Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Restorasi Ekosistem Global Lambat, PBB Ungkap Baru Mencapai 25 Persen

Kompas.com, 5 November 2026, 20:18 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Laporan tersebut memperkirakan bahwa 63 persen lahan basah air tawar yang tersisa saat ini dalam kondisi rusak. Program Freshwater Challenge global sendiri menargetkan untuk memulihkan 350 juta hektar lahan basah dan 300.000 km aliran sungai.

Ekosistem air tawar menghadapi berbagai ancaman, mulai dari pencemaran, eksploitasi berlebihan, perusakan alur air alami, perusakan habitat, spesies invasif, hingga perubahan iklim.

Ancaman serupa juga dihadapi ekosistem laut dan pesisir. Laporan memperkirakan antara 60 hingga 66 persen ekosistem ini telah rusak, dimanfaatkan secara tidak berkelanjutan, atau terdampak oleh aktivitas manusia.

Sebanyak 75 juta hingga 199 juta ton sampah plastik telah menumpuk di lautan, merusak setidaknya 267 spesies hewan, termasuk penyu dan mamalia laut.

Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa sekitar 59 persen wilayah laut mengalami peningkatan dampak aktivitas manusia, dan hanya sekitar 3 persen lautan di dunia yang kondisinya masih benar-benar utuh.

Secara global, baru 5,7 juta hektar ekosistem laut dan pesisir yang tercatat sedang dipulihkan. Angka ini baru memenuhi sekitar 23 persen dari target 25 juta hektar pemulihan yang ditetapkan dalam kerangka kerja keanekaragaman hayati.

Namun, laporan tersebut memberikan peringatan bahwa minimnya data membuat petugas sulit memastikan habitat laut dan pesisir mana saja yang sebenarnya sedang dipulihkan.

Restorasi belum tentu berarti alam sudah pulih

Laporan tersebut menegaskan, wilayah yang dicatat sebagai dalam proses restorasi adalah tempat di mana kegiatan pemulihan sudah didokumentasikan, bukan berarti ekosistemnya sudah benar-benar pulih sepenuhnya.

Laporan ini juga memperingatkan bahwa pelaporan data masih belum lengkap, terutama untuk ekosistem air tawar dan laut.

Akibatnya, ada kemungkinan beberapa kegiatan pemulihan di lapangan belum tercatat dalam angka-angka tersebut.

Perbedaan metode dan definisi pelaporan di tiap-tiap negara semakin menyulitkan upaya untuk menilai kemajuan pemulihan secara akurat.

"Angka-angka ini hanya mencerminkan apa yang dipantau dan dilaporkan," ungkap laporan tersebut. Mereka menambahkan bahwa kesenjangan antara janji komitmen dan pelaksanaannya terjadi akibat informasi yang belum lengkap serta kekurangan nyata di lapangan.

Baca juga: Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang

Di sisi lain, kerusakan ekosistem terus saja terjadi.

Menurut data PBB yang dikutip dalam laporan tersebut, lebih dari 1,56 miliar hektar lahan mewakili lebih dari 15 persen permukaan daratan bumi masih dalam kondisi rusak.

Sejak tahun 1970, sekitar 384 juta hektar ekosistem air tawar telah hilang, di mana lahan basah musnah tiga kali lebih cepat daripada hutan.

Sebuah survei pada tahun 2024 terhadap lebih dari 400 lahan basah di 80 negara menemukan bahwa 63 persen di antaranya berada dalam kondisi buruk atau cukup memprihatinkan.

Meskipun laju deforestasi tahunan melambat dari 17,6 juta hektar pada tahun 1990-an menjadi 10,9 juta hektar antara tahun 2015 dan 2025, kehilangan hutan hingga kini terus saja berlangsung.

"Kita tidak bisa berharap bisa memperbaiki alam dengan satu tangan, sementara tangan yang lain terus merusaknya," ujar Astrid Schomaker, sekretaris eksekutif Konvensi Keanekaragaman Hayati.

Ia mendesak pemerintah berbagai negara untuk mengatasi akar penyebab kerusakan alam serta berinvestasi pada sistem pemantauan agar upaya restorasi dapat membuahkan hasil yang permanen.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Aksi Pengurangan Penuh Metana Bisa Tekan Emisi, Namun Gagal Capai Target 2030
Aksi Pengurangan Penuh Metana Bisa Tekan Emisi, Namun Gagal Capai Target 2030
Pemerintah
Ekspor Indonesia Terancam CBAM dan EUDR, Sistem MRV Emisi Perlu Diperkuat
Ekspor Indonesia Terancam CBAM dan EUDR, Sistem MRV Emisi Perlu Diperkuat
LSM/Figur
Arak Monster Godzilla, Koalisi Orang Muda Serukan Keadilan Iklim Antargenerasi
Arak Monster Godzilla, Koalisi Orang Muda Serukan Keadilan Iklim Antargenerasi
LSM/Figur
Cegah Pembukaan Lahan dengan Dibakar, Koperasi Sawit di Kaltim Sewa Alat Berat
Cegah Pembukaan Lahan dengan Dibakar, Koperasi Sawit di Kaltim Sewa Alat Berat
LSM/Figur
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada
LSM/Figur
Restorasi Ekosistem Global Lambat, PBB Ungkap Baru Mencapai 25 Persen
Restorasi Ekosistem Global Lambat, PBB Ungkap Baru Mencapai 25 Persen
Pemerintah
Riset Ungkap Mahasiswa Alami Kecemasan Akibat Krisis Iklim
Riset Ungkap Mahasiswa Alami Kecemasan Akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Ditopang PLTS Atap Industri, Bauran EBT di Jawa Barat Capai 23,58 Persen
Ditopang PLTS Atap Industri, Bauran EBT di Jawa Barat Capai 23,58 Persen
Pemerintah
Lele Jadi Sumber Protein Terjangkau, Peternak Madura Kembangkan Metode Panen 45 Hari
Lele Jadi Sumber Protein Terjangkau, Peternak Madura Kembangkan Metode Panen 45 Hari
LSM/Figur
Alarm Kesehatan, Kasus Kanker Serviks Global Diprediksi Terus Meningkat
Alarm Kesehatan, Kasus Kanker Serviks Global Diprediksi Terus Meningkat
Pemerintah
Kelompok Disabilitas di Pedalaman Kalimantan Pakai Dana Karbon untuk Budi Daya Ikan
Kelompok Disabilitas di Pedalaman Kalimantan Pakai Dana Karbon untuk Budi Daya Ikan
LSM/Figur
Studi Ungkap Krisis Pendanaan Hijau UMKM Global Capai Rp18.136 Triliun
Studi Ungkap Krisis Pendanaan Hijau UMKM Global Capai Rp18.136 Triliun
Pemerintah
Perhitungan Global Ungkap Dampak Ekonomi Akibat Kenaikan Permukaan Laut
Perhitungan Global Ungkap Dampak Ekonomi Akibat Kenaikan Permukaan Laut
Pemerintah
Pabrik Coca-Cola di Bekasi Pasang PLTS Atap 1,45 MWp, Tekan Emisi 1500 ton CO2e
Pabrik Coca-Cola di Bekasi Pasang PLTS Atap 1,45 MWp, Tekan Emisi 1500 ton CO2e
Swasta
Krisis Timur Tengah Ancam Ketahanan Pangan 11,7 Juta Perempuan
Krisis Timur Tengah Ancam Ketahanan Pangan 11,7 Juta Perempuan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau