KOMPAS.com – Ruang terbuka hijau (RTH) memiliki peran penting dalam mewujudkan kampus yang sehat dan berkelanjutan.
Selain membuat lingkungan lebih sejuk, RTH dapat membantu menyerap polusi udara, mengurangi risiko genangan, menjaga ketersediaan air, serta melestarikan keanekaragaman hayati.
Dosen Departemen Arsitektur Lanskap IPB University, Prita Ayu Permatasari, mengatakan, manfaat ekologis RTH dapat dirasakan langsung oleh sivitas akademika melalui peningkatan kualitas lingkungan kampus.
Baca juga: Jakarta Butuh “Wali Kota Gila Taman”, RTH Baru 5 Persen
“Ruang terbuka hijau memiliki nilai penting untuk mendukung konsep green campus melalui jasa ekosistem yang dihasilkan, seperti menurunkan suhu udara, menyerap polusi, mengurangi aliran permukaan, meningkatkan konservasi air, serta mendukung konservasi biodiversitas,” ujar Prita, dilansir dari laman resmi IPB University, Rabu (28/10/2026).
Menurut Prita, pepohonan membantu mengurangi paparan radiasi matahari melalui tajuknya. Sementara itu, proses evapotranspirasi atau pelepasan air dari tanah dan tumbuhan ke atmosfer turut membantu menurunkan suhu di sekitar vegetasi.
Lingkungan yang lebih sejuk dapat meningkatkan kenyamanan aktivitas di kampus dan berpotensi mengurangi kebutuhan penggunaan pendingin ruangan.
Vegetasi juga berperan dalam menjaga kualitas udara. Tanaman menyerap karbon melalui fotosintesis, sedangkan bagian tumbuhan tertentu dapat menangkap partikel debu dan membantu mengurangi konsentrasi polutan, termasuk nitrogen dioksida.
Untuk memaksimalkan manfaat RTH, Prita menekankan pentingnya perencanaan lanskap yang tidak hanya berorientasi pada luas kawasan hijau, tetapi juga keterhubungan antarruang terbuka.
Konektivitas tersebut dapat dibangun melalui koridor vegetasi di sepanjang jalan dan kawasan kampus. Dengan begitu, kawasan hijau tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari sistem lanskap yang saling terhubung.
Pemilihan tanaman juga perlu mempertimbangkan fungsi ekologisnya. Pohon bertajuk lebar, misalnya, dapat memberikan keteduhan, sedangkan susunan vegetasi yang tepat dapat membantu mengurangi paparan polutan.
Prita juga mendorong penggunaan tanaman lokal untuk mendukung adaptasi tumbuhan terhadap kondisi lingkungan setempat sekaligus menjaga kelestarian spesies asli.
Selain ruang terbuka hijau, integrasi dengan ruang terbuka biru, seperti sungai dan danau, juga dinilai penting. Keterhubungan kedua kawasan tersebut dapat membantu menjaga habitat, mendukung konservasi air, dan mengurangi risiko banjir.
Penataan lanskap, lanjut Prita, perlu mendukung mobilitas ramah lingkungan melalui jalur pejalan kaki dan pesepeda yang teduh. Jenis tanaman di sepanjang jalur harus dipilih dengan mempertimbangkan keamanan pengguna serta potensi kerusakan infrastruktur akibat pertumbuhan akar.
Baca juga: Pemkot Magelang Bangun RTH Sidotopo Rp 5,3 Miliar, Upaya Pecah Keramaian di Alun-alun
“Penataan vegetasi yang tepat dapat membantu menurunkan suhu udara, mengurangi polusi, mencegah genangan, hingga menciptakan lingkungan yang nyaman bagi pejalan kaki,” tutur Prita.
Ia menegaskan, keberhasilan konsep *green campus* tidak cukup diukur berdasarkan jumlah tanaman atau luas kawasan hijau. Fungsi ekologis lanskap juga perlu menjadi indikator dalam pengelolaan lingkungan kampus.
“Peningkatan konektivitas antarruang terbuka hijau melalui koridor hijau, pemilihan tanaman yang sesuai, dan konservasi habitat dapat membantu memperbaiki kualitas lingkungan kampus,” ucapnya.
Manfaat ruang hijau juga relevan dalam upaya menghadapi krisis iklim di kawasan perkotaan.
Profesor pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Northeastern University, Fang Fang, mengatakan, penghijauan kota dapat membantu menurunkan suhu dan memperbaiki kualitas udara.
Keberadaan pepohonan dan taman di tengah kawasan yang didominasi bangunan juga dapat mendorong masyarakat berjalan kaki sehingga berpotensi mengurangi penggunaan kendaraan.
Namun, pengelolaan ruang hijau perkotaan menghadapi tantangan, termasuk perluasan kawasan dan pemeliharaan pohon.
Fang mencontohkan Washington, DC, yang telah memanfaatkan hutan kota dan ruang hijau untuk meningkatkan kelayakan huni. Meski demikian, pemantauan dan perawatan pohon tetap menjadi pekerjaan penting.
“Para ahli kehutanan perkotaan memiliki rencana di seluruh kota dan melakukan survei pohon skala besar sambil juga merawat pohon-pohon individual sesuai kebutuhan, tapi mereka ingin memiliki cara yang lebih efektif untuk memantau seluruh sistem,” kata Fang, dilansir dari Phys.org, Rabu (25/3/2026).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya