Penulis
KOMPAS.com – Tantangan krisis air bersih dan tata kelola lingkungan global bergeser ke tingkat lebih mendasar, yakni bagaimana peradaban modern mengelola limbah cair secara bertanggung jawab.
Di tengah ancaman perubahan iklim dan eksploitasi air tanah masif, akses sanitasi layak saja dipandang tidak lagi memadai. Dunia, termasuk Indonesia, dituntut bergerak menuju standar sanitasi aman yang melindungi sumber-sumber air dari ancaman pencemaran patogen berbahaya.
Kondisi tersebut tercermin secara nasional di mana akses sanitasi aman di Indonesia baru mencapai 10,16 persen berdasarkan kajian Bappenas dan Badan Pusat Statistik (BPS).
Kesenjangan lebar ini menunjukkan persoalan sanitasi bukan sekadar menyediakan fasilitas jamban atau saluran air semata, melainkan memastikan limbah domestik diolah secara tersentralisasi maupun terdesentralisasi agar kembali aman bagi lingkungan.
Upaya konkret dalam menjawab tantangan tersebut diwujudkan melalui inisiatif strategis di tingkat lokal.
Pemerintah Kota Surakarta bersama konsorsium filantrofi global yang melibatkan Pijar Foundation, Gates Foundation, Tahir Foundation, serta Asian Institute of Technology (AIT) Thailand, resmi memasang 15 instalasi Smart Sanitation di Kota Surakarta.
Instalasi pengolahan air limbah domestik yang tersebar di berbagai titik fasilitas publik seperti sekolah, rumah susun (rusunawa), dan gedung perkantoran ini diserahterimakan secara simbolis di SMP Negeri 4 Surakarta.
Program ini berfokus pada dua tujuan utama, menekan pencemaran lingkungan akibat air limbah domestik dan memungkinkan air hasil olahan (reclaimed water) dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan non-konsumsi, seperti penyiraman tanaman dan penghijauan.
Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto, menyambut baik inovasi ini dan menekankan pentingnya duplikasi sistem dalam menghadapi tantangan kelangkaan air global.
"Tentu ini Smart Sanitasi luar biasa karena kita dalam tantangan global. Bagaimana kelangkaan air ini menjadi solusi," ujar Respati saat menerima instalasi tersebut.
Baca juga: Hujan Tak Kunjung Turun di Mamuju, Sekolah Kehabisan Air Bersih untuk Sanitasi
"Dan tadi diperbolehkan untuk menduplikasi sistem ini sehingga itu yang diharapkan supaya sanitasi baik di seluruh Kota Solo agar masyarakat mendapat air bersih dan bisa digunakan sesuai standar," lanjutnya.
Kunjungan ke inovasi Smart Sanitation di SMPN 4 Surakarta dilakukan Wali Kota Surakarta, Perwakilan Pijar Foundation, Kemenkes, Asia Institute of Technology (AIT) Thailand, dan Kepala Perangkat Daerah Surakarta.Teknologi Smart Sanitation bekerja dengan mengolah air limbah domestik secara terdesentralisasi. Sistem ini dirancang untuk memangkas pembuangan limbah yang terkontaminasi organisme patogen langsung ke tanah atau aliran sungai.
Dari sudut pandang filantropi global, keterlibatan lembaga internasional dalam tahap uji coba ini bertujuan membangun model yang dapat direplikasi secara mandiri oleh pihak lokal.
WASH Asia Leader Gates Foundation, Sakshi Gudwani menjelaskan filantropi mengambil peran perintis untuk membuktikan efektivitas suatu pendekatan.
"Bagi kami, mendukung kemitraan ini berarti membantu menguji dan membuktikan pendekatan baru, sehingga pemerintah dan mitra lokal memiliki keyakinan untuk melanjutkan penerapannya," ungkap Sakshi Gudwani.
Dia menambahkan, "Filantropi dapat mengambil risiko pada tahap awal, tetapi dampak jangka panjang hanya dapat terwujud ketika solusi dipimpin dan dikelola oleh pihak lokal, mulai dari pemerintah kota, penyedia layanan, sekolah, hingga masyarakat."
Senada dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif Pijar Foundation, Cazadira Fediva Tamzil, menekankan faktor sosial memegang peranan setara dengan teknologi dalam keberhasilan jangka panjang sebuah program infrastruktur.
"Teknologi saja tidak cukup. Keberhasilan program ini membutuhkan keterlibatan masyarakat dan kolaborasi lintas sektor agar manfaatnya dapat terus dirasakan. Kami mengajak kolaborasi ini dapat terus terjaga kedepannya," ujar Cazadira.
Sementara itu, Co-Director Global Water & Sanitation Center dari Asian Institute of Technology (AIT) Thailand, Prof. Thammarat Koottatep menyoroti pergeseran paradigma cara pandang terhadap air limbah.
Menurutnya, air limbah tidak lagi layak dipandang semata-mata sebagai masalah lingkungan, melainkan dapat diubah menjadi sumber daya alternatif yang bernilai ekonomis dan ekologis.
Sebagai bagian dari keberlanjutan jangka panjang, rangkaian program ini juga menyasar sektor pendidikan melalui kegiatan Townhall Muda for Smart Sanitation di SMPN 4 Surakarta.
Mengusung tema "Dari Sekolah Adiwiyata untuk Solo Berkelanjutan," program ini mengintegrasikan instalasi pengolahan air limbah sebagai media pembelajaran langsung bagi para siswa.
Kementerian Kesehatan RI yang turut mengapresiasi langkah ini menilai bahwa transisi dari sanitasi layak menuju sanitasi aman adalah bentuk investasi kesehatan preventif yang krusial.
"Sanitasi aman merupakan fondasi penting bagi pencegahan penyakit berbasis lingkungan, perlindungan kualitas air, dan peningkatan kesehatan masyarakat. Kita harus bergerak dari sanitasi layak menuju sanitasi aman," ujar Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, dr. Then Suyanti.
"Karena sanitasi aman adalah investasi kesehatan untuk menciptakan lingkungan yang sehat bagi generasi mendatang," tegasnya.
Melalui pengenalan teknologi pengolahan air sejak dini, para siswa diajak memahami bahwa masa depan pengelolaan sumber daya air bergantung pada kesadaran kolektif generasi muda.
Pengalaman sukses penerapan Smart Sanitation di Surakarta ini diharapkan dapat menjadi model percontohan dan direplikasi oleh kota-kota lain di Indonesia dalam merintis ketahanan air dan sanitasi perkotaan yang berkelanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya