KOMPAS.com - Riset terbaru menemukan bahwa emisi dari sektor pelayaran internasional menyebabkan kerugian ekonomi global yang diperkirakan mencapai 963 miliar dolar AS (sekitar Rp17,38 kuadriliun) sepanjang tahun 1990 hingga 2020.
Melansir Edie, Jumat (6/11/2026) temuan ini berasal dari analisis Zero Carbon Analytics (ZCA), yang menghitung kerusakan ekonomi dengan menggabungkan data emisi pelayaran internasional milik Organisasi Maritim Internasional (IMO) dengan kalkulator dampak iklim yang dikembangkan oleh para peneliti dari Stanford University.
Analisis ini mengukur akumulasi emisi pelayaran sebesar 19.029 juta ton CO2 antara tahun 1990 dan 2020. Peneliti menerapkan model simulasi yang menghubungkan emisi CO2 dengan kenaikan suhu global, serta mengukur dampak kenaikan suhu tersebut terhadap pertumbuhan PDB (GDP).
Dengan menggunakan tingkat diskonto 2 persen, model ini memperkirakan total kerusakan ekonomi global mencapai 962,7 miliar dolar AS (Rp17,37 kuadriliun).
Untuk membagikan nilai kerugian ini antarnegara, ZCA menggunakan estimasi tingkat negara dari peta kerugian milik model tersebut, menghitung porsi tiap negara, lalu menerapkannya pada total dampak emisi pelayaran.
Baca juga: Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Berdasarkan analisis tersebut, Amerika Serikat mengalami dampak ekonomi terbesar yang diperkirakan mencapai 280,7 miliar dolar AS (sekitar Rp5,07 kuadriliun), disusul oleh China sebesar 113,5 miliar dolar AS (sekitar Rp2,05 kuadriliun) dan Jepang sebesar 66,8 miliar dolar AS (sekitar Rp1,21 kuadriliun).
Meski demikian, jika diukur berbanding lurus dengan total output ekonomi nasional, dampaknya terasa jauh lebih berat bagi beberapa negara berpendapatan rendah dan perekonomian di Timur Tengah.
Analisis ini memperkirakan bahwa kerugian iklim akibat emisi pelayaran memangkas produk domestik bruto (PDB) Uni Emirat Arab pada tahun 2020 sebesar 0,35 persen, Arab Saudi sebesar 0,34 persen, Mali sebesar 0,32 persen, dan Burkina Faso sebesar 0,30 persen.
Pelayaran internasional menyumbang sekitar 2 persen dari total emisi karbon dioksida global. Pada tahun 2018, karbon dioksida mewakili sedikit lebih dari 98 persen dari total emisi sektor pelayaran, yang mencakup aktivitas penerbangan/pelayaran internasional, domestik, hingga penangkapan ikan.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) telah menetapkan target pengurangan emisi pada tahun 2023, yang mewajibkan sektor ini untuk memangkas emisi gas rumah kaca (GRK) tahunan setidaknya 20 persen pada tahun 2030 dan minimal 70 persen pada tahun 2040 dibandingkan level tahun 2008.
Target tersebut juga mengarah pada pencapaian emisi nol bersih pada atau sekitar tahun 2050.
Kerangka Kerja Emisi Nol Bersih yang diusulkan telah disetujui pada April 2025, tetapi belum disahkan secara resmi.
Aturan ini akan menjadi mekanisme global pertama yang mengikat secara hukum bagi seluruh industri pelayaran, yang menggabungkan batasan emisi dengan penetapan harga gas rumah kaca.
Namun, pengesahannya tertunda akibat perdebatan mengenai besarnya biaya penerapan serta ketegangan politik.
Perdebatan finansial ini berfokus pada biaya penyediaan dan pelaksanaan kerangka kerja tersebut.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya