JAKARTA, KOMPAS.com - Senior Economist World Bank, David Kaczan, mengatakan bahwa pihaknya memiliki tiga prioritas guna menekan polusi udara di Indonesia.
Pertama, berinvestasi ke proyek pengendalian polusi udara.
Terkait hal itu, David menyampaikan, saat ini Bank Dunia tengah menganalisis 30 fasilitas industri dan membandingkannya dengan teknologi penurunan polusi yang digunakan.
"Dengan investasi sekitar 50–60 juta dollar AS dalam belanja modal, kami bisa mengurangi polusi udara di wilayah Jakarta hingga 19 persen. Menurunkan emisi sebesar 19 persen dengan biaya 55 juta dollar AS menurut saya adalah investasi yang sangat baik," ujar David dalam acara yang digelar Clean Air Asia di Jakarta Pusat, Selasa (22/7/2025).
Baca juga: Polusi Udara Kian Parah, Pemerintah Didesak Terapkan Baku Mutu Nasional
Prioritas selanjutnya, merancang skema pembiayaan yang dapat menarik dana swasta dan mendorong berbagai instansi pemerintah bekerja sama dalam mengatasi tantangan polusi udara.
David tak menutup kemungkinan adanya insentif bagi pihak yang terlibat. Sejauh ini, Bank Dunia juga mendukung proyek pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup.
"Kami bekerja sama dengan rekan-rekan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan sebenarnya ini ditentukan oleh roadmap yang sedang mereka susun. Karena tidak ada proyek milik bank, yang ada hanyalah proyek milik pemerintah, dan bank hanya mendukung proyek pemerintah," jelas dia.
Ketiga, Bank Dunia juga mengutamakan dampak dari upaya mengatasi polusi udara. Di Asia, pembiayaan terbukti membantu perbaikan kualitas udara.
Baca juga: Kendaraan Bermotor Bisa Sumbang 57 Persen Polusi Udara saat Kemarau
"Dalam kasus Beijing, jenis pembiayaan yang digunakan memang sangat krusial terhadap hasil yang diperoleh. Hasilnyua, terjadi penurunan sekitar 40 persen PM 2.5 dalam lima tahun," tutur David.
Pihaknya turut mengucurkan dana ke Meksiko, Santiago, Peru, Vietnam, Turki, Mesir, hingga Pakistan. Di Turki, pembiayaan dari Bank Dunia, dana publik, dan swasta digunakan untuk mengatasi buruknya udara.
Dalam dua dekade terakhir, polusi udara di Turki meningkat drastis, yang diperparah masifnya ekspor ke Eropa. Alhasil, pemerintah Turki membentuk lembaga keuangan dengan skema investasi sebesar 400 juta dollar AS.
"Fasilitas ini bisa memberikan pinjaman lunak kepada perusahaan-perusahaan yang perlu mematuhi regulasi baru tersebut. Yang sangat penting adalah, sebelumnya perusahaan-perusahaan ini tidak bisa mendapatkan jenis pembiayaan yang mereka butuhkan," ucap David.
"Fasilitas seperti ini, yang memberikan pinjaman lunak dalam jangka panjang, memungkinkan perusahaan meminjam dengan suku bunga yang wajar dan mematuhi peraturan yang ada," imbuh dia.
Baca juga: Polusi Udara Kian Parah, Pemerintah Didesak Terapkan Baku Mutu Nasional
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya