KOMPAS.com - Perdagangan dunia mencapai rekor tertinggi sebesar 35 triliun dolar AS (sekitar Rp560.000 triliun) pada tahun 2025 di tengah berbagai konflik.
Namun, melansir laman resmi United Nations, Jumat (9/10/2026) badan perdagangan dan pembangunan PBB (UNCTAD) menyebutkan bahwa negara-negara berkembang sulit ikut serta secara maksimal karena adanya hambatan teknologi dan aturan baru.
"Hanya sebagian kecil investasi perusahaan yang kini didorong oleh alasan klasik seperti tenaga kerja murah," ujar pejabat senior UNCTAD, Anastasia Nesvetailova.
Baca juga: UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
"Sebaliknya, keuntungan saat ini berpindah ke sektor-sektor strategis seperti semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), energi bersih, dan komputer canggih, di mana syarat untuk bisa ikut serta sangat tinggi dan terus meningkat," terangnya lagi.
UNCTAD menyebutkan alasan mengapa sektor-sektor strategis ini sulit diakses oleh negara berkembang, yaitu karena meningkatnya aturan ekspor, penyaringan investasi, dan syarat ketat pada rantai pasok.
Terkait tahun ini, UNCTAD menyatakan bahwa nilai perdagangan yang tinggi masih dipicu oleh lonjakan harga akibat krisis energi global yang disebabkan oleh perang AS-Iran.
Peta perdagangan global juga bergeser. Perdagangan antara China dan Amerika Serikat telah turun lebih dari 20 persen sejak tahun 2024. Di sisi lain, negara-negara Asia Timur justru memperluas kerja sama dagang dengan China maupun Amerika Utara.
Baca juga: AI Bisa Modernisasi Perdagangan Asia-Pasifik, Tapi Adopsi Belum Merata
Lebih lanjut Nesvetailova menjelaskan meski ekonomi melambat, Asia akan menyumbang 60 persen dari pertumbuhan global tahun ini. Negara-negara dengan pertumbuhan tercepat meliputi China, India, Indonesia, Kirgistan, Mongolia, Tajikistan, Uzbekistan, dan Vietnam.
Selain segelintir negara di Asia, sebagian besar wilayah Global South (negara-negara berkembang di selatan) justru semakin tertinggal, menurut laporan UNCTAD. Saat pertumbuhan mereka melambat, risiko keuangan meningkat dan dana pembangunan mengalami tekanan.
Untuk mendukung perdagangan di negara-negara berkembang, UNCTAD mendesak adanya dukungan jangka panjang bagi industri lokal, pelatihan, penelitian, serta investasi asing yang bekerja sama dengan pemasok lokal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya