JAKARTA, KOMPAS.com - Sumber daya manusia (SDM) sejatinya infrastruktur terpenting bagi suatu negara.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, talenta dan pakar teknologi adalah aset bangsa yang harus dijaga agar tidak lari ke luar negeri.
"Talenta kita jangan sampai pergi jauh, brain drain. Justru sebaliknya kalau bisa kita menghadirkan talenta-talenta global dalam teknologi inovasi dan termasuk untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan," ujar AHY dalam Mata Lokal Festival 2026, Rabu (7/10/2026).
Ia menggarisbawahi urgensi penciptaan lapangan kerja sebenarnya lebih dari sekadar perkara ketersediaan lowongan. Menurut AHY, masyarakat membutuhkan lapangan pekerjaan formal yang layak dan produktif untuk menopang kehidupan sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka.
Di sisi lain, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) masih tertinggal, dengan sektor pendidikan dan kesehatan perlu diprioritaskan karena menentukan masa depan Indonesia ke depannya. Dalam hal teknologi dan inovasi, perkembangannya di Indonesia sudah mengalami kemajuan, meski tata kelola pemerintahannya masih tertinggal.
Padahal, tata kelola yang baik, transparansi, akuntabilitas dan siap untuk diaudit setiap saat erat kaitannya dengan kepercayaan sebagai syarat menarik investasi.
"Ini adalah potret dan sekaligus lecutan bagi kami semua yang saat ini sedang mengemban amanah di tingkat pusat maupun daerah. Ini yang akan mengubah keadaan menjadi game changer dari banyak pemerintahan di dunia," ucapnya.
AHY membedah situasi dunia yang saat ini dipenuhi ketidakpastian dan kejutan (shocks) yang berpotensi berdampak sistemik terhadap Indonesia. Ia menjabarkan beberapa ancaman global utama yang wajib diantisipasi.
Pertama, krisis Iklim dan bencana alam Berdasarkan Perjanjian Paris, dunia telah melewati ambang batas pemanasan 1,5 derajat Celcius pada tahun 2025. Hal ini memicu naiknya permukaan air laut (sea level rise) dan intensitas cuaca ekstrem. Sebagai negara di kawasan cincin api (ring of fire), Indonesia berisiko terus berhadapan dengan bencana hidrometeorologi, gempa bumi, tanah longsor, sampai erupsi gunung berapi.
Kedua, disrupsi teknologi yang membawa kesenjangan. Kemajuan teknologi dan inovasi bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi membawa kemajuan. Namun, jika tidak diiringi dengan regulasi yang tepat maupun ketersediaan akses merata, teknologi justru akan memperlebar jurang kesenjangan sosial- ekonomi dan pembangunan antarwilayah.
Ketiga, keterbatasan sumber daya dan ledakan urbanisasi. Lonjakan pertumbuhan populasi menyebabkan penipisan sumber daya alam (SDA) yang memicu potensi konflik global. Hampir 70 persen populasi dunia—termasuk di Indonesia— diperkirakan akan segera bermigrasi dan menetap di perkotaan. Urbanisasi ini menuntut kesiapan daya dukung kota, terutama kesiapan infrastruktur dan konektivitas transportasi.
Keempat, instabilitas geopolitik dan rantai pasok. Adanya pergeseran geopolitik akibat perebutan hegemoni antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, serta meletusnya peperangan di Timur Tengah maupun Rusia-Ukraina, telah memicu fragmentasi perdagangan dunia. Terjadi perebutan rantai pasok global (global supply chain), khususnya untuk komoditas energi dan mineral strategis.
Indonesia dengan kekayaan sumber dayanya, kata dia, harus cerdas bermanuver agar tidak sekadar menjadi korban eksploitasi perebutan negara-negara maju.
Sebelumnya, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengakui masih banyak masyarakat yang menghadapi tekanan ekonomi pada masa pemerintahan saat ini. Ia menyebut, harga kebutuhan sehari-hari masih menekan masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat tidak mesti gampang memperoleh pekerjaan yang layak. "Harus kita akui dengan jujur, masih banyak keluarga yang bekerja keras tetapi merasa hidup belum semakin mudah. Harga kebutuhan sehari-hari masih menekan. Mendapatkan pekerjaan yang layak tidak selalu mudah," tutur AHY saat berpidato dalam peringatan HUT ke-25 Demokrat, Sabtu (5/9/2026).
Kata dia, masih banyak keluarga harus bekerja keras agar penghasilan mereka mampu mengejar biaya hidup yang terus bertambah. Kondisi tersebut dia dengarkan langsung dari berbagai kelompok masyarakat.
"Itulah yang saya dengarkan langsung dari para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), pekerja informal termasuk pengemudi ojol, ibu-ibu rumah tangga, generasi muda, dan kelompok masyarakat lainnya," ujar AHY.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya