Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ancaman Perubahan Iklim, 96 Persen Terumbu Karang Terancam Punah pada 2075

Kompas.com, 26 Oktober 2026, 16:15 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hampir setiap ekosistem terumbu karang di bumi berisiko tinggi mengalami kepunahan pada tahun 2075. Hal ini terungkap dalam penilaian global International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Melansir Independent, Kamis (22/10/2026) penilaian tersebut menyebut bahwa sekitar 96 persen ekosistem terumbu karang di air dangkal saat ini sudah berada dalam status sangat terancam punah dan bisa lenyap pada 2075 dengan lautan yang semakin hangat dan gelombang panas sebagai penyebab utamanya.

Penilaian bertajuk Red List of Coral Reef Ecosystems ini merupakan yang pertama di jenisnya.

"Risiko runtuhnya terumbu karang terus meningkat, tetapi ini harus menjadi peringatan keras alih-alih membuat kita putus asa," ujar Mishal Gudka, pemimpin penilaian ini.

"Terumbu karang telah menunjukkan kemampuan luar biasa untuk pulih kembali dari peristiwa pemutihan yang parah. Kantong-kantong terumbu karang yang selamat dan tangguh masih bisa bertahan di masa depan, jadi kita harus melakukan segala upaya agar mereka bisa bertahan hidup," katanya lagi.

Baca juga: Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan

Studi ini mencakup 127 wilayah ekologi tropis dan subtropis, yang meliputi area terumbu karang seluas 188.362 kilometer persegi di seluruh dunia.

Studi itu menyebut perubahan iklim sebagai ancaman tunggal yang paling konsisten dan mendorong penurunan jumlah terumbu karang di seluruh dunia.

Beberapa sistem terumbu karang paling terkenal di dunia termasuk dalam daftar yang dikategorikan sangat terancam punah. Ini meliputi Great Barrier Reef di Australia, Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) di Samudra Pasifik Barat dan Asia Tenggara, Sistem Terumbu Karang Mesoamerika, serta terumbu karang Laut Merah.

Temuan ini menambah rentetan berita buruk bagi terumbu karang, yang merupakan sumber penting untuk makanan laut dan pariwisata, serta sering berfungsi sebagai pelindung dari abrasi pantai dan badai.

Indikator kesehatan lautan

Sering dijuluki sebagai "hutan hujan lautan", terumbu karang memiliki keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Ekosistem ini menopang seperempat dari seluruh spesies laut, serta kehidupan masyarakat dan bisnis di wilayah pesisir.

Ketika terumbu karang runtuh, karang keras akan mati dan digantikan oleh alga, pecahan karang, serta spons. Akibatnya, terumbu tersebut tidak lagi mampu mendukung ekosistem yang beragam seperti hewan tak bertulang belakang yang berukuran kecil hingga ikan karang seperti ikan kerapu.

"Terumbu karang adalah salah satu indikator paling jelas untuk melihat kesehatan lautan,” ujar Grethel Aguilar, Direktur Jenderal IUCN, dalam sebuah pernyataan.

“Kita tahu apa yang harus dilakukan: mengurangi emisi secara ambisius, memperkuat upaya perlindungan dan pemulihan, serta memberikan investasi berkelanjutan untuk menjaga ekosistem pesisir yang tangguh beserta masyarakat yang bergantung padanya,” paparnya.

Studi lain dari IUCN yang diterbitkan dalam jurnal Nature menemukan bahwa hampir 44 persen spesies karang pembentuk terumbu menghadapi risiko kepunahan yang semakin tinggi akibat perubahan iklim.

Setahun lalu, sebuah survei juga mendapati bahwa pemutihan karang yang merusak telah meluas hingga mencakup 84 persen terumbu karang di dunia, menjadikannya yang paling parah dalam sejarah pencatatan.

Baca juga: Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Eropa Masuki Era Pemasaran Hijau, Seperti Apa?
Eropa Masuki Era Pemasaran Hijau, Seperti Apa?
Pemerintah
Ancaman Perubahan Iklim, 96 Persen Terumbu Karang Terancam Punah pada 2075
Ancaman Perubahan Iklim, 96 Persen Terumbu Karang Terancam Punah pada 2075
Pemerintah
PBB: Dunia Harus Pangkas Emisi 18 Persen dalam Empat Tahun untuk Selamatkan Bumi
PBB: Dunia Harus Pangkas Emisi 18 Persen dalam Empat Tahun untuk Selamatkan Bumi
Pemerintah
Permintaan Green Skills Global Naik Dua Kali Lipat dari Ketersediaan Tenaga Kerja
Permintaan Green Skills Global Naik Dua Kali Lipat dari Ketersediaan Tenaga Kerja
Pemerintah
Perubahan Iklim Perparah Pencemaran Limbah Tambang Beracun di Wilayah Pesisir
Perubahan Iklim Perparah Pencemaran Limbah Tambang Beracun di Wilayah Pesisir
Pemerintah
Dorong Lapangan Kerja dan Teknologi, Bank Dunia Resmikan Strategi Digital Global
Dorong Lapangan Kerja dan Teknologi, Bank Dunia Resmikan Strategi Digital Global
Pemerintah
Singapura Gelontorkan 75 Juta Dollar Singapura untuk Dekarbonisasi Listrik
Singapura Gelontorkan 75 Juta Dollar Singapura untuk Dekarbonisasi Listrik
Pemerintah
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau