Editor
Memberi ruang untuk mandiri
Dalam perjalanannya, Randi pernah merasa kecewa ketika sejumlah perajin yang sebelumnya bekerja bersama mereka mulai menjual produk kepada pihak lain atau membangun usaha sendiri. Ia sempat menganggap kepergian mereka sebagai kehilangan orang-orang terbaik dalam tim.
Namun, pandangannya berubah seiring waktu. Para perajin yang mampu membangun usaha sendiri justru menunjukkan bahwa mereka memiliki lebih banyak pilihan untuk menentukan jalan hidupnya.
Bagi Randi, pemberdayaan tidak seharusnya membuat masyarakat terus bergantung pada satu organisasi. Sebaliknya, upaya tersebut perlu membuka kesempatan agar mereka dapat berkembang secara mandiri.
Pemahaman itu juga mendorong Randi memperluas perhatiannya dari komunitas ke keberlanjutan organisasi.
Saat mengikuti program Instellar & IKEA Social Entrepreneurship Accelerator (I-SEA), ia menyadari bahwa dampak jangka panjang tidak hanya bergantung pada program pemberdayaan, tetapi juga pada kesehatan organisasi, kekuatan tim, dan pengembangan kepemimpinan.
Baca juga: Pengusaha Bidik Ekspor Furniture dan Kerajinan RI Rp 107,47 Triliun, Apa Strateginya?
Ke depan, HANDEP ingin bekerja bersama lebih banyak komunitas adat di berbagai wilayah Indonesia serta menjajaki penggunaan serat alami selain rotan. Kalimantan Tengah dan warisan budaya Dayak tetap menjadi fondasi perjalanan tersebut.
Di balik pengembangan pasar dan produk, ada tujuan yang lebih mendasar: menjaga agar keterampilan masyarakat adat tetap hidup, dihargai, dan dapat diwariskan. Sebab, keberlanjutan kerajinan tidak hanya ditentukan oleh bahan baku atau desain yang diminati konsumen, tetapi juga oleh keberlanjutan komunitas yang menyimpan pengetahuan di baliknya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya