KOMPAS.com - Buku Panduan Michelin resmi menghapus penghargaan ramah lingkungan mereka. Penghargaan ini pertama kali diluncurkan pada tahun 2020 untuk memberikan apresiasi kepada restoran-restoran yang menerapkan praktik peduli lingkungan.
Melansir Edie, Selasa (26/5/2026) pihak panduan kuliner mewah dan perjalanan ini secara diam-diam memastikan keputusan mereka untuk menghentikan penghargaan yang disebut Green Star. Pengumuman ini disampaikan bersamaan dengan peluncuran program baru mereka yang bernama 'Mindful Voices' pada tanggal 18 Mei lalu.
Setiap tahun sejak pertama kali diluncurkan pada 2020, penghargaan Green Star telah diberikan kepada berbagai restoran di seluruh dunia yang masuk dalam Buku Panduan Michelin. Penghargaan ini terpisah dari sistem penilaian bintang restoran yang biasa.
Menurut Buku Panduan Michelin, Green Star diberikan kepada restoran-restoran yang dinilai paling hebat dalam menjalankan praktik ramah lingkungan.
Baca juga: Bakoel Bamboe Nusantara Hadir di IKN, Tawarkan Kuliner Ramah Lingkungan
Penilaian ini melihat beberapa hal, seperti dampak restoran terhadap lingkungan, cara mengelola sampah, asal-usul bahan makanan yang digunakan, serta cara tim restoran mengedukasi para tamu mengenai gerakan peduli lingkungan yang mereka lakukan.
Restoran yang berhasil memenangkan penghargaan ini diperbolehkan memajang logo Green Star sebagai penanda ramah lingkungan dan alat iklan di media sosial atau situs web mereka. Selain itu, mereka juga mendapatkan papan penghargaan fisik berwarna hijau untuk dipajang di restoran.
Sebanyak tujuh restoran baru di Inggris dan Irlandia baru saja menerima penghargaan Green Star ini pada bulan Februari lalu, sehingga membuat total restoran ramah lingkungan di wilayah tersebut menjadi 37 restoran.
Namun, mulai akhir tahun ini, restoran-restoran tersebut tidak boleh lagi memasang iklan yang menyatakan bahwa mereka adalah pemegang penghargaan Green Star.
"Dihapusnya penghargaan Green Star oleh Michelin tidak boleh dijadikan alasan bagi para pelaku bisnis untuk mengendurkan semangat mereka dalam menjaga lingkungan. Sebaliknya, hal ini justru membuktikan hal yang berlawanan. Gerakan ramah lingkungan tidak boleh bergantung pada ada atau tidaknya sebuah lencana penghargaan di mata publik," komentar Mark Sait, CEO dari SaveMoneyCutCarbon.
Sebagai gantinya, Michelin meluncurkan program baru bernama Mindful Voices. Program ini akan menyoroti orang-orang yang membuat inovasi dan memulai gerakan yang menginspirasi di dunia kuliner, perhotelan, dan wine.
Berbeda dengan penghargaan Green Star, program Mindful Voices ini tampaknya tidak berhubungan langsung dengan masalah ramah lingkungan saja. Tulisan mendalam mengenai profil orang-orang ini nantinya bisa dibaca di buku cetak, serta di situs web dan aplikasi resmi Buku Panduan Michelin.
Baca juga: Gaya Hidup Ramah Lingkungan Masih Mahal
"Buku Panduan Michelin ingin menegaskan kembali mengenai komitmen kami terhadap dunia kuliner yang lebih bertanggung jawab. Tujuan dari Buku Panduan ini kini sedang berkembang menuju arah yang lebih luas dan menyeluruh, yang sekarang mencakup tiga pilar keunggulan yakni makanan (gastronomy), perhotelan (hospitality), dan minuman anggur (wine)," tulis Michelin.
"Jika sebelumnya Michelin Green Star terutama memberikan penghargaan untuk praktik-praktik di dalam sektor restoran, Mindful Voices memberikan perhatian kepada para individu seperti koki, pengelola hotel, dan tokoh-tokoh dari dunia minuman anggur yang komitmen, perjalanan hidup, dan gerakannya mencerminkan perubahan tersebut," tulis Michelin lagi.
Pendekatan ini mencerminkan dengan lebih tepat bagaimana tantangan ramah lingkungan saling berkaitan di berbagai bidang, yaitu dengan memberikan ruang yang lebih besar bagi orang-orang yang menggerakkan perubahan.
Buku Panduan ini akan terus secara aktif mencari dan mempromosikan mereka yang membentuk praktik yang lebih bertanggung jawab, serta tetap mendengarkan masukan dari dunia industri.
Program Mindful Voices akan resmi diluncurkan pada tanggal 1 Juni di acara Penghargaan Buku Panduan Michelin Negara-Negara Nordik di Kopenhagen, Denmark.
Program ini akan dimulai terlebih dahulu di wilayah Eropa, sebelum akhirnya diperluas ke seluruh dunia sepanjang sisa tahun ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya