Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lonjakan Permintaan Tembaga Akibat EV-Pusat Data di Masa Depan, RI Punya Peluang Besar

Kompas.com, 28 Oktober 2026, 11:02 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan Transition Metals Outlook 2026 dari BloombergNEF memproyeksikan bahwa kapasitas pasokan tembaga yang telah teridentifikasi, termasuk dari daur ulang, tidak akan mampu memenuhi permintaan mulai 2028 dalam skenario Economic Transition Scenario.

Proyeksi tersebut menyoroti tantangan dalam mengembangkan pasokan baru dengan cukup cepat untuk memenuhi kebutuhan di masa mendatang.

Head of Metals and Mining BloombergNEF, Martin Tengler mengatakan, permintaan tembaga diproyeksikan tumbuh 60 persen hingga 2050, dipicu oleh penggunaannya dalam kendaraan listrik (electric vechile/EV), baterai, pusat data, dan berbagai aplikasi lainnya.

Baca juga: Freeport Mulai Kirim Konsentrat Tembaga ke Smelter Manyar, Target Beroperasi Lagi September 2026

"Pengembangan tambang tembaga baru membutuhkan waktu belasan tahun. Untuk itu, jika Indonesia dapat membantu menutup sebagian kesenjangan ini, dampaknya dapat menjadi terobosan besar bagi pasar tembaga global,” ucapnya dalam keterangan tertulis, Senin (26/10/2026).

Indonesia perlu keseimbangan penciptaan nilai tambah di dalam negeri dengan realitas komersial pasar internasional seiring upaya memperkuat posisinya dalam rantai pasok mineral kritis global.

Wakil Ketua Komite Bilateral Inggris dan Irlandia KADIN Indonesia sekaligus Managing Partner dan CEO Equatorise, Steven Marcelino mengatakan, kemampuan Indonesia untuk memperoleh nilai tambah lebih besar dari ekspor mineral tidak hanya bergantung pada perluasan kapasitas pengolahan.

Pelaku usaha internasional juga membutuhkan kepastian mengenai bagaimana harga ekspor dinilai dan bagaimana perbedaan yang wajar antartransaksi diperlakukan.

"Mekanisme verifikasi yang jelas dan berlandaskan pertimbangan komersial dapat membantu memperkuat kepercayaan tersebut, sekaligus mempertahankan fleksibilitas yang dibutuhkan pelaku usaha dalam menjalankan perdagangan,” ujar Steven.

Bagi Indonesia, prospek masing-masing jenis logam akan memengaruhi arah kebutuhan investasi baru dan kecepatan pengembangan sumber daya hingga tahap produksi. Perluasan kapasitas hilirisasi tetap menjadi bagian utama strategi nasional.

Sementara itu, pasokan baru dan mekanisme ekspor yang kredibel akan ikut menentukan kemampuan Indonesia dalam melayani pasar internasional.

Potensi tembaga di Indonesia

Wakil Presiden Direktur Arsari Group dan Wakil Ketua Umum Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral KADIN Indonesia, Aryo Djojohadikusumo menganggap, Indonesia menyimpan potensi timah yang besar. Potensi tersebut perlu didukung oleh kemampuan produksi dan peluang untuk pengembangan sumber daya tambahan.

Namun, waktu pengembangan proyek yang panjang, kompleksitas teknis, dan kebutuhan investasi tetap menjadi pertimbangan utama dalam menghadirkan pasokan baru ke pasar.

Pengalaman Indonesia dalam mengembangkan kapasitas pengolahan di dalam negeri juga memberikan pelajaran bagi sektor mineral lainnya. Indonesia memiliki sejumlah cadangan tembaga yang berpotensi besar serta produsen yang telah berpengalaman panjang di industri ini.

"Tantangannya adalah bagaimana mengatasi kendala teknis dan panjangnya waktu pengembangan yang menghambat realisasi proyek-proyek baru. Indonesia berpotensi menjadi kekuatan utama dalam industri tembaga global, tetapi hal ini bergantung pada kerja sama yang erat antara industri dan pemerintah,” tutur Aryo.

Baca juga: Peran Tembaga Indonesia dalam Rantai Pasok AI

Ia menggarisbawahi peran teknologi dalam pengembangan industri tembaga nasional. Daya tarik investasi di sektor pengolahan mineral juga bergantung pada prospek permintaan dan pasokan global.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Pemerintah
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
LSM/Figur
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
LSM/Figur
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Pemerintah
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Pemerintah
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik  Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
LSM/Figur
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Pemerintah
PBB: 80 Persen Pekerja Rumah Tangga Tak Punya Perlindungan Kerja Formal
PBB: 80 Persen Pekerja Rumah Tangga Tak Punya Perlindungan Kerja Formal
Pemerintah
Kadar Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi Baru pada 2025v
Kadar Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi Baru pada 2025v
Pemerintah
Beras Rendah Emisi Berpeluang Masuk Pasar Ritel, Pendapatan Petani Bisa Naik
Beras Rendah Emisi Berpeluang Masuk Pasar Ritel, Pendapatan Petani Bisa Naik
LSM/Figur
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemerintah
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
Swasta
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
LSM/Figur
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau