Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 8 Maret 2023, 17:41 WIB
Sri Noviyanti

Penulis


KOMPAS.com – Indonesia darurat sampah makanan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2020 mendapati bahwa sampah makanan telah mencapai 40 persen dari total sampah yang dihasilkan masyarakat di 199 kabupaten/kota di Indonesia.

Hal tersebut mengkhawatirkan. Sebab, tumpukan sampah makanan bisa mendatangkan sejumlah kerugian, mulai dari gas metana yang dapat memengaruhi pemanasan global, hingga merusak ekosistem.

Banyak cara untuk mengurangi sisa makanan. Selain membiasakan diri untuk tidak mengambil atau membuat maknaan secara berlebihan, sisa makanan yang kadung terjadi bisa dibuat pupuk kompos. Caranya, dengan memanfaatkan lubang resapan biopori.

Sebagai informasi, lubang resapan biopori atau biasa disebut biopori adalah lubang yang dibuat tegak lurus ke dalam tanah. Lubang ini dibuat untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya serap air pada tanah.

Nah, manfaat biopori lainnya adalah untuk menyuburkan tanah dan membuat pupuk kompos alami.

Caranya cukup mudah. Anda hanya perlu memasukkan sisa makanan yang termasuk sampah organik, seperti sampah buah, sayur, dan tulang, ke dalam lubangnya.
Buat biopori di rumah

Jika ada lahan ekstra di tempat terbuka, misalnya di halaman, Anda bisa membuat lubang biopori dengan mudah.

Sisa makanan dapat diletakkan di dalam lubang biopori untuk dijadikan pupuk kompos.SHUTTERSTOC/RANI RESTU IRIANTI Sisa makanan dapat diletakkan di dalam lubang biopori untuk dijadikan pupuk kompos.

Seperti dilansir dari https://sda.pu.go.id/, pembuatan biopori memerlukan alat dan bahan berikut, yakni bor tanah, pipa PVC dan penutup yang sudah dilubangi di bagian sisi-sisinya, sampah organik, dan air.

Sebelum mulai membuat biopori, tentukan lokasi yang akan dijadikan tempat pembuatan. Setelah itu, siram tanah yang akan dijadikan sebagai tempat pembuatan biopori dengan air agar tanah menjadi lunak dan mudah untuk dilubangi.

Langkah berikutnya, lubangi tanah dengan menggunakan bor tanah. Pada langkah ini, usahakan buat yang tegak lurus.

Kemudian, buat lubang dengan kedalaman kurang lebih 1 meter dengan diameter 10-30 sentimeter (cm).

Setelah itu, lapisi lubang menggunakan pipa PVC yang ukurannya sama dengan diameter lubang.

Kemudian, isi lubang dengan sampah organik seperti daun, rumput, kulit buah-buahan, dan sampah yang berasal dari tanaman lainnya. Pada langkah ini, Anda juga bisa memasukkan sisa makanan.

Setelah itu tutup lubang menggunakan kawat besi, atau bisa juga memakai tutup pipa PVC yang sudah dilubang.

Dalam waktu tiga sampai empat minggu, sampah organik yang dimasukkan ke dalam biopori bisa diambil dan dipergunakan sebagai pupuk kompos.

Nah, saat ada sisa makanan, Anda bisa mengulang langkah tersebut. Dengan begitu, sisa makanan jadi tak terbuang percuma.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau