KOMPAS.com - Hampir setiap ekosistem terumbu karang di bumi berisiko tinggi mengalami kepunahan pada tahun 2075. Hal ini terungkap dalam penilaian global International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Melansir Independent, Kamis (22/10/2026) penilaian tersebut menyebut bahwa sekitar 96 persen ekosistem terumbu karang di air dangkal saat ini sudah berada dalam status sangat terancam punah dan bisa lenyap pada 2075 dengan lautan yang semakin hangat dan gelombang panas sebagai penyebab utamanya.
Penilaian bertajuk Red List of Coral Reef Ecosystems ini merupakan yang pertama di jenisnya.
"Risiko runtuhnya terumbu karang terus meningkat, tetapi ini harus menjadi peringatan keras alih-alih membuat kita putus asa," ujar Mishal Gudka, pemimpin penilaian ini.
"Terumbu karang telah menunjukkan kemampuan luar biasa untuk pulih kembali dari peristiwa pemutihan yang parah. Kantong-kantong terumbu karang yang selamat dan tangguh masih bisa bertahan di masa depan, jadi kita harus melakukan segala upaya agar mereka bisa bertahan hidup," katanya lagi.
Baca juga: Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
Studi ini mencakup 127 wilayah ekologi tropis dan subtropis, yang meliputi area terumbu karang seluas 188.362 kilometer persegi di seluruh dunia.
Studi itu menyebut perubahan iklim sebagai ancaman tunggal yang paling konsisten dan mendorong penurunan jumlah terumbu karang di seluruh dunia.
Beberapa sistem terumbu karang paling terkenal di dunia termasuk dalam daftar yang dikategorikan sangat terancam punah. Ini meliputi Great Barrier Reef di Australia, Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) di Samudra Pasifik Barat dan Asia Tenggara, Sistem Terumbu Karang Mesoamerika, serta terumbu karang Laut Merah.
Temuan ini menambah rentetan berita buruk bagi terumbu karang, yang merupakan sumber penting untuk makanan laut dan pariwisata, serta sering berfungsi sebagai pelindung dari abrasi pantai dan badai.
Sering dijuluki sebagai "hutan hujan lautan", terumbu karang memiliki keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Ekosistem ini menopang seperempat dari seluruh spesies laut, serta kehidupan masyarakat dan bisnis di wilayah pesisir.
Ketika terumbu karang runtuh, karang keras akan mati dan digantikan oleh alga, pecahan karang, serta spons. Akibatnya, terumbu tersebut tidak lagi mampu mendukung ekosistem yang beragam seperti hewan tak bertulang belakang yang berukuran kecil hingga ikan karang seperti ikan kerapu.
"Terumbu karang adalah salah satu indikator paling jelas untuk melihat kesehatan lautan,” ujar Grethel Aguilar, Direktur Jenderal IUCN, dalam sebuah pernyataan.
“Kita tahu apa yang harus dilakukan: mengurangi emisi secara ambisius, memperkuat upaya perlindungan dan pemulihan, serta memberikan investasi berkelanjutan untuk menjaga ekosistem pesisir yang tangguh beserta masyarakat yang bergantung padanya,” paparnya.
Studi lain dari IUCN yang diterbitkan dalam jurnal Nature menemukan bahwa hampir 44 persen spesies karang pembentuk terumbu menghadapi risiko kepunahan yang semakin tinggi akibat perubahan iklim.
Setahun lalu, sebuah survei juga mendapati bahwa pemutihan karang yang merusak telah meluas hingga mencakup 84 persen terumbu karang di dunia, menjadikannya yang paling parah dalam sejarah pencatatan.
Baca juga: Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya