Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Formula 1 Ubah Jadwal Grand Prix Kanada untuk Kurangi Emisi

Kompas.com, 24 November 2024, 16:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Formula 1 telah mengubah jadwal Grand Prix Kanada dalam kalendernya mulai tahun 2026 untuk mengurangi emisi logistik demi mencapai sasaran nol emisi pada tahun 2030.

Sebagai gambaran, setidaknya 20 mobil dan lebih dari 1.500 anggota tim, serta berton-ton peralatan perlu dibawa melintasi Atlantik hanya untuk satu akhir pekan perhelatan di Kanada.

Dengan komitmen perubahan jadwal tersebut, mulai tahun 2026, Grand Prix Kanada akan berlangsung pada akhir pekan ketiga atau keempat bulan Mei setiap tahun.

Dikutip dari Sustainability Magazine, Sabtu (23/11/2024) meski ini mungkin tak terdengar seperti perubahan besar, namun dengan pergantian jadwal tersebut memungkinkan tim balap di Montreal, Kanada akan langsung mengikuti Grand Prix Miami sebelum berkemas dan tinggal di Eropa untuk delapan acara berikutnya. Hal tersebut pun mampu mencegah penerbangan jarak jauh.

Baca juga:

“Saya sangat berterima kasih kepada promotor dan semua mitra pemangku kepentingan pemerintah yang terlibat dalam Grand Prix Kanada, dari pemerintah daerah, provinsi, dan nasional," kata Stefano Domenicali, Presiden & CEO Formula 1.

“Perubahan ini akan membuat alur kalender kami di masa mendatang tidak hanya lebih berkelanjutan, tetapi juga lebih masuk akal secara logistik bagi tim dan personel kami," tambahnya.

Formula 1 sendiri menargetkan untuk mencapai nol emisi pada tahun 2030 dan telah mengubah kalender balapan untuk mengurangi jumlah perjalanan.

"Nol emisi pada tahun 2030 terus menjadi prioritas bagi kami dan berkat perubahan ini kami berada di jalur yang tepat untuk mencapai tujuan itu," tutur Domenicali.

Selain Kanada, Formula 1 pun turut memindahkan Grand Prix Jepang agar selaras dengan jadwal balapan lain di kawasan Asia Pasifik, Azerbaijan agar lebih dekat dengan balapan Singapura, dan Qatar agar selaras dengan Abu Dhabi di akhir musim.

Persiapan Perubahan Jadwal

Menggelar ajang balapan yang dihadiri 350.000 orang bukanlah tugas kecil dan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, lintasan, badan pengelola, F1, dan tim.

Di sisi lain, Kanada mengalami musim dingin yang panjang dan dingin.

Suhu dingin, salju, dan es dapat menghentikan persiapan balapan seperti pelapisan ulang lintasan, pemasangan pembatas keselamatan, dan pembangunan struktur seperti bangunan pit dan area paddock.

Lintasan balap harus memenuhi pedoman ketat FIA agar dianggap aman, jadi perangkap kerikil, garis yang dicat, dan pagar harus dijaga agar tetap teratur.

Baca juga:

Octane Racing Group, promotor Grand Prix Kanada, telah bekerja sama dengan sejumlah organisasi lokal untuk memastikan lintasan siap tepat waktu untuk tanggal balapan barunya mulai tahun 2026.

“Perubahan jadwal ini merupakan langkah besar dalam komitmen kami, serta Formula 1, menuju masa depan yang lebih berkelanjutan," ungkap Jean-Philippe Paradis, CEO Octane Racing Group.

“Hal ini menunjukkan keinginan kami untuk menggabungkan kinerja olahraga dan penyelenggaraan acara dengan tanggung jawab lingkungan," paparnya.

Menata ulang kalender balapan hanyalah salah satu cara Formula 1 berupaya mengurangi emisinya sejalan dengan upaya mencapai nol emisi pada tahun 2030.

Olahraga ini mengurangi jejak karbonnya sebesar 13 persen pada tahun 2022 dibandingkan dengan tahun 2018, tetapi masih ada jalan panjang yang harus ditempuh.

Beberapa upaya lainnya termasuk mengembangkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF), menggunakan energi terbarukan di lokasi promotor, dan bahkan berupaya menggunakan metode logistik yang berbeda seperti angkutan laut dan sumber lokal.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasa Empati dan Marah Ternyata Tak Mampu Tingkatkan Donasi untuk Iklim
Rasa Empati dan Marah Ternyata Tak Mampu Tingkatkan Donasi untuk Iklim
Pemerintah
Lautan Dunia Serap Rekor Panas, Setara 40 Kali Penggunaan Energi Global Tahunan
Lautan Dunia Serap Rekor Panas, Setara 40 Kali Penggunaan Energi Global Tahunan
Pemerintah
Kapan Gletser Dunia Lenyap? Situs Baru Ini Petakan Perkiraannya
Kapan Gletser Dunia Lenyap? Situs Baru Ini Petakan Perkiraannya
Pemerintah
RUU Ketenagakerjaan Perluas Sanksi Pidana, Pengawasan Masih Jadi Tantangan
RUU Ketenagakerjaan Perluas Sanksi Pidana, Pengawasan Masih Jadi Tantangan
LSM/Figur
Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi
Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi
Pemerintah
Paradoks Investasi Lahan di Balik Frasa 'Habis Kebakaran, Terbitlah Sawit'
Paradoks Investasi Lahan di Balik Frasa "Habis Kebakaran, Terbitlah Sawit"
LSM/Figur
Kisah Warga Desa Bogor Rawat Lingkungan Raih Penghargaan Asia
Kisah Warga Desa Bogor Rawat Lingkungan Raih Penghargaan Asia
Swasta
Bappenas: Susut dan Sisa Pangan Bukan Sekadar Masalah Sampah
Bappenas: Susut dan Sisa Pangan Bukan Sekadar Masalah Sampah
Pemerintah
BRWA Soroti Potensi Tumpang Tindih Areal Preservasi dengan Wilayah Adat
BRWA Soroti Potensi Tumpang Tindih Areal Preservasi dengan Wilayah Adat
LSM/Figur
Dunia Mulai Beradaptasi dengan Panas Ekstrem, Namun Masih Sangat Lambat
Dunia Mulai Beradaptasi dengan Panas Ekstrem, Namun Masih Sangat Lambat
Pemerintah
Burung Migrasi Dalam Bahaya, 1 dari 9 Spesies Terancam Punah
Burung Migrasi Dalam Bahaya, 1 dari 9 Spesies Terancam Punah
Pemerintah
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
BUMN
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Swasta
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau