 6 persen pada pemanasan suhu 1,5 derajat C dan membengkak hingga 15 persen pada pemanasan 3 derajat C.

Asia Selatan menjadi wilayah paling kritis akibat irigasi yang berlebihan. Sungai Gangga, Sabarmati, dan Indus termasuk dalam wilayah yang mengalami penyusutan air tanah secara drastis di tengah melonjaknya permintaan air.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau