Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel

Kompas.com, 31 Oktober 2026, 09:35 WIB
Sri Noviyanti,
DWN

Tim Redaksi


KOMPAS.com - Api hampir tak pernah padam di Kota Besi (Iron Town).

Di kota kecil dalam film Princess Mononoke karya Hayao Miyazaki itu, besi dilebur dan ditempa di tengah kepulan asap. Orang-orang menggantungkan hidup pada tungku yang terus menyala. Dari sanalah pekerjaan tersedia dan sebuah kota bertahan.

Tak jauh dari sana, hutan membentang. Semakin jauh manusia mencari bahan baku, semakin dekat pula kegiatan mereka dengan ruang hidup yang lebih dulu ada. Besi yang menghidupi kota dan hutan yang menopang kehidupan berada dalam bentang alam yang sama.

Cerita yang dikemas dalam film animasi Studio Ghibli pada 1997 itu berhenti di layar. Namun, pertemuan antara mineral, industri, manusia, dan alam juga berlangsung di banyak daerah penghasil tambang.

Salah satunya Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Nikel telah lama keluar dari tanah di kawasan ini. Kini, perjalanannya bertambah panjang.

Baca juga: PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih

Di Blok Pomalaa, PT Vale Indonesia Tbk mengembangkan Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, proyek hilirisasi yang menjadi bagian dari pembangunan fondasi industri pengolahan nikel di dalam negeri.

Proyek itu mencakup pertambangan bijih nikel yang dioperasikan Vale dan fasilitas pengolahan berteknologi high-pressure acid leaching (HPAL) yang dikembangkan PT Kolaka Nickel Indonesia, perusahaan patungan Vale, Zhejiang Huayou Cobalt, dan Ford Motor.

Investasi untuk tambang dan fasilitas HPAL mencapai sekitar 4,5 miliar dollar AS.

Pabrik tersebut dirancang menghasilkan mixed hydroxide precipitate atau MHP, bahan antara yang digunakan dalam rantai produksi baterai kendaraan listrik. Kapasitas tahunannya diperkirakan mencapai 120.000 ton nikel dan sekitar 15.000 ton kobalt yang terkandung dalam MHP.

Aktivitas tambangnya lebih dulu berjalan. Pada 1 Maret 2026, Vale mengumumkan penjualan perdana bijih nikel dari IGP Pomalaa. Memasuki bulan yang sama, produksi limonit ditargetkan mencapai 300.000 ton per bulan.

Sementara itu, pembangunan fasilitas HPAL masih berlangsung. Dalam Laporan Tahunan 2025, Vale menargetkan tahap pertama penyelesaian mekanis (first mechanical completion) pada kuartal III-2026.

Baca juga: Produksi Nikel Matte Vale Indonesia Tembus 29.773 Ton, Pendapatan Ikut Naik

Gerak proyek itu kemudian menjalar keluar dari area tambang. Ribuan pekerja masuk, kebutuhan keterampilan bertambah, dan aktivitas ekonomi baru muncul di sekitarnya.

Sementara itu, sungai, sawah, kebun, dan kampung tetap menjadi ruang hidup warga Pomalaa.

Dari bijih menuju industri

Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Mineral Commodity Summaries 2026 yang diterbitkan United States Geological Survey (USGS) memperkirakan cadangan nikel Indonesia mencapai 62 juta ton. Produksi tambang pada 2025 diperkirakan mencapai 2,6 juta ton.

Sebagai pembanding, Australia memiliki cadangan sekitar 25 juta ton dan Brasil 16 juta ton.
Besarnya cadangan itu semakin penting setelah pemerintah menghentikan ekspor bijih nikel dan mendorong mineral diproses di dalam negeri.

Nilai ekspornya ikut berubah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat nilai ekspor produk nikel Indonesia yang berada di kisaran 3,3 miliar dollar AS pada 2017-2018 telah menembus lebih dari 40 miliar dollar AS pada 2025.

Baca juga: Produksi Nikel Matte Vale Indonesia Tembus 29.773 Ton, Pendapatan Ikut Naik

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut pengolahan di dalam negeri sebagai bagian dari upaya memperbesar nilai ekonomi sumber daya alam.

“Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional,” ujar Bahlil saat membuka Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Tangerang, Rabu (14/10/26).

Namun, rantai pengolahan nikel Indonesia belum sepenuhnya sampai ke produk akhir. Pemerintah mengakui sebagian besar produk smelter masih berada pada tahap antara.

Artinya, fondasi hilirisasi masih terus dibangun, tidak hanya melalui bertambahnya fasilitas pengolahan, tetapi juga melalui kemampuan industri memperpanjang rantai nilai di dalam negeri.

Arus investasi mengikutinya. Sepanjang Januari-September 2026, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat investasi hilirisasi mencapai Rp 480 triliun atau 31,2 persen dari seluruh realisasi investasi nasional pada periode tersebut.

Sektor mineral menyumbang Rp 335,1 triliun. Dari jumlah itu, investasi terkait nikel mencapai Rp 118,9 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan investasi tersebut perlu berkembang menjadi investasi berkualitas yang memberi dampak kepada masyarakat.
“Investasi ini terus meningkat menjadi investasi yang berkualitas dan juga bisa memberikan dampak yang positif seperti penyerapan tenaga kerja,” kata Rosan.

Baca juga: Cara Vale Menambang Nikel dan Tetap Jaga Lingkungan

Di daerah penghasil mineral, dampak seperti itulah yang kemudian berhadapan langsung dengan kehidupan warga.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemerintah
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
Swasta
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
LSM/Figur
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Skor Daya Saing Karbon RI Terendah di ASEAN, Tertinggal Jauh dari Filipina
Skor Daya Saing Karbon RI Terendah di ASEAN, Tertinggal Jauh dari Filipina
LSM/Figur
ESG di Asia Tak Lagi Sekadar CSR, Kini Terintegrasi ke Jantung Bisnis
ESG di Asia Tak Lagi Sekadar CSR, Kini Terintegrasi ke Jantung Bisnis
Swasta
Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel
Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel
Swasta
UNBL dan Uniska Dampingi Warga Al Kautsar Olah Potensi Desa Jadi Produk Bernilai
UNBL dan Uniska Dampingi Warga Al Kautsar Olah Potensi Desa Jadi Produk Bernilai
Pemerintah
EIGER Nature Diresmikan, Menpar Apresiasi Ekowisata Berkelanjutan
EIGER Nature Diresmikan, Menpar Apresiasi Ekowisata Berkelanjutan
BrandzView
Bingung TPS Ditutup, Kampung di Bogor Kelola Sampah Organik Jadi Alas Kandang Ayam dan Kompos
Bingung TPS Ditutup, Kampung di Bogor Kelola Sampah Organik Jadi Alas Kandang Ayam dan Kompos
LSM/Figur
361 Kilogram Sampah Diangkat dari Bantaran Ciliwung, Pencemaran Domestik Jadi Sorotan
361 Kilogram Sampah Diangkat dari Bantaran Ciliwung, Pencemaran Domestik Jadi Sorotan
Swasta
Harga Karbon Indonesia Terlalu Murah, Industri Menanti Kepastian Perdagangan Emisi
Harga Karbon Indonesia Terlalu Murah, Industri Menanti Kepastian Perdagangan Emisi
LSM/Figur
Mengurai Krisis Biarpet dan Ambisi Ketahanan Energi
Mengurai Krisis Biarpet dan Ambisi Ketahanan Energi
Pemerintah
Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala
Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala
LSM/Figur
RTH Jadi Penopang 'Green Campus' dari Menurunkan Suhu hingga Mencegah Banjir
RTH Jadi Penopang "Green Campus" dari Menurunkan Suhu hingga Mencegah Banjir
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau