Editor
KOMPAS.com - Bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah, rotan bukan sekadar tanaman hutan. Selama bergenerasi-generasi, bahan alami ini digunakan untuk membuat peralatan rumah tangga, perlengkapan bertani, bahan bangunan, hingga perlengkapan upacara adat.
Pengetahuan tentang rotan tumbuh bersama kehidupan masyarakat yang bergantung pada hutan.
Keterampilan memilih bahan, mengolahnya, dan menjadikannya benda yang berguna diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Namun, hubungan tersebut menghadapi tantangan ketika hutan berubah. Pembalakan, pertambangan, dan perluasan perkebunan sawit tidak hanya memengaruhi kondisi lingkungan, tetapi juga kehidupan masyarakat yang bergantung padanya.
Akses terhadap lahan yang dikelola turun-temurun dapat menyempit, sementara pencemaran sungai dan berkurangnya interaksi dengan hutan membuat pewarisan pengetahuan adat menghadapi tantangan tersendiri.
Bagi Randi, perubahan itu bukan sekadar persoalan lingkungan. Tumbuh besar di Kalimantan Tengah, ia mengenal rotan dari kehidupan keluarganya sendiri. Kakek dan neneknya merupakan petani rotan, sebagaimana sebagian masyarakat di lingkungan tempat ia dibesarkan.
Pengalaman itulah yang kemudian mendorong Randi membangun HANDEP, sebuah usaha yang bekerja bersama petani dan perajin Dayak untuk menghasilkan aksesori fesyen berbahan rotan.
Melalui kerajinan, HANDEP berupaya menjaga agar keterampilan yang diwariskan masyarakat tetap memiliki tempat dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus membuka akses ke pasar yang lebih luas.
Bagi para perajin, membuat kerajinan bukan sekadar melanjutkan tradisi. Keterampilan tersebut juga dapat menjadi sumber penghidupan yang membutuhkan ketekunan, kreativitas, dan pengetahuan yang dibangun selama bertahun-tahun.
Tantangannya adalah memastikan nilai pekerjaan itu dihargai secara layak. Di Indonesia, produk kerajinan tangan kerap dipandang sebagai barang yang semestinya dijual dengan harga terjangkau.
Pandangan ini berisiko membuat waktu, keterampilan, dan pengetahuan di balik setiap produk tidak memperoleh nilai yang sepadan.
HANDEP mencoba mengubah cara pandang tersebut dengan menempatkan kualitas, desain, dan nilai produk sebagai bagian penting dalam pengembangan pasar.
Bagi Randi, upaya pemberdayaan tidak cukup hanya dengan menyediakan pekerjaan. Masyarakat juga perlu memperoleh penghargaan atas keterampilan mereka dan memiliki ruang untuk menentukan masa depan sendiri.
Baca juga: HIMKI Siapkan Strategi Baru, Bidik Indonesia Jadi Pusat Mebel dan Kerajinan Dunia
“Pemberdayaan yang sesungguhnya bukan hanya soal membuka lapangan pekerjaan, tetapi membuka lapangan pekerjaan yang memperlakukan orang dengan bermartabat, merasa dihargai, dan merasa berdaya. Itulah prinsip HANDEP,” jelas Randi dalam keterangan resminya pekan lalu.
Prinsip tersebut turut memengaruhi cara HANDEP bekerja dengan komunitas. Setiap masyarakat adat memiliki tradisi, pengetahuan, dan cara kerja yang berbeda. Karena itu, pendekatan yang digunakan tidak bisa diseragamkan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya