Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi

Kompas.com, 12 Agustus 2026, 14:49 WIB
Hotria Mariana,
Aditya Mulyawan

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) memiliki posisi penting dalam perekonomian Indonesia. Besarnya jumlah pelaku usaha membuat sektor ini turut menggerakkan roda ekonomi sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Januari 2025 mencatat terdapat lebih dari 64 juta UMKM di Indonesia. Sektor tersebut berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Data ini menunjukkan bahwa pengembangan UMKM memiliki dampak yang luas.

Perannya pun tidak sebatas menggerakkan aktivitas ekonomi. Sejumlah UMKM kini turut menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dekat dengan masyarakat, mulai dari pemberdayaan komunitas hingga penanganan masalah lingkungan.

Momentum Hari UMKM Nasional yang diperingati setiap 12 Agustus menjadi kesempatan untuk melihat lebih jauh peran tersebut. Dengan inovasi dan model usaha yang tepat, UMKM dapat berkembang sekaligus menciptakan dampak sosial dan lingkungan secara berkelanjutan.

Hal itu tergambar dari perjalanan Direktur Perkumpulan Arta Jaya, Armawati Chaniago. Organisasi tersebut lahir dari kepeduliannya terhadap persoalan sampah dan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.

Sejak 2015, Armawati melihat bahwa pengelolaan sampah yang optimal dapat memberikan manfaat lebih luas. Sampah yang sebelumnya dianggap sebagai masalah dapat diolah dan dikembangkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.

Mengubah sampah jadi peluang ekonomi

Perjalanan Armawati di bidang pengelolaan sampah bermula dari persoalan yang ditemukan di lingkungan sekitarnya. Sampah menumpuk, sementara kesadaran masyarakat untuk mengelolanya masih terbatas.

Armawati menangkap adanya peluang untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang memberikan manfaat bagi masyarakat, alih-alih melihat kondisi tersebut semata sebagai persoalan lingkungan.

Perlahan, kawasan yang sebelumnya identik dengan tempat pembuangan sampah berhasil ditransformasi menjadi pusat pengelolaan berbasis bank sampah.

Konsepnya tidak berhenti pada aktivitas mengumpulkan sampah. Kelompok bank sampah yang berada dalam pembinaan Armawati mengelola sampah dari berbagai sumber, seperti permukiman, kawasan pariwisata, hingga bank sampah unit di tingkat kabupaten dan kota.

Sejumlah jenis sampah yang masih memiliki potensi pemanfaatan kemudian diolah kembali untuk berbagai kebutuhan. Bahkan, barang retur yang masih dapat dimanfaatkan juga diolah, salah satunya sebagai pakan ternak.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana sampah dapat ditempatkan sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai. Pengelolaan yang tepat pada akhirnya dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus membuka aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat.

Tim Perkumpulan Arta Jaya beraudiensi ke Kadin Medan untuk mengenalkan berbagai produk hasil olahan sampah.  
Dok. Istimewa Tim Perkumpulan Arta Jaya beraudiensi ke Kadin Medan untuk mengenalkan berbagai produk hasil olahan sampah.

Memberdayakan puluhan ribu masyarakat lewat bank sampah

Perjalanan yang dimulai dari kepedulian terhadap persoalan lingkungan itu terus berkembang. Saat ini, jaringan yang dibina Armawati telah mencakup 117 bank sampah dan memberdayakan sekitar 50.000 anggota masyarakat.

Keterlibatan perempuan juga menjadi bagian penting dalam ekosistem tersebut. Lebih dari 70 persen bank sampah yang berada di bawah pembinaan Armawati dikelola oleh perempuan.
Bagi Armawati, keterlibatan perempuan dalam menjaga lingkungan memiliki makna personal. Perannya sebagai seorang ibu menjadi salah satu alasan yang mendorongnya bergerak di bidang pengelolaan sampah.

“Saya tergerak dalam pengelolaan sampah ini juga karena peran saya sebagai seorang ibu. Selain mempersiapkan masa depan yang baik bagi anak-anak saya, saya ingin mereka tumbuh di lingkungan yang bersih dan sehat,” ujar Armawati dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (11/8/2026).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau