JAKARTA, KOMPAS.com — Pemanfaatan teknologi digital sehingga bisa memperluas jangkauan pendidikan lingkungan menjadi motivasi Unilever Indonesia bekerja sama dengan KG Media dalam mengembangkan Akademi Sekolah Lestari (ASRI).
Program ini menyasar siswa dan guru untuk membangun kesadaran sejak dini tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Hal itu disampaikan oleh Maya Tamimi, Head of Sustainability Environment PT Unilever Indonesia, dalam acara Kick-Off Program Akademi Sekolah Lestari (ASRI) bertajuk Bersemi Generasi Lestari, Senin (7/7/2025).
Maya menjelaskan, selain dukungan dari sisi pendanaan, Unilever juga terlibat dalam pengembangan modul pembelajaran dengan membagikan pengetahuan yang mereka miliki. Salah satunya terkait isu sampah plastik, yang menurut Maya merupakan salah satu masalah lingkungan paling mendesak saat ini.
Karena sebagian besar produk Unilever menggunakan plastik, maka diperlukan inovasi untuk mengelola dan mengurangi penggunaannya. Maya menyebut bahwa pihaknya telah mengembangkan panduan mengenai material pengganti plastik yang tetap nyaman digunakan namun lebih ramah lingkungan.
Baca juga: KG Media dan Unilever Dorong Dunia Pendidikan Hadapi Masa Depan secara Berkelanjutan
“Ilmu pengetahuan seperti ini kami masukkan ke dalam modul, agar bisa tersampaikan kepada anak-anak dan guru-guru tentang bagaimana cara menanggulangi satu masalah lingkungan ini, sampah plastik,” ujar Maya.
Ia menambahkan bahwa target keberlanjutan Unilever berfokus pada empat pilar utama: iklim, alam, plastik, dan mata pencaharian. Menurutnya, beberapa hal bisa dikendalikan langsung, misalnya melalui operasional pabrik. Namun, bagaimana produk digunakan dan dibuang oleh masyarakat tidak bisa sepenuhnya dikontrol sendiri.
“Karena itu, kami percaya bahwa perubahan harus dilakukan secara kolektif. Kami perlu melibatkan masyarakat, terutama generasi muda, untuk ikut aktif mengelola sampah mereka sendiri,” lanjutnya.
Di sinilah menurut Maya, peran program ASRI menjadi sangat penting. Edukasi di tingkat sekolah membuka ruang untuk membentuk kesadaran dan perilaku berkelanjutan sejak dini, yang secara tidak langsung juga mendukung target keberlanjutan perusahaan.
Lebih jauh, Maya mengatakan bahwa keterlibatan anak muda dalam program ASRI ini dapat mendorong lahirnya kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan.
Ia menyebut bahwa modul pembelajaran dalam program ini dirancang secara visual dan interaktif, termasuk praktik serta tantangan yang harus diikuti oleh peserta.
“Menurut kami, ini sangat efektif untuk membangun kebiasaan baru yang lebih peduli lingkungan,” ujar Maya.
Ia juga menyinggung pengalaman Unilever dalam mengembangkan program lain yang fokus pada pembiasaan perilaku positif anak muda, seperti kampanye sikat gigi, cuci tangan, dan buang sampah pada tempatnya.
Hasilnya menunjukkan adanya perubahan perilaku, terutama untuk kebiasaan menyikat gigi dan cuci tangan, meskipun tantangan masih terasa dalam aspek pengelolaan sampah.
“Kalau di sekolah masih oke, karena banyak temannya. Tapi masalahnya muncul ketika mereka pulang ke rumah. Begitu sampai rumah, mereka nggak lagi buang sampah pada tempatnya,” jelas Maya.
Ia menyoroti bahwa salah satu penyebabnya adalah anak-anak jarang dilibatkan dalam pengelolaan sampah di rumah. Menurut Maya, masih banyak orang tua, khususnya ibu yang meminta anak cukup meletakkan sampah di dapur, sementara sisanya dibereskan sendiri oleh orang tua.
Baca juga: 4 Langkah Berkelanjutan Unilever, Tekan Konsumsi Plastik hingga Ambisi Capai NZE
Karena itu, ia menekankan pentingnya mengedukasi orang tua agar perubahan perilaku anak juga didukung oleh lingkungan keluarga.
Selain itu, Maya mengakui tantangan lain yang tak kalah besar adalah menarik minat anak muda untuk belajar tentang isu lingkungan. Banyak dari mereka yang belum menganggap isu ini menarik untuk dipelajari.
“Tantangan lainnya adalah bagaimana mendapatkan atensi mereka untuk mempelajari tentang isu lingkungan ini,” ujarnya.
Untuk itu, Maya bersama KG Media terus mengembangkan metode pembelajaran yang atraktif, termasuk melalui acara langsung seperti roadshow yang dirancang agar sesuai dengan gaya dan minat anak muda.
“Hal ini diharapkan dapat menarik atensi mereka. Menjadi sesuatu yang mereka anggap keren untuk dibicarakan, sehingga mereka mau untuk belajar bersama untuk menjaga lingkungan secara berkelanjutan,” pungkas Maya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya