Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim

Kompas.com, 31 Oktober 2026, 17:19 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PBB

KOMPAS.com - Lautan menyerap sekitar 30 persen emisi karbondioksida (CO2) akibat aktivitas manusia dan 90 persen panas berlebih yang terperangkap oleh gas rumah kaca.

Namun, melansir laman resmi United Nations, Rabu (28/10/2026) perubahan iklim telah menurunkan kemampuan lautan dalam menyerap karbon hingga sekitar enam persen, demikian peringatan dalam laporan baru PBB menjelang konferensi iklim COP31 pada bulan November.

Laporan ini merupakan hasil kerja sama antara Badan Lingkungan Hidup PBB (UNEP) dan Sekretariat Iklim PBB (UNFCCC), yang turut menyelenggarakan COP31.

"Selama ini lautan telah memberikan jasa iklim yang sangat besar bagi kita, namun jasa tersebut kini semakin tertekan," ujar Sara Traerup, penulis utama laporan tersebut.

"Kenaikan suhu serta perubahan pada kimia laut, sirkulasi air, dan ekosistem lautan mulai melemahkan kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan karbon. Hal ini menyebabkan lebih banyak gas CO2 tertinggal di atmosfer. Proses pelemahan ini sangat mungkin melaju lebih cepat dalam waktu dekat," peringat Traerup.

Baca juga: Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang

Tantangan besarnya adalah minimnya data pemantauan lautan yang andal, terutama di Samudra Selatan, Samudra Hindia, Arktik, dan banyak kawasan pesisir.

Penguatan teknologi iklim laut

Oleh karena itu, laporan ini mendesak penguatan ocean carbon intelligence yaitu sistem pengumpulan informasi dan data akurat dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi, data, serta kearifan lokal untuk memahami dan mengelola sistem karbon laut dengan lebih baik.

"Saat ini kita belum memiliki informasi yang utuh tentang lautan. Dan apa yang tidak kita ketahui, tidak akan bisa kita kelola dan lindungi," jelas Traerup.

UNEP sendiri menyoroti tiga jenis utama teknologi iklim laut, di mana masing-masing memiliki peluang dan risikonya sendiri.

Jenis pertama adalah pemantauan lautan yang mencakup sistem observasi, sensor, pengolahan data, dan pemodelan. Traerup menyebut teknologi ini sebagai yang paling matang dan paling mendesak dibutuhkan saat ini.

Jenis kedua adalah ekosistem karbon biru, seperti hutan bakau (mangrove), padang lamun (seagrass), dan rawa asin (salt marsh). Ekosistem ini telah menyerap sekitar 407 juta ton CO2 setiap tahunnya, dan pemulihannya dapat menambah kapasitas penyerapan secara signifikan.

Selain menyerap karbon, ekosistem ini juga melindungi garis pantai, mendukung keanekaragaman hayati, dan menopang penghidupan masyarakat lokal.

Jenis ketiga adalah penyerapan karbon dioksida berbasis laut, yang bertujuan menyedot CO2 dari udara dan menyimpannya dalam jangka panjang. Meskipun berpotensi menjanjikan, pendekatan ini masih sangat penuh ketidakpastian serta membutuhkan riset, pemantauan, dan regulasi yang lebih mendalam.

Baca juga: Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi

"Kita tidak boleh menganggap teknologi berbasis laut ini sebagai jalan pintas sebab teknologi ini harus melengkapi bukan menggantikan upaya pengurangan emisi dan perlindungan ekosistem," tegas Traerup.

Traerup mengungkapkan pula Negara Kepulauan Kecil yang Berkembang (Small Island Developing States / SIDS) menyumbang kurang dari satu persen emisi global, namun berada di Garis Depan Dampak Lautan dan Iklim.

Laporan ini mendesak akses pendanaan yang lebih besar, transfer teknologi, serta peningkatan kapasitas agar negara-negara ini dapat mengembangkan solusi kelautan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Beberapa negara kepulauan telah membuktikan bahwa cara ini bisa berjalan.

Laporan ini juga menekankan pentingnya memadukan pengetahuan lokal dan masyarakat adat.

"Masyarakat lokal telah beradaptasi dengan perubahan iklim selama bertahun-tahun. Mereka berpengalaman dalam melindungi garis pantai menggunakan habitat alami serta mengelola perikanan dan sumber daya pesisir secara berkelanjutan," tambah Traerup.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemerintah
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
Swasta
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
LSM/Figur
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Skor Daya Saing Karbon RI Terendah di ASEAN, Tertinggal Jauh dari Filipina
Skor Daya Saing Karbon RI Terendah di ASEAN, Tertinggal Jauh dari Filipina
LSM/Figur
ESG di Asia Tak Lagi Sekadar CSR, Kini Terintegrasi ke Jantung Bisnis
ESG di Asia Tak Lagi Sekadar CSR, Kini Terintegrasi ke Jantung Bisnis
Swasta
Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel
Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel
Swasta
UNBL dan Uniska Dampingi Warga Al Kautsar Olah Potensi Desa Jadi Produk Bernilai
UNBL dan Uniska Dampingi Warga Al Kautsar Olah Potensi Desa Jadi Produk Bernilai
Pemerintah
EIGER Nature Diresmikan, Menpar Apresiasi Ekowisata Berkelanjutan
EIGER Nature Diresmikan, Menpar Apresiasi Ekowisata Berkelanjutan
BrandzView
Bingung TPS Ditutup, Kampung di Bogor Kelola Sampah Organik Jadi Alas Kandang Ayam dan Kompos
Bingung TPS Ditutup, Kampung di Bogor Kelola Sampah Organik Jadi Alas Kandang Ayam dan Kompos
LSM/Figur
361 Kilogram Sampah Diangkat dari Bantaran Ciliwung, Pencemaran Domestik Jadi Sorotan
361 Kilogram Sampah Diangkat dari Bantaran Ciliwung, Pencemaran Domestik Jadi Sorotan
Swasta
Harga Karbon Indonesia Terlalu Murah, Industri Menanti Kepastian Perdagangan Emisi
Harga Karbon Indonesia Terlalu Murah, Industri Menanti Kepastian Perdagangan Emisi
LSM/Figur
Mengurai Krisis Biarpet dan Ambisi Ketahanan Energi
Mengurai Krisis Biarpet dan Ambisi Ketahanan Energi
Pemerintah
Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala
Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala
LSM/Figur
RTH Jadi Penopang 'Green Campus' dari Menurunkan Suhu hingga Mencegah Banjir
RTH Jadi Penopang "Green Campus" dari Menurunkan Suhu hingga Mencegah Banjir
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau