Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia

Kompas.com, 11 Oktober 2026, 14:56 WIB
Manda Firmansyah,
Andika Aditia

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Sumber daya manusia (SDM) sejatinya infrastruktur terpenting bagi suatu negara.

‎Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, talenta dan pakar teknologi adalah aset bangsa yang harus dijaga agar tidak lari ke luar negeri. 

‎"Talenta kita jangan sampai pergi jauh, brain drain. Justru sebaliknya kalau bisa kita menghadirkan talenta-talenta global dalam teknologi inovasi dan termasuk untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan," ujar AHY dalam Mata Lokal Festival 2026, Rabu (7/10/2026).

‎Ia menggarisbawahi urgensi penciptaan lapangan kerja sebenarnya lebih dari sekadar perkara ketersediaan lowongan. Menurut AHY, masyarakat membutuhkan lapangan pekerjaan formal yang layak dan produktif untuk menopang kehidupan sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka.

‎Di sisi lain, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) masih tertinggal, dengan sektor pendidikan dan kesehatan perlu diprioritaskan karena menentukan masa depan Indonesia ke depannya. Dalam hal teknologi dan inovasi, perkembangannya di Indonesia sudah mengalami kemajuan, meski tata kelola pemerintahannya masih tertinggal.

‎Padahal, tata kelola yang baik, transparansi, akuntabilitas dan siap untuk diaudit setiap saat erat kaitannya dengan kepercayaan sebagai syarat menarik investasi.

‎"Ini adalah potret dan sekaligus lecutan bagi kami semua yang saat ini sedang mengemban amanah di tingkat pusat maupun daerah. Ini yang akan mengubah keadaan menjadi game changer dari banyak pemerintahan di dunia," ucapnya.

Tantangan saat ini

‎AHY membedah situasi dunia yang saat ini dipenuhi ketidakpastian dan kejutan (shocks) yang berpotensi berdampak sistemik terhadap Indonesia. Ia menjabarkan beberapa ancaman global utama yang wajib diantisipasi.

‎Pertama, krisis Iklim dan bencana alam Berdasarkan Perjanjian Paris, dunia telah melewati ambang batas pemanasan 1,5 derajat Celcius pada tahun 2025. Hal ini memicu naiknya permukaan air laut (sea level rise) dan intensitas cuaca ekstrem. Sebagai negara di kawasan cincin api (ring of fire), Indonesia berisiko terus berhadapan dengan bencana hidrometeorologi, gempa bumi, tanah longsor, sampai erupsi gunung berapi. 

‎Kedua, disrupsi teknologi yang membawa kesenjangan. Kemajuan teknologi dan inovasi bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi membawa kemajuan. Namun, jika tidak diiringi dengan regulasi yang tepat maupun ketersediaan akses merata, teknologi justru akan memperlebar jurang kesenjangan sosial- ekonomi dan pembangunan antarwilayah.  

‎Ketiga, keterbatasan sumber daya dan ledakan urbanisasi. Lonjakan pertumbuhan populasi menyebabkan penipisan sumber daya alam (SDA) yang memicu potensi konflik global. Hampir 70 persen populasi dunia—termasuk di Indonesia— diperkirakan akan segera bermigrasi dan menetap di perkotaan. Urbanisasi ini menuntut kesiapan daya dukung kota, terutama kesiapan infrastruktur dan konektivitas transportasi. 

‎Keempat, instabilitas geopolitik dan rantai pasok. Adanya pergeseran geopolitik akibat perebutan hegemoni antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, serta meletusnya peperangan di Timur Tengah maupun Rusia-Ukraina, telah memicu fragmentasi perdagangan dunia. Terjadi perebutan rantai pasok global (global supply chain), khususnya untuk komoditas energi dan mineral strategis.

‎Indonesia dengan kekayaan sumber dayanya, kata dia, harus cerdas bermanuver agar tidak sekadar menjadi korban eksploitasi perebutan negara-negara maju.

‎Rakyat tertekan

‎Sebelumnya, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengakui masih banyak masyarakat yang menghadapi tekanan ekonomi pada masa pemerintahan saat ini. Ia menyebut, harga kebutuhan sehari-hari masih menekan masyarakat. 

‎Di sisi lain, masyarakat tidak mesti gampang memperoleh pekerjaan yang layak. "Harus kita akui dengan jujur, masih banyak keluarga yang bekerja keras tetapi merasa hidup belum semakin mudah. Harga kebutuhan sehari-hari masih menekan. Mendapatkan pekerjaan yang layak tidak selalu mudah," tutur AHY saat berpidato dalam peringatan HUT ke-25 Demokrat, Sabtu (5/9/2026).

‎Kata dia, masih banyak keluarga harus bekerja keras agar penghasilan mereka mampu mengejar biaya hidup yang terus bertambah. Kondisi tersebut dia dengarkan langsung dari berbagai kelompok masyarakat.

‎"Itulah yang saya dengarkan langsung dari para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), pekerja informal termasuk pengemudi ojol, ibu-ibu rumah tangga, generasi muda, dan kelompok masyarakat lainnya," ujar AHY.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau