Penulis
WONOGIRI, KOMPAS.com - Keberadaan Embung Doho di Desa Doho, Kecamatan Girimarto, Wonogiri, Jawa Tengah, tidak hanya dirasakan sebagai sumber air untuk pertanian.
Kawasan tersebut kini dikembangkan dengan sejumlah sarana pendukung yang mengintegrasikan pemanfaatan air, energi terbarukan, dan pengelolaan lingkungan.
Pengembangan ini dilakukan melalui kolaborasi PT Coca-Cola Indonesia, Coca-Cola Foundation Indonesia, Yayasan Obor Tani, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Baca juga: Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pemerintahan Joko Purwidyatmo mengatakan, pengembangan kawasan Embung Doho penting karena air embung telah dimanfaatkan oleh ratusan petani, terutama ketika aliran sungai setempat mengering pada musim kemarau.
Saat ini, lebih dari 300 petani yang tergabung dalam tujuh gabungan kelompok tani (Gapoktan) memanfaatkan air embung untuk mengairi lahan pertanian mereka.
“Harapan kita bersama, semakin lengkap fasilitas dan terjaganya kawasan Embung Doho ini dapat menjadi pemantik kelestarian lingkungan sekaligus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat,” kata Joko, Rabu (7/10/2026).
Menurut dia, pengembangan kawasan yang menggabungkan fungsi penyerapan air dengan pemanfaatan potensi lingkungan dapat menjadi bagian dari upaya pembangunan daerah yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian iklim.
Public Affairs and Communication Director PT Coca-Cola Indonesia yang juga Ketua Coca-Cola Foundation Triyono Prijosoesilo mengatakan, pembangunan embung merupakan salah satu pendekatan yang digunakan perusahaan untuk membantu masyarakat menghadapi persoalan ketersediaan air.
Menurut dia, Embung Doho dibangun untuk menampung air hujan pada musim penghujan sehingga air tersebut dapat dimanfaatkan pada musim kemarau, termasuk untuk kebutuhan irigasi pertanian.
“Daerah-daerah seperti Doho di Wonogiri memang ada isu air, terutama di musim kemarau. Kita lihat ini suatu area yang cocok untuk membangun embung yang sifatnya menampung air hujan,” ujar Triyono.
Menurut Triyono, pengelolaan embung juga melibatkan masyarakat setempat. Pemerintah desa menyediakan lahan, sementara masyarakat bersama pemerintah desa diharapkan menjaga dan mengelola infrastruktur tersebut.
Baca juga: 11 Hektare Lahan Bakal Dibuat Embung untuk Tangani Banjir di Kalideres Jakbar
Keterlibatan masyarakat, kata dia, menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan keberlanjutan program pengelolaan air.
“Komitmen dari masyarakatnya juga penting. Masyarakat berkomitmen bahwa pada waktu kita bangun ini, mereka akan mengelola dengan baik,” katanya.
Dipadukan dengan energi surya
Manfaat Embung Doho kemudian diperluas melalui penggunaan energi surya untuk mendukung sistem pemompaan air.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya