Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman

Kompas.com, 31 Oktober 2026, 19:04 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com – Tantangan krisis air bersih dan tata kelola lingkungan global bergeser ke tingkat lebih mendasar, yakni bagaimana peradaban modern mengelola limbah cair secara bertanggung jawab.

Di tengah ancaman perubahan iklim dan eksploitasi air tanah masif, akses sanitasi layak saja dipandang tidak lagi memadai. Dunia, termasuk Indonesia, dituntut bergerak menuju standar sanitasi aman yang melindungi sumber-sumber air dari ancaman pencemaran patogen berbahaya.

Kondisi tersebut tercermin secara nasional di mana akses sanitasi aman di Indonesia baru mencapai 10,16 persen berdasarkan kajian Bappenas dan Badan Pusat Statistik (BPS).

Kesenjangan lebar ini menunjukkan persoalan sanitasi bukan sekadar menyediakan fasilitas jamban atau saluran air semata, melainkan memastikan limbah domestik diolah secara tersentralisasi maupun terdesentralisasi agar kembali aman bagi lingkungan.

Upaya konkret dalam menjawab tantangan tersebut diwujudkan melalui inisiatif strategis di tingkat lokal.

Pemerintah Kota Surakarta bersama konsorsium filantrofi global yang melibatkan Pijar Foundation, Gates Foundation, Tahir Foundation, serta Asian Institute of Technology (AIT) Thailand, resmi memasang 15 instalasi Smart Sanitation di Kota Surakarta.

Instalasi pengolahan air limbah domestik yang tersebar di berbagai titik fasilitas publik seperti sekolah, rumah susun (rusunawa), dan gedung perkantoran ini diserahterimakan secara simbolis di SMP Negeri 4 Surakarta.

Program ini berfokus pada dua tujuan utama, menekan pencemaran lingkungan akibat air limbah domestik dan memungkinkan air hasil olahan (reclaimed water) dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan non-konsumsi, seperti penyiraman tanaman dan penghijauan.

Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto, menyambut baik inovasi ini dan menekankan pentingnya duplikasi sistem dalam menghadapi tantangan kelangkaan air global.

"Tentu ini Smart Sanitasi luar biasa karena kita dalam tantangan global. Bagaimana kelangkaan air ini menjadi solusi," ujar Respati saat menerima instalasi tersebut.

Baca juga: Hujan Tak Kunjung Turun di Mamuju, Sekolah Kehabisan Air Bersih untuk Sanitasi

"Dan tadi diperbolehkan untuk menduplikasi sistem ini sehingga itu yang diharapkan supaya sanitasi baik di seluruh Kota Solo agar masyarakat mendapat air bersih dan bisa digunakan sesuai standar," lanjutnya.

Mengubah Air Limbah Jadi Sumber Daya Bernilai

Kunjungan ke inovasi Smart Sanitation di SMPN 4 Surakarta dilakukan Wali Kota Surakarta, Perwakilan Pijar Foundation, Kemenkes, Asia Institute of Technology (AIT) Thailand, dan Kepala Perangkat Daerah Surakarta.DOK. PIJAR FOUNDATION Kunjungan ke inovasi Smart Sanitation di SMPN 4 Surakarta dilakukan Wali Kota Surakarta, Perwakilan Pijar Foundation, Kemenkes, Asia Institute of Technology (AIT) Thailand, dan Kepala Perangkat Daerah Surakarta.

Teknologi Smart Sanitation bekerja dengan mengolah air limbah domestik secara terdesentralisasi. Sistem ini dirancang untuk memangkas pembuangan limbah yang terkontaminasi organisme patogen langsung ke tanah atau aliran sungai.

Dari sudut pandang filantropi global, keterlibatan lembaga internasional dalam tahap uji coba ini bertujuan membangun model yang dapat direplikasi secara mandiri oleh pihak lokal.

WASH Asia Leader Gates Foundation, Sakshi Gudwani menjelaskan filantropi mengambil peran perintis untuk membuktikan efektivitas suatu pendekatan.

"Bagi kami, mendukung kemitraan ini berarti membantu menguji dan membuktikan pendekatan baru, sehingga pemerintah dan mitra lokal memiliki keyakinan untuk melanjutkan penerapannya," ungkap Sakshi Gudwani.

Dia menambahkan, "Filantropi dapat mengambil risiko pada tahap awal, tetapi dampak jangka panjang hanya dapat terwujud ketika solusi dipimpin dan dikelola oleh pihak lokal, mulai dari pemerintah kota, penyedia layanan, sekolah, hingga masyarakat."

Senada dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif Pijar Foundation, Cazadira Fediva Tamzil, menekankan faktor sosial memegang peranan setara dengan teknologi dalam keberhasilan jangka panjang sebuah program infrastruktur.

"Teknologi saja tidak cukup. Keberhasilan program ini membutuhkan keterlibatan masyarakat dan kolaborasi lintas sektor agar manfaatnya dapat terus dirasakan. Kami mengajak kolaborasi ini dapat terus terjaga kedepannya," ujar Cazadira.

Sementara itu, Co-Director Global Water & Sanitation Center dari Asian Institute of Technology (AIT) Thailand, Prof. Thammarat Koottatep  menyoroti pergeseran paradigma cara pandang terhadap air limbah.

Menurutnya, air limbah tidak lagi layak dipandang semata-mata sebagai masalah lingkungan, melainkan dapat diubah menjadi sumber daya alternatif yang bernilai ekonomis dan ekologis.

Sebagai bagian dari keberlanjutan jangka panjang, rangkaian program ini juga menyasar sektor pendidikan melalui kegiatan Townhall Muda for Smart Sanitation di SMPN 4 Surakarta.

Mengusung tema "Dari Sekolah Adiwiyata untuk Solo Berkelanjutan," program ini mengintegrasikan instalasi pengolahan air limbah sebagai media pembelajaran langsung bagi para siswa.

Kementerian Kesehatan RI yang turut mengapresiasi langkah ini menilai bahwa transisi dari sanitasi layak menuju sanitasi aman adalah bentuk investasi kesehatan preventif yang krusial.

"Sanitasi aman merupakan fondasi penting bagi pencegahan penyakit berbasis lingkungan, perlindungan kualitas air, dan peningkatan kesehatan masyarakat. Kita harus bergerak dari sanitasi layak menuju sanitasi aman," ujar Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, dr. Then Suyanti.

"Karena sanitasi aman adalah investasi kesehatan untuk menciptakan lingkungan yang sehat bagi generasi mendatang," tegasnya.

Baca juga: Peneliti Soroti Penyerapan Anggaran Air dan Sanitasi di Semarang, Bappeda Siapkan Strategi Sanitasi Kota

Melalui pengenalan teknologi pengolahan air sejak dini, para siswa diajak memahami bahwa masa depan pengelolaan sumber daya air bergantung pada kesadaran kolektif generasi muda.

Pengalaman sukses penerapan Smart Sanitation di Surakarta ini diharapkan dapat menjadi model percontohan dan direplikasi oleh kota-kota lain di Indonesia dalam merintis ketahanan air dan sanitasi perkotaan yang berkelanjutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemerintah
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
Swasta
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
LSM/Figur
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Skor Daya Saing Karbon RI Terendah di ASEAN, Tertinggal Jauh dari Filipina
Skor Daya Saing Karbon RI Terendah di ASEAN, Tertinggal Jauh dari Filipina
LSM/Figur
ESG di Asia Tak Lagi Sekadar CSR, Kini Terintegrasi ke Jantung Bisnis
ESG di Asia Tak Lagi Sekadar CSR, Kini Terintegrasi ke Jantung Bisnis
Swasta
Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel
Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel
Swasta
UNBL dan Uniska Dampingi Warga Al Kautsar Olah Potensi Desa Jadi Produk Bernilai
UNBL dan Uniska Dampingi Warga Al Kautsar Olah Potensi Desa Jadi Produk Bernilai
Pemerintah
EIGER Nature Diresmikan, Menpar Apresiasi Ekowisata Berkelanjutan
EIGER Nature Diresmikan, Menpar Apresiasi Ekowisata Berkelanjutan
BrandzView
Bingung TPS Ditutup, Kampung di Bogor Kelola Sampah Organik Jadi Alas Kandang Ayam dan Kompos
Bingung TPS Ditutup, Kampung di Bogor Kelola Sampah Organik Jadi Alas Kandang Ayam dan Kompos
LSM/Figur
361 Kilogram Sampah Diangkat dari Bantaran Ciliwung, Pencemaran Domestik Jadi Sorotan
361 Kilogram Sampah Diangkat dari Bantaran Ciliwung, Pencemaran Domestik Jadi Sorotan
Swasta
Harga Karbon Indonesia Terlalu Murah, Industri Menanti Kepastian Perdagangan Emisi
Harga Karbon Indonesia Terlalu Murah, Industri Menanti Kepastian Perdagangan Emisi
LSM/Figur
Mengurai Krisis Biarpet dan Ambisi Ketahanan Energi
Mengurai Krisis Biarpet dan Ambisi Ketahanan Energi
Pemerintah
Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala
Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala
LSM/Figur
RTH Jadi Penopang 'Green Campus' dari Menurunkan Suhu hingga Mencegah Banjir
RTH Jadi Penopang "Green Campus" dari Menurunkan Suhu hingga Mencegah Banjir
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau