Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui

Kompas.com, 8 Oktober 2026, 08:23 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Biaya kerusakan karbon dan tanggung jawab

Salah satu temuan utama laporan ini adalah bahwa Biaya Sosial Karbon (Social Cost of Carbon atau SCC) yaitu ukuran kerugian ekonomi akibat setiap tambahan satu ton emisi CO2 selama ini diperkirakan jauh lebih rendah dari nilai sebenarnya.

Namun riset terbaru menunjukkan bahwa potensi kerugian ekonomi global pada tahun 2100 melonjak drastis, dari yang awalnya diperkirakan hanya sekitar 11persen menjadi sekitar 40 persen dari total Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dunia jika suhu rata-rata global dihitung secara penuh.

Studi lain menemukan bahwa perhitungan dengan model iklim yang lebih realistis bisa membuat perkiraan biaya kerusakan karbon membengkak hingga empat kali lipat.

Salah satu model menghitung bahwa pada tahun 2025, biaya kerusakan akibat emisi CO2 berada di angka sekitar 194 dolar AS (sekitar Rp3 juta) per ton jika ada kebijakan iklim yang ketat. Angka ini bisa melonjak hingga 437 dolar AS (sekitar Rp6,8 juta) per ton jika dunia tetap menjalankan aktivitas seperti biasa tanpa penanganan.

Di saat yang sama, kemajuan ilmu pengetahuan kini mampu menghubungkan emisi dari pihak tertentu secara langsung dengan dampak kerusakan iklim yang terjadi. Laporan tersebut mencatat bahwa emisi dari perusahaan-perusahaan raksasa penghasil bahan bakar fosil dan semen (Carbon Majors) menyumbang sekitar 24 persen hingga 37 persen dari total kenaikan air laut saat ini, berdasarkan aktivitas mereka sejak tahun 1854 hingga 2020.

Riset ini juga menghubungkan perusahaan-perusahaan besar ini dengan sekitar 50 persen peningkatan intensitas gelombang panas ekstrem sejak era pra-industri.

Selain itu, laporan ini menemukan bahwa 10 persen kelompok orang terkaya di dunia menyumbang emisi yang memicu cuaca panas ekstrem tujuh kali lebih banyak daripada rata-rata orang biasa. Namun, dampak terburuknya justru paling banyak menimpa masyarakat berpenghasilan rendah di wilayah tropis.

“Ilmu pengetahuan kini berkembang dari sekadar bilang 'perubahan iklim sedang terjadi' menjadi 'pencemar ini bertanggung jawab atas kerusakan ini',” tegas Timothy Naish, Ketua WCRP.

“Hal ini mengubah arah pembicaraan mengenai pertanggungjawaban hukum, ganti rugi, dan siapa yang seharusnya membayar kerusakan yang terjadi saat ini,” paparnya lagi.

Aturan perdagangan dan ketimpangan transisi energi

Laporan ini juga menyoroti keterkaitan yang makin erat antara kebijakan iklim dan perdagangan internasional.

Kebijakan seperti pajak karbon atas barang impor (Carbon Border Adjustment Mechanism atau CBAM) memang bisa mencegah perpindahan industri kotor dan mendorong produksi yang lebih bersih. Namun, aturan ini berisiko memberatkan negara-negara berkembang karena biaya penyesuaian yang sangat mahal bagi para eksportir mereka.

Laporan ini menyarankan agar negara-negara penerap pajak karbon tersebut memperhitungkan dampaknya terhadap lapangan kerja dan kemampuan ekonomi negara berkembang.

Sebagian dari pendapatan pajak karbon tersebut juga sebaiknya disalurkan kembali ke negara-negara terdampak untuk membantu mereka mengukur emisi, membangun energi bersih, dan memperbarui industri mereka.

Baca juga: Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi

Selain itu, konflik dan ketidakstabilan geopolitik dunia menjadi ancaman besar bagi transisi energi yang adil. Meski krisis energi terkadang memicu beberapa negara untuk mempercepat investasi energi terbarukan di dalam negeri, secara umum risiko geopolitik justru menghambat transisi energi global.

Hal ini terjadi karena konflik menyebabkan harga pasar naik-turun, mengganggu pasokan bahan mentah penting, dan mengalihkan fokus pemerintah ke urusan keamanan militer darurat.

Laporan ini juga menyoroti adanya pergeseran taktik dari pihak-pihak yang menghambat aksi iklim. Jika dulu mereka secara terang-terangan menolak teori sains, kini mereka beralih ke taktik menunda-nunda, memperlemah aturan, greenwashing, menawarkan solusi yang menyesatkan, hingga menyebarkan informasi bohong di dunia digital. Upaya-upaya ini dapat menggagalkan pembuatan kebijakan iklim yang efektif, meskipun bukti ilmiah dan solusi teknologinya sudah makin jelas.

Laporan kemudian menyimpulkan bahwa kesempatan untuk bertindak kini makin sempit, tetapi belum sepenuhnya tertutup. Beberapa saran penting untuk diplomasi iklim meliputi memperkuat target penurunan emisi untuk tahun 2035, meningkatkan pendanaan iklim dari target 300 miliar dolar AS per tahun menjadi setidaknya 1,3 triliun dolar AS pada tahun 2035.

Selain itu juga menjalankan mekanisme adaptasi dan transisi energi yang adil serta mengatasi dampak ketimpangan ekonomi akibat aturan pajak karbon dalam perdagangan internasional.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau