Laporan tersebut memperkirakan bahwa 63 persen lahan basah air tawar yang tersisa saat ini dalam kondisi rusak. Program Freshwater Challenge global sendiri menargetkan untuk memulihkan 350 juta hektar lahan basah dan 300.000 km aliran sungai.
Ekosistem air tawar menghadapi berbagai ancaman, mulai dari pencemaran, eksploitasi berlebihan, perusakan alur air alami, perusakan habitat, spesies invasif, hingga perubahan iklim.
Ancaman serupa juga dihadapi ekosistem laut dan pesisir. Laporan memperkirakan antara 60 hingga 66 persen ekosistem ini telah rusak, dimanfaatkan secara tidak berkelanjutan, atau terdampak oleh aktivitas manusia.
Sebanyak 75 juta hingga 199 juta ton sampah plastik telah menumpuk di lautan, merusak setidaknya 267 spesies hewan, termasuk penyu dan mamalia laut.
Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa sekitar 59 persen wilayah laut mengalami peningkatan dampak aktivitas manusia, dan hanya sekitar 3 persen lautan di dunia yang kondisinya masih benar-benar utuh.
Secara global, baru 5,7 juta hektar ekosistem laut dan pesisir yang tercatat sedang dipulihkan. Angka ini baru memenuhi sekitar 23 persen dari target 25 juta hektar pemulihan yang ditetapkan dalam kerangka kerja keanekaragaman hayati.
Namun, laporan tersebut memberikan peringatan bahwa minimnya data membuat petugas sulit memastikan habitat laut dan pesisir mana saja yang sebenarnya sedang dipulihkan.
Laporan tersebut menegaskan, wilayah yang dicatat sebagai dalam proses restorasi adalah tempat di mana kegiatan pemulihan sudah didokumentasikan, bukan berarti ekosistemnya sudah benar-benar pulih sepenuhnya.
Laporan ini juga memperingatkan bahwa pelaporan data masih belum lengkap, terutama untuk ekosistem air tawar dan laut.
Akibatnya, ada kemungkinan beberapa kegiatan pemulihan di lapangan belum tercatat dalam angka-angka tersebut.
Perbedaan metode dan definisi pelaporan di tiap-tiap negara semakin menyulitkan upaya untuk menilai kemajuan pemulihan secara akurat.
"Angka-angka ini hanya mencerminkan apa yang dipantau dan dilaporkan," ungkap laporan tersebut. Mereka menambahkan bahwa kesenjangan antara janji komitmen dan pelaksanaannya terjadi akibat informasi yang belum lengkap serta kekurangan nyata di lapangan.
Baca juga: Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
Di sisi lain, kerusakan ekosistem terus saja terjadi.
Menurut data PBB yang dikutip dalam laporan tersebut, lebih dari 1,56 miliar hektar lahan mewakili lebih dari 15 persen permukaan daratan bumi masih dalam kondisi rusak.
Sejak tahun 1970, sekitar 384 juta hektar ekosistem air tawar telah hilang, di mana lahan basah musnah tiga kali lebih cepat daripada hutan.
Sebuah survei pada tahun 2024 terhadap lebih dari 400 lahan basah di 80 negara menemukan bahwa 63 persen di antaranya berada dalam kondisi buruk atau cukup memprihatinkan.
Meskipun laju deforestasi tahunan melambat dari 17,6 juta hektar pada tahun 1990-an menjadi 10,9 juta hektar antara tahun 2015 dan 2025, kehilangan hutan hingga kini terus saja berlangsung.
"Kita tidak bisa berharap bisa memperbaiki alam dengan satu tangan, sementara tangan yang lain terus merusaknya," ujar Astrid Schomaker, sekretaris eksekutif Konvensi Keanekaragaman Hayati.
Ia mendesak pemerintah berbagai negara untuk mengatasi akar penyebab kerusakan alam serta berinvestasi pada sistem pemantauan agar upaya restorasi dapat membuahkan hasil yang permanen.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya