Berdasarkan perkiraan Kementerian PPN/Bappenas untuk periode 2000–2019, Indonesia mengalami susut dan sisa pangan sekitar 23 juta hingga 48 juta ton per tahun. Jumlah tersebut diperkirakan setara dengan kebutuhan pangan bagi 61 juta hingga 100 juta orang.
“Ini adalah masalah besar. Jadi, itu adalah jumlah susut yang sangat besar. Oke, Anda memiliki produktivitas yang lebih tinggi saat panen, apa yang terjadi pasca-panen untuk mengurangi susut makanan, mulai dari cara Anda memprosesnya, cara didistribusikan, hingga sampai ke konsumen?” kata Mari.
Menurut dia, pengurangan susut pangan membutuhkan perbaikan infrastruktur dari hulu hingga hilir.
Baca juga: Meski Menjanjikan bagi Petani, Ekspor Sawit ke Eropa Masih Dibayangi Isu Deforestasi
Upaya tersebut mencakup penyediaan fasilitas pengeringan dan penyimpanan pascapanen, peningkatan infrastruktur logistik dan transportasi, serta perbaikan sistem distribusi hingga ke konsumen.
Mari juga menyebut pemerintah telah memetakan kondisi infrastruktur irigasi di berbagai wilayah Indonesia untuk direhabilitasi dalam beberapa tahun ke depan.
Perbaikan irigasi diharapkan mendukung efisiensi produksi pertanian, sedangkan pembenahan fasilitas pascapanen dan distribusi diperlukan untuk mengurangi kehilangan pangan sebelum sampai ke masyarakat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya