Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan

Kompas.com, 21 Oktober 2026, 16:12 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com - Bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah, rotan bukan sekadar tanaman hutan. Selama bergenerasi-generasi, bahan alami ini digunakan untuk membuat peralatan rumah tangga, perlengkapan bertani, bahan bangunan, hingga perlengkapan upacara adat.

Pengetahuan tentang rotan tumbuh bersama kehidupan masyarakat yang bergantung pada hutan.

Keterampilan memilih bahan, mengolahnya, dan menjadikannya benda yang berguna diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Namun, hubungan tersebut menghadapi tantangan ketika hutan berubah. Pembalakan, pertambangan, dan perluasan perkebunan sawit tidak hanya memengaruhi kondisi lingkungan, tetapi juga kehidupan masyarakat yang bergantung padanya.

Baca juga: Dari Limbah Kelapa Menjadi Harapan, Penyandang Disabilitas di Bitung Merintis Kemandirian Lewat Kerajinan

Akses terhadap lahan yang dikelola turun-temurun dapat menyempit, sementara pencemaran sungai dan berkurangnya interaksi dengan hutan membuat pewarisan pengetahuan adat menghadapi tantangan tersendiri.

Bagi Randi, perubahan itu bukan sekadar persoalan lingkungan. Tumbuh besar di Kalimantan Tengah, ia mengenal rotan dari kehidupan keluarganya sendiri. Kakek dan neneknya merupakan petani rotan, sebagaimana sebagian masyarakat di lingkungan tempat ia dibesarkan.

Pengalaman itulah yang kemudian mendorong Randi membangun HANDEP, sebuah usaha yang bekerja bersama petani dan perajin Dayak untuk menghasilkan aksesori fesyen berbahan rotan.

Melalui kerajinan, HANDEP berupaya menjaga agar keterampilan yang diwariskan masyarakat tetap memiliki tempat dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus membuka akses ke pasar yang lebih luas.

Menjadi pilihan hidup

Bagi para perajin, membuat kerajinan bukan sekadar melanjutkan tradisi. Keterampilan tersebut juga dapat menjadi sumber penghidupan yang membutuhkan ketekunan, kreativitas, dan pengetahuan yang dibangun selama bertahun-tahun.

Tantangannya adalah memastikan nilai pekerjaan itu dihargai secara layak. Di Indonesia, produk kerajinan tangan kerap dipandang sebagai barang yang semestinya dijual dengan harga terjangkau.

Pandangan ini berisiko membuat waktu, keterampilan, dan pengetahuan di balik setiap produk tidak memperoleh nilai yang sepadan.

HANDEP mencoba mengubah cara pandang tersebut dengan menempatkan kualitas, desain, dan nilai produk sebagai bagian penting dalam pengembangan pasar.

Bagi Randi, upaya pemberdayaan tidak cukup hanya dengan menyediakan pekerjaan. Masyarakat juga perlu memperoleh penghargaan atas keterampilan mereka dan memiliki ruang untuk menentukan masa depan sendiri.

Baca juga: HIMKI Siapkan Strategi Baru, Bidik Indonesia Jadi Pusat Mebel dan Kerajinan Dunia

“Pemberdayaan yang sesungguhnya bukan hanya soal membuka lapangan pekerjaan, tetapi membuka lapangan pekerjaan yang memperlakukan orang dengan bermartabat, merasa dihargai, dan merasa berdaya. Itulah prinsip HANDEP,” jelas Randi dalam keterangan resminya pekan lalu.

Prinsip tersebut turut memengaruhi cara HANDEP bekerja dengan komunitas. Setiap masyarakat adat memiliki tradisi, pengetahuan, dan cara kerja yang berbeda. Karena itu, pendekatan yang digunakan tidak bisa diseragamkan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Studi Global: Smart Farming Terbukti Cetak Profit di Sejumlah Wilayah
Studi Global: Smart Farming Terbukti Cetak Profit di Sejumlah Wilayah
Pemerintah
WHO Naikkan Status Kesiapsiagaan Ebola di 22 Negara
WHO Naikkan Status Kesiapsiagaan Ebola di 22 Negara
Pemerintah
Beban Lingkungan Baru, Mayoritas Pusat Data Beroperasi di Wilayah Rentan Air
Beban Lingkungan Baru, Mayoritas Pusat Data Beroperasi di Wilayah Rentan Air
Pemerintah
Cerita Kepala Adat Long Pahangai Tolak Suap dari Perusahaan dan Pilih Tanam Pohon Meranti
Cerita Kepala Adat Long Pahangai Tolak Suap dari Perusahaan dan Pilih Tanam Pohon Meranti
LSM/Figur
800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Pekerjaan, PBB Peringatkan
800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Pekerjaan, PBB Peringatkan
Pemerintah
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
Pemerintah
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
LSM/Figur
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Swasta
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Swasta
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
Desa Sejahtera Astra
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau