KOMPAS.com - Laporan terbaru menunjukkan bahwa dunia baru bisa mencapai target nol emisi (net-zero) pada tahun 2098. Suhu bumi juga diprediksi akan naik sebesar 2,3 derajat C pada akhir abad ini.
Hal ini disampaikan dalam laporan DNV berjudul ‘Energy Transition Outlook 2026’.
Laporan tersebut mencatat pula bahwa transisi energi terus berjalan, tetapi lajunya masih terlalu lambat untuk mencapai target Perjanjian Paris.
Melansir Edie, Rabu (7/10/2026) emisi CO2 dari energi dan proses industri diperkirakan turun 44 persen dari tingkat saat ini pada tahun 2050, yang berarti usaha dunia masih belum sampai setengah jalan menuju nol emisi.
DNV memperkirakan total emisi manusia baru akan benar-benar nol pada dua atau tiga tahun terakhir menjelang akhir abad ini. Emisi diperkirakan akan turun di sebagian besar wilayah dan sektor, dengan sektor kelistrikan sebagai pelopor penurunan terbesar.
Baca juga: PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
Emisi dari sektor kelistrikan diprediksi turun 82 persen antara tahun 2025 dan 2060, sedangkan sektor transportasi hanya turun 56 persen.
Sementara itu, emisi dari proses industri diperkirakan turun jauh lebih lambat, yaitu hanya 14 persen karena berasal dari kegiatan pabrik yang tidak bisa dihilangkan hanya dengan elektrifikasi atau mengganti bahan bakar.
Berdasarkan ramalan ini, jatah batas aman karbon untuk 1,5 derajat C akan habis pada tahun 2029, dan jatah untuk 2 derajat C akan habis pada tahun 2052.
Pada tahun 2100, total emisi bumi diperkirakan akan melampaui batas 2 derajat C sebanyak sekitar 420 gigaton CO2.
Lebih lanjut, penggunaan listrik akan mengambil porsi yang semakin besar dari total kebutuhan energi. Jika pada tahun 2005 listrik hanya menyumbang 16 persen dan saat ini 21 persen, DNV memperkirakan angkanya akan melonjak hingga 33 persen pada tahun 2045.
Kecepatan peralihan ke listrik dalam 20 tahun ke depan diprediksi lebih dari dua kali lipat lebih cepat dibanding dua dekade sebelumnya.
China diproyeksikan menjadi pemimpin utama, di mana penggunaan listrik akan naik dari 27 persen dari total kebutuhan energi saat ini menjadi lebih dari separuhnya pada tahun 2060.
Menurut laporan tersebut, tahap transisi berikutnya akan sangat bergantung pada bagaimana sistem energi dapat menyatukan pasokan listrik baru dan kebutuhan pengguna.
DNV menyatakan bahwa kapasitas kabel transmisi dan fleksibilitas penggunaan listrik belum berkembang cukup cepat untuk mengimbangi pertumbuhan energi terbarukan yang sifatnya fluktuatif seperti tenaga surya dan angin.
Oleh karena itu, sistem harga, tarif, infrastruktur, dan desain pasar listrik akan menjadi semakin penting.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya