Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

KG Media Kolaborasi dengan Unilever, Bikin Edukasi Lingkungan Lebih Atraktif

Kompas.com, 8 Juli 2025, 15:05 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemanfaatan teknologi digital sehingga bisa memperluas jangkauan pendidikan lingkungan menjadi motivasi Unilever Indonesia bekerja sama dengan KG Media dalam mengembangkan Akademi Sekolah Lestari (ASRI).

Program ini menyasar siswa dan guru untuk membangun kesadaran sejak dini tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

Hal itu disampaikan oleh Maya Tamimi, Head of Sustainability Environment PT Unilever Indonesia, dalam acara Kick-Off Program Akademi Sekolah Lestari (ASRI) bertajuk Bersemi Generasi Lestari, Senin (7/7/2025).

Maya menjelaskan, selain dukungan dari sisi pendanaan, Unilever juga terlibat dalam pengembangan modul pembelajaran dengan membagikan pengetahuan yang mereka miliki. Salah satunya terkait isu sampah plastik, yang menurut Maya merupakan salah satu masalah lingkungan paling mendesak saat ini.

Karena sebagian besar produk Unilever menggunakan plastik, maka diperlukan inovasi untuk mengelola dan mengurangi penggunaannya. Maya menyebut bahwa pihaknya telah mengembangkan panduan mengenai material pengganti plastik yang tetap nyaman digunakan namun lebih ramah lingkungan.

Baca juga: KG Media dan Unilever Dorong Dunia Pendidikan Hadapi Masa Depan secara Berkelanjutan

“Ilmu pengetahuan seperti ini kami masukkan ke dalam modul, agar bisa tersampaikan kepada anak-anak dan guru-guru tentang bagaimana cara menanggulangi satu masalah lingkungan ini, sampah plastik,” ujar Maya.

Ia menambahkan bahwa target keberlanjutan Unilever berfokus pada empat pilar utama: iklim, alam, plastik, dan mata pencaharian. Menurutnya, beberapa hal bisa dikendalikan langsung, misalnya melalui operasional pabrik. Namun, bagaimana produk digunakan dan dibuang oleh masyarakat tidak bisa sepenuhnya dikontrol sendiri.

“Karena itu, kami percaya bahwa perubahan harus dilakukan secara kolektif. Kami perlu melibatkan masyarakat, terutama generasi muda, untuk ikut aktif mengelola sampah mereka sendiri,” lanjutnya.

Di sinilah menurut Maya, peran program ASRI menjadi sangat penting. Edukasi di tingkat sekolah membuka ruang untuk membentuk kesadaran dan perilaku berkelanjutan sejak dini, yang secara tidak langsung juga mendukung target keberlanjutan perusahaan.

Lebih jauh, Maya mengatakan bahwa keterlibatan anak muda dalam program ASRI ini dapat mendorong lahirnya kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan.

Ia menyebut bahwa modul pembelajaran dalam program ini dirancang secara visual dan interaktif, termasuk praktik serta tantangan yang harus diikuti oleh peserta.

“Menurut kami, ini sangat efektif untuk membangun kebiasaan baru yang lebih peduli lingkungan,” ujar Maya.

Ia juga menyinggung pengalaman Unilever dalam mengembangkan program lain yang fokus pada pembiasaan perilaku positif anak muda, seperti kampanye sikat gigi, cuci tangan, dan buang sampah pada tempatnya.

Hasilnya menunjukkan adanya perubahan perilaku, terutama untuk kebiasaan menyikat gigi dan cuci tangan, meskipun tantangan masih terasa dalam aspek pengelolaan sampah.

“Kalau di sekolah masih oke, karena banyak temannya. Tapi masalahnya muncul ketika mereka pulang ke rumah. Begitu sampai rumah, mereka nggak lagi buang sampah pada tempatnya,” jelas Maya.

Ia menyoroti bahwa salah satu penyebabnya adalah anak-anak jarang dilibatkan dalam pengelolaan sampah di rumah. Menurut Maya, masih banyak orang tua, khususnya ibu yang meminta anak cukup meletakkan sampah di dapur, sementara sisanya dibereskan sendiri oleh orang tua.

Baca juga: 4 Langkah Berkelanjutan Unilever, Tekan Konsumsi Plastik hingga Ambisi Capai NZE

Karena itu, ia menekankan pentingnya mengedukasi orang tua agar perubahan perilaku anak juga didukung oleh lingkungan keluarga.

Selain itu, Maya mengakui tantangan lain yang tak kalah besar adalah menarik minat anak muda untuk belajar tentang isu lingkungan. Banyak dari mereka yang belum menganggap isu ini menarik untuk dipelajari.

“Tantangan lainnya adalah bagaimana mendapatkan atensi mereka untuk mempelajari tentang isu lingkungan ini,” ujarnya.

Untuk itu, Maya bersama KG Media terus mengembangkan metode pembelajaran yang atraktif, termasuk melalui acara langsung seperti roadshow yang dirancang agar sesuai dengan gaya dan minat anak muda.

“Hal ini diharapkan dapat menarik atensi mereka. Menjadi sesuatu yang mereka anggap keren untuk dibicarakan, sehingga mereka mau untuk belajar bersama untuk menjaga lingkungan secara berkelanjutan,” pungkas Maya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau