Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pasar Utang Berkelanjutan Global Tembus Rp 124 Kuadriliun

Kompas.com, 28 Mei 2026, 11:22 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Data terbaru dari Climate Bonds Initiative (CBI) mencatat surat utang ramah lingkungan (green and sustainability-linked bonds) terus menunjukkan pertumbuhan yang sangat cepat.

Melansir Edie, Selasa (26/5/2026) total nilai pasar utang berkelanjutan di dunia sempat menyentuh angka 1 triliun Dolar AS (sekitar Rp17.789 triliun) pada tahun 2019, yaitu sekitar 13 tahun setelah surat utang ramah lingkungan pertama kali diterbitkan.

Sejak saat itu, CBI memperkirakan ada sekitar 6 triliun Dolar AS (sekitar Rp106.734 triliun) lagi yang masuk ke dalam pasar atau kira-kira bertambah sekitar 1 triliun Dolar AS setiap tahunnya.

"7 triliun Dolar AS atau sekitar Rp124.523 triliun adalah sebuah pencapaian yang sangat besar. Nilai ini lebih besar daripada ekonomi sebagian besar negara di dunia, dan pasarnya masih terus berkembang," ungkap Sean Kidney, CEO dari CBI.

Baca juga: Keterlibatan Investor Asia dalam Kebijakan Iklim Melonjak 3 Kali Lipat

"Tentu saja, kita harus memindahkan lebih banyak modal lagi, yaitu sekitar 10 triliun Dolar As (sekitar Rp177.890 triliun) setiap tahunnya. Namun, hal ini membuktikan bahwa para investor mau dan akan menginvestasikan uang mereka untuk solusi mengatasi perubahan iklim," tambahnya.

Basis data milik CBI ini mencatat semua surat utang ramah lingkungan, sosial, dan berkelanjutan (GSS+) yang diterbitkan yang sesuai dengan metode penilaian mereka.

Jadi bagian penting dalam pasar modal dunia

Menurut CBI, pertumbuhan cepat utang berkelanjutan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa bidang ini telah berubah dari yang tadinya hanya pasar kecil menjadi bagian yang semakin penting dalam pasar modal dunia.

Selama tiga tahun berturut-turut, penerbitan surat utang yang lolos seleksi selalu melebihi 1 triliun Dolar AS (sekitar Rp17.789 triliun) per tahun, dan ada 400 penerbit surat utang baru yang ikut masuk ke pasar utang berkelanjutan ini pada tahun 2025.

Berdasarkan data paling baru, surat utang hijau masih tetap menguasai pasar, dengan total nilai penerbitan yang sekarang sudah melewati 4 triliun Dolar AS (sekitar Rp71.156 triliun).

Selain itu, surat utang sosial dan surat utang berkelanjutan lainnya juga terus menunjukkan pertumbuhan yang sangat hebat.

Baca juga: Morgan Stanley: Mayoritas Investor Individu Ingin Tingkatkan Investasi Berkelanjutan

Meskipun surat utang terkait keberlanjutan (sustainability-linked bonds) jumlahnya lebih kecil di pasar, lembaga CBI menegaskan bahwa perannya tetap sangat penting.

Berbeda dengan surat utang biasa, uang dari jenis surat utang ini tidak harus dipakai untuk satu proyek lingkungan tertentu, melainkan boleh digunakan secara bebas oleh si peminjam modal, asalkan performa atau hasil kerja perusahaan mereka secara keseluruhan terbukti semakin ramah lingkungan.

Data menunjukkan bahwa benua Eropa masih menjadi pemimpin dalam penerbitan surat utang ramah lingkungan (GSS+). Tahun lalu, Eropa menyumbang sebesar 45 persen dari total seluruh volume utang hijau yang lolos seleksi di dunia.

"Tugas kita sekarang di belahan dunia lainnya adalah membuat kesepakatan investasi yang tepat. Artinya, kita butuh data yang jujur dan tepercaya, aturan standar yang kuat, serta jalur yang jelas untuk mendanai proses perubahan ini. Ini adalah rencana kerja yang besar, tetapi sangat penting, dan ini adalah langkah yang bisa mewariskan ekonomi serta masyarakat yang lebih kuat dan lebih peduli lingkungan kepada anak-cucu kita nanti," kata Kidney.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kiriman Sampah dari Hulu Bikin Rehabilitasi Mangrove Jakarta Terus Mengulang dari Nol
Kiriman Sampah dari Hulu Bikin Rehabilitasi Mangrove Jakarta Terus Mengulang dari Nol
LSM/Figur
AYANA: Isu Krisis Iklim Perlu Disampaikan Lewat Budaya dan Ajaran Agama
AYANA: Isu Krisis Iklim Perlu Disampaikan Lewat Budaya dan Ajaran Agama
LSM/Figur
Tak Lagi Bebas Polusi, Plastik Ditemukan di Lapisan Tanah Murni Antartika
Tak Lagi Bebas Polusi, Plastik Ditemukan di Lapisan Tanah Murni Antartika
Pemerintah
Ekonomi Lesu, Rekrutmen Karyawan Keberlanjutan Ternyata Tetap Stabil
Ekonomi Lesu, Rekrutmen Karyawan Keberlanjutan Ternyata Tetap Stabil
Pemerintah
Tanoto Foundation: 'Employability' Mahasiswa Harus Diasah sejak Menempuh Pendidikan Tinggi
Tanoto Foundation: "Employability" Mahasiswa Harus Diasah sejak Menempuh Pendidikan Tinggi
LSM/Figur
Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Strategi Unilever Bangun Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Pasar
Strategi Unilever Bangun Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Pasar
Swasta
FEM IPB Dorong Solusi Berbasis Alam dan ESG untuk Perkuat Ketahanan Iklim
FEM IPB Dorong Solusi Berbasis Alam dan ESG untuk Perkuat Ketahanan Iklim
Pemerintah
Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental
Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental
LSM/Figur
RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove
RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove
LSM/Figur
Pertama Kali, Tesla Tetapkan Target Bebas Emisi pada 2040
Pertama Kali, Tesla Tetapkan Target Bebas Emisi pada 2040
Swasta
Ketika Menjaga Hutan Mampu Membuka Jalan Petani ke Pasar Global...
Ketika Menjaga Hutan Mampu Membuka Jalan Petani ke Pasar Global...
Swasta
Di Balik Pemulihan Pascabencana Sumatera, Ada Upaya Pertamina Membangun Ketangguhan Masyarakat
Di Balik Pemulihan Pascabencana Sumatera, Ada Upaya Pertamina Membangun Ketangguhan Masyarakat
BrandzView
Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah
Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah
LSM/Figur
Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau