KOMPAS.com - Data terbaru dari Climate Bonds Initiative (CBI) mencatat surat utang ramah lingkungan (green and sustainability-linked bonds) terus menunjukkan pertumbuhan yang sangat cepat.
Melansir Edie, Selasa (26/5/2026) total nilai pasar utang berkelanjutan di dunia sempat menyentuh angka 1 triliun Dolar AS (sekitar Rp17.789 triliun) pada tahun 2019, yaitu sekitar 13 tahun setelah surat utang ramah lingkungan pertama kali diterbitkan.
Sejak saat itu, CBI memperkirakan ada sekitar 6 triliun Dolar AS (sekitar Rp106.734 triliun) lagi yang masuk ke dalam pasar atau kira-kira bertambah sekitar 1 triliun Dolar AS setiap tahunnya.
"7 triliun Dolar AS atau sekitar Rp124.523 triliun adalah sebuah pencapaian yang sangat besar. Nilai ini lebih besar daripada ekonomi sebagian besar negara di dunia, dan pasarnya masih terus berkembang," ungkap Sean Kidney, CEO dari CBI.
Baca juga: Keterlibatan Investor Asia dalam Kebijakan Iklim Melonjak 3 Kali Lipat
"Tentu saja, kita harus memindahkan lebih banyak modal lagi, yaitu sekitar 10 triliun Dolar As (sekitar Rp177.890 triliun) setiap tahunnya. Namun, hal ini membuktikan bahwa para investor mau dan akan menginvestasikan uang mereka untuk solusi mengatasi perubahan iklim," tambahnya.
Basis data milik CBI ini mencatat semua surat utang ramah lingkungan, sosial, dan berkelanjutan (GSS+) yang diterbitkan yang sesuai dengan metode penilaian mereka.
Menurut CBI, pertumbuhan cepat utang berkelanjutan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa bidang ini telah berubah dari yang tadinya hanya pasar kecil menjadi bagian yang semakin penting dalam pasar modal dunia.
Selama tiga tahun berturut-turut, penerbitan surat utang yang lolos seleksi selalu melebihi 1 triliun Dolar AS (sekitar Rp17.789 triliun) per tahun, dan ada 400 penerbit surat utang baru yang ikut masuk ke pasar utang berkelanjutan ini pada tahun 2025.
Berdasarkan data paling baru, surat utang hijau masih tetap menguasai pasar, dengan total nilai penerbitan yang sekarang sudah melewati 4 triliun Dolar AS (sekitar Rp71.156 triliun).
Selain itu, surat utang sosial dan surat utang berkelanjutan lainnya juga terus menunjukkan pertumbuhan yang sangat hebat.
Baca juga: Morgan Stanley: Mayoritas Investor Individu Ingin Tingkatkan Investasi Berkelanjutan
Meskipun surat utang terkait keberlanjutan (sustainability-linked bonds) jumlahnya lebih kecil di pasar, lembaga CBI menegaskan bahwa perannya tetap sangat penting.
Berbeda dengan surat utang biasa, uang dari jenis surat utang ini tidak harus dipakai untuk satu proyek lingkungan tertentu, melainkan boleh digunakan secara bebas oleh si peminjam modal, asalkan performa atau hasil kerja perusahaan mereka secara keseluruhan terbukti semakin ramah lingkungan.
Data menunjukkan bahwa benua Eropa masih menjadi pemimpin dalam penerbitan surat utang ramah lingkungan (GSS+). Tahun lalu, Eropa menyumbang sebesar 45 persen dari total seluruh volume utang hijau yang lolos seleksi di dunia.
"Tugas kita sekarang di belahan dunia lainnya adalah membuat kesepakatan investasi yang tepat. Artinya, kita butuh data yang jujur dan tepercaya, aturan standar yang kuat, serta jalur yang jelas untuk mendanai proses perubahan ini. Ini adalah rencana kerja yang besar, tetapi sangat penting, dan ini adalah langkah yang bisa mewariskan ekonomi serta masyarakat yang lebih kuat dan lebih peduli lingkungan kepada anak-cucu kita nanti," kata Kidney.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya