Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia

Kompas.com, 11 Oktober 2026, 11:36 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Perang mempercepat hilangnya lahan pertanian. Dampaknya bisa terasa hingga bertahun-tahun setelah konflik dimulai, dan tingkat kerusakannya bergantung pada seberapa parah perang serta kondisi sosial di wilayah tersebut.

Demikian hasil penelitian baru yang diterbitkan di jurnal Nature Food pada 24 September.

Studi ini dipimpin oleh Profesor Li Guangdong, Dr. Qi Wei, dan Profesor Wang Zhenbo dari Institut Ilmu Geografi dan Penelitian Sumber Daya Alam di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China.

Penelitian ini menyajikan bukti global mengenai dampak jangka panjang konflik bersenjata terhadap lahan dan hasil pertanian.

Dampak konflik terhadap lahan pertanian

Melansir Phys, Kamis (8/10/2026) selama ini, perang telah lama dikenal sebagai penyebab utama krisis pangan. Namun, dampak jangka panjangnya terhadap lahan pertanian secara global masih belum banyak dipahami.

Dalam penelitian ini, para ahli menggabungkan peta lahan pertanian global beresolusi 30 meter dari tahun 2000 hingga 2020 dengan data lebih dari 460.000 peristiwa konflik bersenjata yang tersebar di 155 negara.

Baca juga: PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia

Para peneliti mengamati perubahan lahan pertanian di zona penyangga sejauh 5 kilometer dari titik-titik konflik. Mereka kemudian menggunakan metode statistik khusus untuk memisahkan kerusakan akibat perang dari tren lingkungan dan sosial-ekonomi lainnya.

Studi ini menemukan bahwa wilayah yang terdampak konflik hanya mencakup sekitar 3 persen dari total daratan dunia, namun menampung lebih dari 6 persen lahan pertanian global pada tahun 2020.

Ini menunjukkan bahwa lahan pertanian jauh lebih rentan dan sering berada di tengah kecamuk perang. Meskipun secara keseluruhan lahan pertanian global sempat meluas antara tahun 2000 dan 2020, lahan di wilayah konflik justru mengalami sedikit penurunan.

Analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa konflik bersenjata menyebabkan penurunan rata-rata sebesar 3,01 persen pada luas lahan pertanian. Angka ini setara dengan hilangnya 14,46 hektar lahan per zona konflik setiap tahunnya. Dampak buruk ini bahkan terus dirasakan selama bertahun-tahun setelah perang meletus.

Perbandingan spasial tambahan menunjukkan bahwa wilayah yang dilanda konflik mengalami kehilangan lahan pertanian 23,7 persen lebih besar dibandingkan wilayah serupa yang tidak mengalami konflik. Kerugian terbesar terkonsentrasi di Afrika Barat, Afrika Timur, dan Asia Tenggara.

Dampak pertanian bervariasi

Menurut para peneliti, dampak pertanian akibat konflik bersenjata sangat bervariasi di tiap wilayah dan bergantung pada tingkat keparahan perang serta kondisi sosial setempat.

Dampak tersebut sangat dipengaruhi oleh seberapa sering dan berapa lama konflik itu terjadi. Wilayah yang sering sekali mengalami konflik mencatat kerusakan lahan yang paling parah, di mana kelompok dengan frekuensi konflik tertinggi kehilangan sekitar sepertiga dari total lahan pertanian mereka.

Konflik yang berkepanjangan dan sangat parah menyebabkan kerugian yang jauh lebih besar dibandingkan konflik yang terjadi sesekali atau berkekuatan rendah.

Sebaliknya, wilayah yang mulai beralih menuju perdamaian pasca-konflik tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan lahan pertanian yang berlanjut.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau