Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aktivitas Pertambangan Ancam Target Konservasi Global 30x30

Kompas.com, 28 Oktober 2026, 12:11 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan baru dari Earth Insight menemukan bahwa lebih dari 61,5 juta hektare kawasan lindung dan konservasi tumpang tindih dengan blok minyak dan gas yang sedang berjalan maupun yang direncanakan di negara-negara tropis.

Selain itu, ada 42,7 juta hektare lahan lindung lainnya yang tumpang tindih dengan area tambang.

"Analisis ini menunjukkan adanya jurang pemisah yang besar antara komitmen konservasi dan tekanan industri yang dihadapi oleh kawasan yang seharusnya sudah dilindungi," kata Florencia Librizzi, wakil direktur Earth Insight sekaligus penulis laporan tersebut.

Temuan laporan pun menunjukkan pula bahwa memperluas kawasan lindung saja tidaklah cukup.

Melansir Eco Business, Minggu (25/10/2026) pada konferensi COP15 tahun 2022, 196 negara berjanji untuk melindungi setidaknya 30 persen daratan, perairan darat, serta wilayah pesisir dan laut dunia pada tahun 2030 atau yang dikenal sebagai target 30×30 melalui Target 3 dalam Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal.

Tahun ini, para delegasi akan menilai kemajuan global dalam mencapai target 30x30 tersebut.

Namun, laporan Earth Insight menyarankan alih-alih melakukan penilaian global, sebaiknya pemerintah mengevaluasi ekosistem apa saja yang benar-benar dijaga, memastikan penegakan hukumnya berjalan efektif, serta mencegah kegiatan industri merusak upaya konservasi.

Baca juga: Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi

Kawasan rentan

Koalisi lembaga swadaya masyarakat (LSM) pun menganalisis tekanan dari berbagai industri ekstraktif serta bagaimana kegiatan tersebut tumpang tindih dengan kawasan yang memiliki berbagai tingkat perlindungan.

Para peneliti menemukan bahwa kawasan yang tidak memiliki manajemen konservasi menghadapi tekanan ekstraktif tambahan.

Laporan tersebut mencatat bahwa lebih dari 36 juta hektare (atau 19 persen) Kawasan Keanekaragaman Hayati Kunci (KBA) yang tidak dilindungi terancam oleh blok minyak dan gas, serta 28 juta hektare (atau 15 persen) terancam oleh konsesi tambang. Untuk KBA laut, seluas 91 juta hektare tetap tidak dilindungi, dan 19 persen di antaranya terancam oleh blok minyak dan gas.

Lebih dari 40 persen KBA daratan di wilayah Amazon belum dilindungi, begitu pula dengan 29 persen di Cekungan Kongo, serta lebih dari 50 persen di Asia Tenggara dan Amerika Tengah.

Norman Jiwan, seorang tokoh adat Dayak Kerambai dari Kalimantan Barat mengatakan bahwa kegiatan industri ekstraktif dapat menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat adat dan wilayah mereka.

Dampak tersebut meliputi pembatasan mata pencaharian, hilangnya hak dan keadilan, peningkatan risiko penyakit dan infeksi virus, konflik serta masalah sosial-budaya lainnya, serta meningkatnya polusi dan paparan bahan kimia.

Di wilayah Amazon, seluas 15,6 juta hektare (atau 3,9 persen) dari kawasan lindung tumpang tindih dengan blok minyak dan gas, begitu juga dengan 21 persen lahan yang tidak dilindungi dan 43 persen kawasan laut yang tidak dilindungi.

Di Asia Tenggara, konsesi minyak dan gas mencakup 17 persen dari kawasan lindung, serta 19 persen dari KBA daratan yang tidak dilindungi dan 12 persen dari KBA laut yang tidak dilindungi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Pemerintah
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
LSM/Figur
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
LSM/Figur
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Pemerintah
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Pemerintah
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik  Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
LSM/Figur
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Pemerintah
PBB: 80 Persen Pekerja Rumah Tangga Tak Punya Perlindungan Kerja Formal
PBB: 80 Persen Pekerja Rumah Tangga Tak Punya Perlindungan Kerja Formal
Pemerintah
Kadar Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi Baru pada 2025v
Kadar Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi Baru pada 2025v
Pemerintah
Beras Rendah Emisi Berpeluang Masuk Pasar Ritel, Pendapatan Petani Bisa Naik
Beras Rendah Emisi Berpeluang Masuk Pasar Ritel, Pendapatan Petani Bisa Naik
LSM/Figur
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemerintah
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
Swasta
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
LSM/Figur
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau